Dilema Evaluasi Pembelajaran (4)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di setiap mata pelajaran, khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tidak cukup hanya berbunyi “siswa mampu memahami dan mengerti”. Tapi lebih dari itu. Yaitu “siswa mampu melaksanakan dan mengaplikasikan”.

Pembelajaran Agama Islam di sekolah disampaikan oleh sebagian guru secara statis-indoktrinatif-doktriner dengan fokus utama kognitif siswa. Guru sibuk mengajarkan pengetahuan dan peraturan agama. Akan tetapi cara menjadi manusia yang baik, penuh kasih sayang, menghormati sesama, peduli pada lingkungan, membenci kemunafikan, kebohongan dan sebagainya, justru luput dari perhatian.

Dalam melaksanakan kegiatan evaluasi, dapat digunakan dua jenis teknik, yaitu teknik tes dan non-tes. Teknik tes biasanya digunakan untuk mengumpulkan data terkait aspek kemampuan kognitif siswa, misalnya tes hasil belajar, tes inteligensi, tes bakat khusus, dan sebagainya. Sedangkan teknik non-tes digunakan untuk menilai aspek afektif dan psikomotorik siswa. Misalnya minat, pendapat, kecenderungan dan lain-lain. Teknik non-tes biasanya menggunakan observasi dalam pengumpulan datanya.

Evaluasi terkait aspek kognitif selama ini sudah berjalan. Namun evaluasi pada aspek afektif dan psikomotorik siswa belum sepenuhnya berjalan. Kalaupun dilakukan, itupun tidak menjadi tolak ukur kelulusan siswa. Artinya, walaupun siswa tersebut nakal, tapi memiliki nilai pelajaran yang bagus, maka ia akan tetap naik kelas. Sebaliknya, siswa yang nurut dan baik secara sikap. Bisa saja “tidak naik kelas” jika nilai pelajaran rendah.

Gontor pada tahun 90-an, masih menerapkan punishment fisik. Saya ketika masuk di Gontor sekitar tahun 98-an. Masih mengalami bentuk punishment tersebut. Maka tidak jarang santri mengalami bekas-bekas memar di kaki karena mendapat punishment. Namun, pada awal tahun 2000-an, punishment fisik kemudian dievaluasi.

Santri yang melanggar tidak boleh ditindak menggunakan punishment fisik. Akan tetapi menggunakan punishment dalam bentuk lain. Sempat terlihat “bagian keamanan” dan “pengasuhan santri” masih mencari pola baru punishment yang mendidik dan tetap membuat jera santri, sehingga disiplin bisa ditegakkan. Walhasil, lahirlah apa yang disebut “buku hitam”. Entah sekarang dinamakan apa. Yang jelas buku tersebut mencatat semua pelanggaran santri. Dan catatan pelanggaran tersebut akan menjadi pertimbangan dalam kenaikan kelas santri.

Ini terbukti pada diri saya sendiri. (he.he). Pada waktu itu, saya berhasil duduk di kelas paling atas, yaitu kelas 3 B. Kelas ini diisi oleh santri-santri yang pintar bahkan bisa dibilang jenius. Namun pada kelas 4 KMI. Kelas saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Dari kelas 3B turun menjadi kelas 4H. Jatuh enam tingkat ke bawah. Akan tetapi, jika dibandingkan secara nilai komulatif. Mestinya saya duduk di kelas 4D. Hanya turun dua tingkat. Karena teman-teman saya yang duduk di kelas 4D memiliki nilai yang sama besar dengan nilai komulatif yang saya miliki.

Merasa tidak terima, saya kemudian memberanikan diri untuk menanyakan hal ini kepada pihak KMI. Terkait nilai komulatif saya yang setara dengan teman-teman di kelas 4D, tapi justru saya malah duduk di kelas 4H?. Pihak KMI dengan mudah mengatakan “coba pikirkan pelanggaran apa saja yang pernah kamu perbuat?”. Saya pun kembali ke asrama dengan badan yang lunglai. He.he.

Itulah yang saya maksud. Evaluasi afektif menjadi pertimbangan kenaikan kelas santri. Namun apakah saat ini, di sekolah-sekolah kita, evaluasi ranah afektif juga menjadi pertimbangan kenaikan kelas siswa? ataukah masih menggunakan pertimbangan evaluasi aspek kognitif saja?

Beranikah sekolah menunda kenaikan siswa yang memiliki nilai evaluasi afektif buruk tapi nilai evaluasi kognitifnya bagus? Begitu juga sebaliknya. Karena SKL mata pelajaran agama bukan hanya “siswa mampu memahami dan mengerti” tapi “siswa mampu melaksanakan dan mengaplikasikan”.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 314 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.