Dilema Evaluasi Pembelajaran (3)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Sejak 2001. EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) diganti menjadi UAN (Ujian Akhir Nasional). Secara nomenklatur. Ada perbedaan yang menonjol. EBTANAS menggunakan istilah “Evaluasi”. Sedangkan UAN menggunakan istilah “Ujian”.

Ujian adalah bagian dari jenis penilaian Tes. Dan penilaian adalah bagian dari Evaluasi. Namun secara “rasa”. Istilah “evaluasi” jauh lebih smooth dan bersahabat. Dibanding istilah “ujian” yang  jauh lebih “menyeramkan” dan cukup membuat dag dig dug. Bahkan berpotensi depresi.

Secara sederhana kata ujian mengandung makna “menguji” seseorang atau sesuatu. Apakah yang diuji memenuhi kriteria yang sudah ditentukan atau belum. Ujian ini berdampak pada lulus atau tidaknya peserta yang diuji. Lulus tidaknya yang diuji akan menentukan kelanjutan sejarah hidup “seseorang” yang diuji.

Ujian hanya mengukur kemampuan peserta didik, tidak lebih. Ujian tidak mempertanyakan bagaimana kondisi sosial, ekonomi, psikologi, sarana-prasarana, lokasi tempat belajar dan tempat ujian peserta didik. Penguji hanya mau tahu, apakah peserta ujian mampu menjawab soal-soal ujian atau tidak. Jika mampu maka akan diberikan sertifikat (ijazah) lulus. Jika tidak, maka peserta ujian menentukan nasibnya sendiri.

Sedangkan “evaluasi” memberi makna sebuah keinginan moral untuk memperbaiki. Evaluasi sederhananya bisa dimengerti sebagai proses refleksi untuk melihat apa yang sudah dilakukan. Menilainya mana yang positif perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Dan mana kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Proses evaluasi memang kadang menyakitkan. Namun bila mau diterima dengan terbuka. Akan menghasilkan perkembangan yang sungguh baik

Secara didaktik. UAN belum memenuhi fungsi-fungsi yang menjadi syarat kontrol dan penilaian hasil belajar siswa. Utamanya fungsi pedagogis. UAN hanya difokuskan pada fungsi kemasyarakatan. Yaitu pemberian sertifikat standar mutu untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya atau dunia kerja. Sedang EBTANAS. Dengan kekuatan evaluasinya, dinilai lebih memenuhi fungsi pedagogis dibanding UAN.

Dalam UAN. Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan berfungsi semata-mata sebagai penentu standar dan penguji, apakah standar itu terpenuhi atau tidak. Pemerintah tidak berada pada posisi ikut diuji. Oleh karena itu tidak bisa dituntut tindakan apa-apa setelah terselenggaranya UAN.

Namun dalam EBTANAS. Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan nasional, termasuk bagian yang ikut dievaluasi. Maka pemerintah tetap terkait dengan hasil EBTANAS. Terkait artinya bertanggung jawab atas perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Dengan memberikan tindakan kongkrit seperti penentuan kebijakan dan segala hal yang mengikutinya demi terjaminnya kualitas pendidikan nasional.

Pergesaran nomenklatur memang tidak begitu signifikan secara makna. Namun jika perubahan nomenklatur diiringi dengan perubahan substansi dan model evaluasi, tentu menyisakan sejumlah masalah. Bagaimana masalah itu? Khususnya evaluasi pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?.

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 281 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*