Kelas KOMPETISI atau Kelas INKLUSI? (3)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Kelas Inklusi adalah kelas terbuka. Muridnya Sangat heterogen. Mengajar di kelas inklusi tidak semudah mengajar di kelas kompetisi. Karenanya dibutuhkan strategi dan metode pembelajaran khusus. Kali ini saya menggunakan UDL (Universal Desaign Learning) sebagai alternatif metode pembelajarannya.

UDL adalah sebuah pembelajaran untuk anak yang penuh dengan keberagaman. Sehingga RPP-nya pun didesaign dengan konsep yang bersifat universal. Artinya semua anak dalam satu kelas dengan kapasitas dan kemampuan yang berbeda dapat menangkap keseluruhan materi tanpa ada yang dirugikan.

Peran guru dalam pembelajaran UDL sangat besar. RPP-nya hanya satu, namun dapat digunakan pada siswa yang sangat beragam, beragam dari aspek kognitif maupun aspek non-kognitif. Siswa dianggap memiliki kemampuan yang sama, bergantung bagaimana guru dapat mengarahkan dan membinanya.

Bagaimana cara kerjanya?

Misalkan dalam satu mata pelajaran ada lima kompetensi dasar. Disetiap kompetensi dasar ada enam sampai tujuh indikator. Tujuah indikator ini misalkan harus ditempuh dalam dua kali tatap muka. Taruhlah dalam satu kelas tersebut ada tiga macam kemampuan anak. Anak yang cerdas, Anak yang pintar dan Anak yang tidak pintar.

Maka ada tiga step atau tahapan yang perlu ditempuh. Namun tahapan ini tidaklah kaku. Sangat bergantung dari kondisi kelas yang ada. Step pertama adalah ketika guru menyampaikan materi pertama kali, maka anak-anak yang tergolong cerdas akan dengan cepat menangkap materi. Sedang teman yang lain, yaitu yang pintar dan yang tidak pintar akan merasa butuh pengulangan atau penjelasan lebih detail.

Step kedua, anak cerdas yang sudah faham pelajaran, diberi pengayaan tambahan sambil menunggu teman-teman yang pintar dan tidak  pintar dipahamkan lagi oleh guru. Dengan harapan anak yang cerdas tidak mengganggu anak yang belum faham. Disamping itu anak yang cerdas tidak merasa jenuh dengan pengulangan-pengulangan pelajaran yang sudah mereka fahami.

Ketika guru menjelaskan pelajaran yang kedua kali. Anak yang pintar sudah dapat memahami pelajaran. Sedangkan anak yang tidak pintar mungkin masih belum faham.

Step ketiga, anak yang cerdas sudah selesai mengerjakan pengayaan. Maka anak yang cerdas diminta membantu memahamnkan temannya yang tidak pintar. Sedangkan anak pintar yang sudah faham pada step kedua, diberi tugas pengayaan seperti anak cerdas sebelumnya, namun dengan kadar pengayaan yang berbeda.

Step keempat, anak cerdas sudah selesai memahamkan anak yang tidak pintar dan anak pintar sudah selesai mengerjakan pengayaan.

Bagaimana dengan pengayaan anak yang tidak pintar? Pengayaan anak yang tidak pintar dikerjakan dirumah sebagai PR untuk dikumpulkan keesokan harinya. Tentu dengan tingkat kesulitan yang berbeda dengan anak cerdas dan anak pintar.

Dengan model seperti ini. Tujuh indikator tercapai dengan secara bersama-sama. Baik yang cerdas, pintar maupun tidak pintar, tanpa harus membuat anak yang cerdas jenuh dan kehilangan waktu. Disisi lain, ada aspek kepedulian yang tinggi, anak yang cerdas tidak merasa sombong dan anak yang tidak pintar tidak merasa minder. Semua bekerja sama, semua saling membantu. Jika ada teman yang tidak faham pelajaran dia peduli. Membantu memahamkan dan pada akhirnya semua bisa tuntas dalam pembelajaran.

Lantas mana yang harus dipilih? Kelas Kompetisi atau Kelas Inklusi?

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 321 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.