CALISTUNG: Kapan Diajarkan? (1)




 

Oleh : M. Arfan Muammar

Saya seringkali dilema. Ketika banyak pendidik bertanya. Anak TK apa sudah boleh diajari membaca? Jawaban atas pertanyaan ini saya tidak dapat dengan tuntas menjawabnya. Lantaran sebagian sekolah dasar membuat tes masuk sekolah dengan membaca, menulis dan menghitung (calistung). Namun, dalam kurikulum nasional sendiri, calistung baru diajarkan pada Sekolah Dasar.

Beberapa teman dan kolega saya tanya. Kapan mereka mengajari anaknya Calistung?. Sebagian menjawab saat SD. Dengan alasan bahwa anak yang diajari Calistung saat SD memang diawal mengalami kesulitan dalam membaca. Namun kesulitan itu hanya dihadapi dalam kurun waktu 3 bulan pertama. Pada bulan keempat dan seterusnya, mereka justru dapat lebih baik bacaanya. Dibanding dengan mereka yang sejak awal masuk SD sudah dapat membaca.

Dalam perjalanan kereta Jember-Surabaya. Saya menemukan jawabannya dalam bukunya Dr. Taufiqi Bravo yang berjudul “Hypnoteaching and Hypnotheraphy for Brilliant Kids”. Bahwa, usia anak-anak dibagi menjadi dua. Yakni usia 1-6 tahun yang disebut dengan istilah “Early Childhood” atau masa kanak-kanak awal. Dan usia 7-12 tahun yang disebut dengan istilah “Late Childhood” atau masa kanak-kanak akhir.

Havighurst (1972) menjelaskan bahwa perkembangan periode “Early Childhood” meliputi: 1). belajar berjalan, 2). belajar berbicara, 3). belajar memahami jenis kelamin, 4). mempersiapkan diri untuk membaca, 5). belajar membedakan tindakan yang benar dan salah, 6). belajar mengembangkan kesadaran.

Havighurst melanjutkan bahwa, kegiatan belajar membaca, menulis dan menghitung (M3) atau Calistung dalam istilah kita. Adalah tugas perkembangan masa berikutnya atau pada periode “Latechildhood”.

Diantara tokoh pendidikan yang sepakat dengan pendapat Havighurst adalah : Maria Montessory, Fredick Frobel, Piaget dan Elizabeth Hurlock. Mereka berpendapat bahwa tugas perkembangan anak masa awal “early childhood” melalui CBM (cerita, bermain dan menyanyi). Artinya Calistung tidak masuk ranah yang harus dipelajari pada masa itu.

Akan tetapi, saat ini. Banyak penelitian tentang gizi, tuntutan zaman dan orang tua, sehingga bermunculanlah teori yang mendobrak cara pandang lama dari Havighurt. Melalui strategi revolusi belajar (learning revolution), belajar menyenangkan (quantum learning), dan belajar cepat (accelerated learning) yang digagas oleh George Lazanova, Debby D Porter, Colin Rose dan Malcom J Nicholl.

Mereka berpendapat bahwa tidak ada kata terlalu dini untuk belajar apa saja. Bahkan belajar quantum fisika sekalipun tidak masalah jika dilakukan dengan cara yang tepat.

Lantas mana yang sebaiknya kita pilih?

Bersambung…..

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 318 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

1 Trackback / Pingback

  1. Menggugah Kesadaran – Rumah Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.