Kelas KOMPETISI atau Kelas INKLUSI? (4) Habis




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Pada bagian pertama, saya menjelaskan tentang kelas kompetisi. Pada bagian kedua dan ketiga, saya menjelaskan tentang kelas inklusi. Pada bagian akhir ini, saatnya kita menentukan. Mana yang harus kita pilih. Tentunya pembaca harus terlebih dahulu menelaah dan memahami bagian satu hingga tiga dari tulisan ini.

Kelas kompetisi memang mendorong siswanya untuk berkompetisi. Selama kompetisinya dalam  hal-hal yang baik, tentu boleh-boleh saja. Namun di luar itu, kelas kompetisi seringkali menyisakan egoisitas dan ketidaksimpatian terhadap sesama teman. Apalagi jika teman tersebut adalah rival atau kompetitornya.

Jika sang kompetitor tidak masuk kelas karena sakit, tentu rivalnya senang, karena kesempatan semakin terbuka lebar.  Dia berharap juara kelas dapat diraihnya, setelah sekian kali abstain dari pemenang. Orang-orang sekolah akan memuji dan mengelu-elu kannya. Dia tidak sabar mengangkat tropi kebanggan sebagai juara satu sekolah dihadapan para wali murid dan guru. “Bagaimanapun juga, saya yang harus Juara”. Ujar dia.

Maka jangan heran, jika anggota-anggota di parlemen kita saling sikut-sikutan. Saling jatuh menjatuhkan. Jika sang rival mendapat sanjungan dan penghargaan atas prestasi, maka ia murung, seraya mengumpat didalam hati “mestinnya saya yang lebih pantas mendapat penghargaan itu”.

Saya jadi teringat, ketika kuliah bersama Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, sekitar tahun 2011. “gimana mau maju, wong pemilihan Dekan saja sikut-sikutan, gak wawo sampe setahun”, kira-kira begitu ujar beliau.

Saya tidak menerka, juga tidak menebak. Tapi karakter seperti itu adalah karakter kelas-kelas kompetisi. Sejak kecil diajari untuk berkompetisi, diajari untuk menjadi yang pertama. Tidak peduli yang lain tertinggal, yang penting saya harus yang pertama, saya harus juara. Begitu tekad yang tertanam dalam hati.

Ketika Valentino Rosi jatuh dalam sebuah kompetisi di Sirkuit. Pembalap yang lain tidak kemudian berhenti, membantu Rosi dan kembali melanjutkan kompetisi. Pembalap yang lain justru semakin menaikkan kecepatan. Kalau sempat direkam, mungkin kira-kira begini ungkapan pembalap yang lain : “mumpung Rosi jatuh, ini kesempatan saya untuk bisa menjuarai kompetisi ini”.  Hehe

Berbeda halnya dengan kelas Inklusi. Kelas inklusi mengedepankan kepedulian, empati dan simpati.  Jika siswa ditanya “kamu kelas berapa”?. Dia dengan biasa menjawab “saya kelas A”. Tidak ada kelas tertentu yang Istimewa. Tidak ada kelas tertentu yang bergengsi dari yang lain. Semua kelas sama.

Karakter peduli terhadap siswa yang lemah, menolong sesama teman yang membutuhkan, betul-betul ditanamkan dalam kelas ini. Inilah semangat kelas inklusi. Masuk bareng, lulus bareng. Jika ada yang tidak faham, siswa yang lain membantu memahamkan. Jika ada siswa yang jatuh terperosok, siswa yang lain membantu mengangkatnya.

Diantara ciri negara dengan karakter inklusi adalah, jika ada salah seorang pejabat yang tersangka korupsi, maka dia akan mengundurkan diri, sebagai bentuk rendah diri dan tahu diri. Berbeda dengan yang terjadi di negeri ini. “Bangga atas status tersangka rival atau kompetitornya”.  Tapi sang “tersangka” juga tidak tahu diri. Tidak mengundurkan diri sebagai tanda rendah diri dan tahu diri. Malah terus melaju kencang mengikuti kompetisi.

Yaah, begitulah negeri ini. Anda bisa menilai dan memilih sendiri. Kelas kompetisi atau kelas Inklusi.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 322 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.