CALISTUNG; Kapan Diajarkan? (3) Habis




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Bagaimanapun juga. Walaupun dengan pilihan yang sama-sama beresiko. Tetap kita sebagai orang tua harus menentukan pilihan. Mengajari anak Calistung saat TK atau SD?

Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Dalam kaidah ushuliyah (entah cocok dalam kasus ini apa tidak). Ada kaidah yang berbunyi “idha ta’arodho mafsadaati, ruu’iya a’dhomuhuma dhororon biirtikaabi akhoffihima”. Jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama memiliki “madhorot”. Maka kita dianjurkan memilih pilihan dengan “madhorot” yang lebih kecil.

Tentu pilihan ini disesuaikan dengan konteks kapasitas dan kemampuan anak didik kita. Sama sekali kita tidak boleh mengatakan bahwa semua anak “sama”. Akan tetapi setiap anak itu “beda” bahkan “unik”.

Karena setiap anak ber”beda”. Maka setiap orang tua harus “mengenali” anaknya lebih dalam. Bagaimana kecenderungan otaknya (otak kanan atau otak kiri). Bagaimana gaya belajarnya. Auditori, Visual atau Kinestetik?

Mengenali anak lebih dalam. Dapat membantu orang tua lebih bijak menentukan sikap dalam mendidik anak. Termasuk menentukan kapan anak mulai diajarkan Calistung.

Anak yang dominan otak kanan memiliki karakteristik pola pikir yang subyektif, holistik, imajinatif, kreatif dan non-struktural atau fleksibel. Sedangkan anak yang dominan otak kiri memiliki karakteristik pola pikir yang obyektif, faktual, logis, rasional dan struktural atau terencana.

Tentu jika anak tidak suka berhitung. Susah menghafal. Lemah dalam analisis. Maka tidak seyogyanya orang tua memaksakan kehendak agar anak bisa pintar dalam hal tersebut. Tapi disisi lain, justru anak tersebut imajinatif. Kreatif. Suka menggambar. Sangat dimungkinkan bahwa anak tersebut dominan otak kanan dibanding otak kiri.

Demikian juga. Anak Visual lebih mudah menyerap informasi melalui visual teks dan gambar. Anak Auditori mudah menyerap informasi melalui Musik dan bahasa. Dan anak Kinestetik mudah menyerap informasi melalui gerakan dan sentuhan.

Artinya, jika anak kita merasa tertekan dalam belajar Calistung saat TK. Tentu orang tua tetap tidak boleh memaksakan hanya karena trend. Sebaliknya, jika anak justru “senang” belajar Calistung. Tentu tidak ada salahnya jika orang tua “tidak melarangnya”.

Antisipasinya, Jika memang orang tua memutuskan untuk “tidak mengajari” calistung di TK. Maka harapannya agar tidak memasukkan di SD yang mensyaratkan Calistung sebagai syarat masuk sekolah. Sehingga nantinya anak tidak kehilangan kepercayaan diri disaat teman-teman sekelasnya sudah bisa Calistung.

Demikian sebaliknya. Jika memang orang tua memutuskan untuk mengajari calistung di TK (tentu setelah mengenali anak lebih dalam). Maka harapannya agar anak dimasukkan pada SD yang memang mensyaratkan calistung di awal masuk sekolah. Dan tentu terus memotivasi untuk tetap rajin belajar. Sehingga tidak timbul rasa meremehkan terhadap pelajaran, yang berakibat pada keterlenaan dan lambat laun akan tertinggal dengan teman lainnya. Wallahua’lam Bi Ashowab

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 318 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.