Jangan Silau dengan Prestasi Sekolah! (2)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Mengingat kegiatan sekolah adalah proses pembelajaran. Maka sekolah yang berkualitas tentunya dilihat dari efektifitas proses pembelajarannya. Dalam pendidikan, salah satu cara dalam mengukur keefektifan tersebut adalah dengan menghitung indeks produktifitas.

Sebagaimana yang saya jelaskan pada bagian sebelumnya. Indeks produktifitas dapat dihitung menggunakan indeks produktifitas kompleks dan indeks produktifitas parsial.

Namun pada artikel ini, saya akan mencoba menghitungnya menggunakan indeks produktivitas parsial. Karena lebih simpel dan mudah dibanding indeks produktivitas kompleks.

Dalam konsep produktivitas parsial, perhitungan masukan didasarkan atas data kemampuan awal masuk sekolah. Bisa berdasarkan nilai NEM, bisa pula hasil tes intelegensi (IQ), dapat pula berupa nilai akhir kelulusan seperti UASBN atau UN.

Berikut contoh sederhana yang saya kutip dari Mutrofin “Otokritik Pendidikan” untuk membandingkan mana diantara dua SMP disebut berkualitas berdasar NEM dengan indikator indeks produktivitas.

Misalnya SMP-A menerima tiga orang murid dengan NEM SD-nya masing-masing 40. Karena NEM maksimal SD adalah 50, maka rata-rata indeks masukan adalah 120 : 150 x 100 = 80.

Selama tiga tahun menempuh pendidikan. Ketiganya lulus dari SMP-A dengan NEM masing-masing misalnya 55. Mengingat nilai NEM maksimal SMP adalah 60, maka indeks keluaran adalah 165 : 180 x 100 = 92.

Rasio antara keluaran dengan masukan (92 : 80) hasilnya = 1.15. Koefisien ini merupakan indeks produktivitas SMP-A di tahun ajaran berjalan.

Contoh lain, SMP-B menerima tiga siswa baru dengan NEM masing-masing 30. Maka rata-rata indeks masukan adalah 90 : 150 x 100 = 60. Setelah tiga tahun, mereka lulus dan memperoleh NEM masing-masing 55. maka indeks keluaran yang dihasilkan sama dengan SMP-A, 165 : 180 x 100 = 92.

Dengan demikian, indeks produktivitasnya, rasio keluaran dibandingkan masukan (92 : 60) = 1,53. Dari perhitungan itu tampak, SMP-B lebih produktif dibandingkan SMP-A. sebab indeks produktivitas SMP-B 1.53 lebih besar dibandingkan indeks produktivitas SMP-A yang hanya 1.15.

Menurut teori produktivitas, besaran indeks produktivitasnya menunjukkan bahwa SMP-B lebih berkualitas ketimbang SMP-A. Ini logis, sebab secara didaktis mengajar siswa yang kemampuannya relatif rendah, jauh lebih sulit ketimbang mengajar siswa yang kemampuannya relatif tinggi.

Dengan cara yang sederhana itu, kita bisa menentukan sekolah-sekolah berkualitas. Logika diatas mengisyaratkan bahwa. Tidak mudah mengantarkan anak from Zero to Hero dibanding hanya sekedar hero to Hero.

Seringkali kita “silau” dengan pencapaian seseorang, tapi abai terhadap proses yang membentuknya. Sama halnya kita “silau” terhadap prestasi sekolah tapi abai terhadap input dan prosesnya.

Hal yang penting dan perlu ditegaskan ialah, orangtua tidak bisa gegabah menyebut sekolah itu berkualitas hanya dengan lengkapnya fasilitas dan mahalnya biaya. Sehingga orang tua diharapkan dapat menentukan sekolah yang terbaik dan berkualitas bagi anaknya, dengan pertimbangan di atas.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 351 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.