Membangun Jiwa Mandiri Sejak Dini




 

Oleh : Ihda Cinthya Rahayu 

Manusia merupakan makhluk terbaik yang diciptakan oleh Tuhan, manusia juga menjadi satu-satunya makhluk yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin hamparan bumi yang luas ini. Karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk menjadi khalifah dibumi. Manusia tidak akan mampu mengelola bumi, jika masih bergantung pada sesuatu yang seharusnya dipimpin. Jika kita tidak memiliki kemandirian dalam bersikap. Untuk itu dengan kemandirianlah kita sebagai manusia bisa menjalankan fungsi sebagai khalifah (pemimpin).

Untuk membangun jiwa mandiri harus memiliki tekad yang kuat, karena kemandirian tidak datang serta merta melainkan melalui proses yang panjang. Hanya manusia yang menghargai kemampuan dirinya yang akan menjadi mandiri. Sebaliknya, manusia yang terbiasa menghinakan kemampuan dirinya niscaya akan menjadi sosok individu yang lemah sepanjang masa. Mandiri bukan berarti sombong dan bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, karena pada hakikatnya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari bantuan orang lain, hanya saja kita harus berusaha terlebih dahulu sebelum mengandalkan orang lain. Sikap mandiri harus dibiasakan sejak kecil agar ketika beranjak dewasa sikap mandiri ini sudah mendarah daging dalam diri kita. Dalam hal ini, peran orang tua sangatlah berpengaruh pada pembentukan karakter anak terutama seorang ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya sebelum memasuki pendidikan formal dilembaga sekolah.

Perlindungan anak yang terlalu berlebihan dan begitu pula dengan pola terlalu memanjakan anak akan menjadi langkah kurang baik dalam menumbuhkan karakter mandiri dan akan membuat anak itu mudah bergantung pada orang lain, mudah menyerah dan cengeng. Anak tidak sempat untuk berpikir kritis ketika menghadapi sebuah masalah. Anak tidak dilatih untuk berpikir mandiri untuk mengatasi masalahnya sendiri. Orang tua selalu ikut campur dalam membantu anak mengatasi masalah sekalipun masalah itu sepele dan dapat diatasi oleh anak. Tentu saja hal demikian kurang baik dampaknya terhadap cara berpikir dan bersikap anak ketika mengahadapi masalah di kemudian hari.

Fakta disekitar, seringkali kita melihat betapa cengengnya anak yang tidak terbiasa berpikir dan bersikap mandiri sejak kecil. Ia lebih mudah menyerah dan mudah mengeluh, sering melibatkan orang tua dalam mengatasi masalah hidupnya, terbiasa menggantungkan orang lain. Hanya bisa mengeluh dan mengeluh tidak mau mencari jalan keluar permasalahanya tersebut. Orang yang terbiasa dimanja sejak kecil akan mudah sekali putus asa, dia tidak memiliki rasa percaya diri.

  1. Husnaini (2013:3) mengatakan sambat (bahasa Indonesia: mengeluh) adalah istilah untuk mengungkapkan suasana hati yang tidak mengenakkan. Saya sering menjumpai tipologi manusia yang hobi sambat: sedikit-sedikit sambat. Tipologi manusia inilah yang saya sebut “Tukang Sambat”. Inilah tipologi manusia Tukang Sambat. Kehadirannya jelas tidak menguntungkan dan hanya menjadi racun bagi lingkungan. Mengenaskan sekali nasibnya. Hendaknya kita menjauhkan diri dari perilaku semacam itu. Ibarat menempuh sebuah perjalanan, melewati jalan berkerikil atau berbatu adalah biasa. Tidak perlu disikapi secara berlebihan dengan selalu sambat Easy going sajalah. Demikian yang dicetuskan oleh Bapak M. Husnaini terkait tukang sambat, sikap mengeluh yang harus kita jauhkan dari diri kita. Sebaliknya, orang tua yang selalu menanamkan kemandirian pada anak sejak kecil sesungguhnya telah memberi modal besar pada anak untuk mengatasi masalah hidupnya dikemudian hari. Anak yang terbiasa hidup mandiri sejak kecil tidak akan mudah menyerah dan mengeluh, beda sekali dengan kehidupan seorang anak yang dari kecil selalu dimanja oleh orang tuanya. Orang yang mandiri akan berusaha dengan gigih untuk mengatasi masalahnya terlebih dahulu sebelum melibatkan orang lain. Dan akan menganggap masalah tersebut menjadi tantangan bagi dirinya. Sikap mandiri yang dimiliki anak sejak dini, jelas akan meringankan beban orang tua kelak. Orang tua merasa yakin dan optimis kalau anaknya mampu mengatasi masalah yang dihadapinya, baik masalah dengan dirinya sendiri maupun masalah dengan orang lain. Sikap mandiri akan membuat anak percaya diri dalam menghadapi masalahnya tanpa banyak melibatkan orang tua. Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih suatu keinginannya adalah karena dia tidak percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu menggapainya. Segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak kecil akan dapat dihayati dan berkembang menuju kesempurnaan.

Dengan hidup mandiri kita bisa mempermudah pekerjaan kita, dengan mandiri kita tidak akan mempersulit orang lain, selagi kita bisa kerjakan sendiri lebih baik kita lakukan sendiri, dengan mempelajari cara hidup mandiri kita akan dapat mendapatkan pengalaman berharga yang akan mendongkrak anda untuk mencapai kesuksesan di segala bidang. Namun perlu diketahui bahwa manusia sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan orang lain jadi mandiri bukan berarti sendiri, pahami makna arti hidup sesungguihnya agar kita dapat menjalani kehidupan dengan bahagia dan sukses.

Allah dan Rasulnya menganjurkan umat islam untuk berusaha dan bekerja. Apapun jenis pekerjaan itu selama halal, maka tidaklah tercela. Para nabi dan rasul juga bekerja dan berusaha untuk menghidupi diri dan keluarganya. Seorang muslim tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Karena hidup dengan bergantung kepada orang lain merupakan kehinaan. Dan hidup dari usaha orang lain adalah tercela. Malaikat jibril datang kepada Nabi saw kemudian berkata: ketahuilah, bahwa kemuliaan orang mukmin shalatnya di waktu malam dan kehormatannya adalah dengan tidak mengharapkan sesuatu kepada orang.”

Pengharapan hanya wajib ditujukan kepada Allah saja. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung, Allah-lah yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk. Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin , InshaAllah Allah akan memudahklan segala urusan kita termasuk rezeki kita, sebagaimana burung yang pagi hari keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, kemudian pada sore hari pulang dalam keadaan kenyang. Terlebih manusia yang telah mendapatkan kenikmatan dari Allah berupa akal, hati, panca indra, keahlian dan lainnya serta sebagaimana kemudahan, maka Allah akan memberikan rezeki kepadanya.

Dibawah ini, beberapa ayat dan hadits-hadits yang menganjurkan seorang muslim makan dari hasil usaha sendiri dan menjaga diri dari meminta-meminta kepada orang lain.

Allah berfirman:

Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah”. (Al Jumu’ah:10)

Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam ra, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang diantara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakaryang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka member atau tidak”. ( HR Bukhari, no. 1471).

Begitulah didikan dan arahan Rasul saw untuk menjadikan umatnya sebagai insan-insan terhormat dan terpandang, dan bukan umat yang lemah lagi pemalas. Islam mealarang umatnya bermalas-malasan. Islam itu sungguh mudah dan indah. Demikian adalah kemandirian dalam bekerja, namun sikap mandiri bukan hanya dalam bekerja saja, melainkan dalam belajar dan dalam mengatasi problematika kehidupan. Definisi mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain. Dengan tanggung jawab, kita bisa menunjukkan kemampuan kita untuk tidak bergantung kepada siapapun, kecuali kepada Allah.

Alangkah bahagianya kita sebagai intelektual muda yang memiliki jiwa mandiri, dengan sikap mandiri kita bisa menjadi percaya diri dan dengan mandiri pula kita bisa mengarungi hidup ini. Terutama kita sebagai mahasiswa yang notabenya sebagai calon penerus bangsa dan agent of change. Mahasiswa merupakan tingkatan paling tinggi seorang pelajar di dalam dunia pendidikan. Ia sudah menyandang predikat ‘maha’, bukan lagi sebagai siswa. Karena itu, mahasiswa dituntut menjadi calon manusia yang akademis, berintelektual, yang dapat mengayomi masyarakat. Tuntutan ini tidak terlepas dari tugas dan fungsi mahasiswa, yang di antaranya adalah sebagai agent social of change, agent of control, iron stock, dan juga sebagai moral force.

Selain memiliki tugas, fungsi dan peranan yang cukup penting dalam masyarakat, mahasiswa wajib memiliki sikap kemandirian, ketika seseorang sudah memiliki sikap kemandirian maka akan bisa mengatur hidupnya, memanajemen waktu dan mampu berpikir seacara mandiri tanpa bergantung kepada orang lain. Sikap ini sangat penting bagi mahasiswa, agar mampu menjadi manusia yang mandiri dan berdikari. Manusia yang mandiri tidak selalu bergantung pada orang lain tentang bagaimana mengatasi masalahnya (Parker, 2005:226)

Permasalahan yang muncul selama ini mengapa mahasiswa tidak memiliki sikap kemandirian, karena sudah terbiasa bergantung pada orang lain ketika mengerjakan tugas, tumbuh sikap pesimisme terlebih dahulu sebelum mengerjakannya, bisa dikatakan menyerah sebelum mencoba, mereka tidak memiliki rasa percaya diri. Hal ini membuat mahasiswa malas untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Pengalaman saya pribadi, saya mungkin tergolong anak yang kurang mandiri, karena saya terbiasa dimanja oleh orang tua saya, lalu saya memutuskan untuk masuk pondok pesantren, nah sejak saat itu saya mulai untuk hidup mandiri, karena tidak mungkin harus selalu bergantung pada orang tua. Dan sampai saat kuliah di Surabaya sikap kemandirian itu masih terbawa dalam diri saya. Seharusnya  orang tua mendidik anaknya mandiri sejak dini, supaya ketika besar tidak sering bergantung pada orang lain, sikap mandiri harus tertanam pada diri kita. Agar ketika sudah menyandang gelar mahasiswa, tidak sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus. Banyak hal yang patut dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mandiri, salah satunya adalah keberanian, keberanian mencoba dan keberanian memikul resiko, hanya dengan keberanian orang bisa bangkit untuk mandiri, lawan ketakutan dengan keberanian.

Orang yang mandiri akan lebih percaya diri, sehingga bisa melakukan pekerjaan yang lebih banyak, ucapannya lebih bermakna dan waktunya akan digunakan secara lebih efektif, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena orang yang mandiri memiliki kreasi tersendiri dalam hidupnya. Orang yang mandiri pasti akan bermanfaat bagi orang lain, Jiwa mandiri kunci harga diri. Kita harus belajar menikmati proses perjuangan, dengan perjuangan maka nilai kehormatan seseorang itu terwujud. Jangan sibuk untuk mencapai hasil yang maksimal karena Allah tidak pernah melihat hasil akhirnya, melainkan melihat proses dari perjuangan tersebut.

Dalam Islam, sikap kemandirian sangat dianjurkan kepada setiap manusia, supaya tidak selalu meminta bantuan orang lain. Bahkan sebagai muslim, harus bersedia membantu yang membutuhkan bantuan. Sebagaimana hadits nabi, bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Rasulullah Saw adalah sosok yang memiliki sikap mandiri. Sejak belia, Beliau sudah menjadi yatim piatu, dan hanya hidup dengan pamannya pada waktu itu. Namun tekat yang kukuh dari beliau untuk tidak sering bergantung kepada orang lain dan tekat untuk mandiri, menjadikan Rasulullah SAW mampu mengatasi segala kesulitan. Rasulullah Saw juga mengajarkan kemandirian untuk membentuk pribadi muslim yang mau berusaha keras, kreatif, tidak mau menjadi tumpuan orang lain. Suka bersedekah dengan harta yang dimilikinya, dan berusaha mengembangkan potensi diri (Gymnastiar, 2005: 26).

Ibnu Qoyyim pernah berkata, semestinya anak itu dijauhkan dari sifat malas, santai dan sering nganggur. Biasakan untuk bekerja, karena hal itu berakibat kejelekan dan akan menimbulkan penyesalan di kemudan hari. Dan jika orang itu rajin, maka akan mendapatkan hasil yang baik, di dunia maupun di akhirat kelak. Orang yang sering santai adalah dulunya termasuk orang yang lelah, kebahagiaan di dunia tidak bisa diraih dengan kita bersantai-santai. Rasulullah SAW selalu mengajarkan kita untuk menumbuhkan semangat dan tanggung jawab (Abdurrahman, 2006:215).

Allah dan Rasulnya mengajarkan umat islam untuk bekerja keras, tentunya sebagai mahasiswa dalam mengerjakan tugasnya harus bekerja dengan maksimal, jangan hanya berpangku tangan menunggu keajaiban yang datang dari langit tanpa mau berusaha terlebih dahulu. Sikap kemandirian memang harus dimiliki setiap orang, khususnya mahasiswa yang merupakan agent of change yang sudah memiliki pemikiran dewasa sudah sepantasnya membebaskan diri dari sikap ketergantungan pada orang lain. Mahasiswa saatnya membentuk sikap percaya diri akan segala hal, selalu berpikir positif untuk maju kedepan, selalu memotivasi diri sendiri dan yang terpenting adalah sennatiasa meneladani sikap kemandirian yang di ajarkan oleh Rasulullah saw. Intinya, kemandirian tidak membuat kita berbangga diri, tetapi harus membuat kita lebih memiliki harga diri. Proses kemandirian yang sejati harus membuat kita rendah hati.

Kita sebagai intelektual muda, tekankan sikap kemandirian dalam hidup kita jangan takut untuk mencoba karena gagal itu sudah biasa, bangkit dari kegagalan itu baru luar biasa. Jangan membuang waktu untuk hal yang tiada guna yang muda saatnya untuk berkarya.

 

Daftar Rujukan

Danuri.  Kemandirian Belajar. Bandung. Sinar Baru, 2010

Husnaini, M,  Keadilan Tuhan dalam Tulisan. Yogyakarta. Diandra Pustaka Indonesia. 2013

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama Republik Indonesia, Al-ghifari,2013.

https://uharsputra.wordpress.com/artikel-2/kemandirian-mahasiswa/

http://www.artikelsiana.com/2014/08/contoh-khotbah-membangun-jiwa-mandiri.html

 

TENTANG PENULIS

Ihda Cinthya Rahayu lahir di lamongan, 10 Desember 1997. Ia dilahirkan oleh ibu bernama Ramias dan Ayah bernama Ali Zubaidi blasteran Aceh dan Jawa. Sulung dari dua bersaudara ini menempuh pendidikan formal di TK ABA Takerharjo , MIM 03 Takerharjo, MTsM 07 Takerharjo, MA YKUI Maskumambang, dan sekarang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Sama sekali belum berpengalaman dalam bidang tulis menulis namun itu tidak membuat gadis 19 tahun ini patah semangat dalam mencoba menekuni dunia tulis menulis ini. Sangat menyukai pelajaran bahasa arab, hobby membaca dan bercita-cita menjadi guru agama. Kritik dan saran dapat dikirim ke email cinthya.rahayu19@gmail.com.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 358 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.