Kelas KOMPETISI atau Kelas INKLUSI? (1)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Saya atau bahkan pembaca artikel ini yang pernah duduk di sekolah-sekolah favorit. Atau setidaknya sekolah dengan jumlah kelas lebih dari satu. Tentu merasakan klasifikasi kelas berdasarkan kemampuan kognitif siswa.

Anak dengan kapasitas kemampuan kognitif tinggi akan ditaruh pada kelas A. Kelas B diisi oleh anak dengan kapasitas kemampuan kognitif sedang. Sedang kelas C diisi oleh anak dengan kapasitas kemampuan yang pas-pasan. Demikian seterusnya menyesuaikan jumlah kelas yang ada.

Alasan klasik pengklasifikasian ini adalah “Kompetisi”. Ya. Kompetisi. Anak akan berjibaku dan berlomba-lomba agar bisa menduduki kelas yang mentereng itu (Kelas A). Anak akan termotivasi. Terus belajar demi mengejar kelas A. Jika diajukan pertanyaan : Kamu sekarang kelas berapa? dengan bangga anak akan menjawab “saya sekarang duduk di kelas 3A”.

Saya punya seorang teman namanya “Rudy Widodo”. Ketika di pesantren dia selalu duduk di kelas B (kelas paling tinggi memang B, tidak ada A). Di dalam kelas dia selalu tidur. Bahkan dalam sebuah pengakuan di facebooknya nya. “80% waktu di kelas saya gunakan untuk tidur. Hanya 20% yang saya gunakan untuk “tidak tidur”. Yaitu saat jam pelajaran wali kelas dan saat pelajaran guru yang Killer”.

Walau 80% digunakan untuk tidur. Dia dapat lulus dengan predikat “mumtaz” / “cum laude”. Ini anak ajaib. Kapan belajare coba?.

Saya sendiri pernah merasakan duduk di kelas atas (kelas 3B sama Rudy Widodo) dan di kelas bawah (kelas 4H). Turun drastis. Terjun bebas. Sangat berbeda sekali. Di kelas atas, saya merasa paling bodoh sendiri (maklum otak pas-pasan). Kalau di kelas bawah, justru saya merasa paling pintar sendiri (sok pintar iya). Jika di kelas atas. Guru cukup mengajarkan sekali. Murid sudah faham. Akan tetapi jika di kelas bawah. Guru mengulangi sampai lima kali saja murid belum tentu faham.

Dalam kelas kompetisi. Komposisi kelas adalah homogen secara kognitif. Guru dimudahkan dalam menentukan metode pembelajaran (karena homogen). Anak semakin terpacu dan termotivasi dalam belajar (karena berlomba-lomba menduduki kelas A).

Bagaimana dengan kelas Inklusi?

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 321 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.