Kekerasan Simbolik di Sekolah (3)




Source : bukalapak.com

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Pertanyaan di tulisan lalu adalah : Habitus-habitus seperti apa yang ditampilkan oleh kelas dominan (kelas atas) maupun kelas terdominasi (kelas bawah) di BSE?. Sebelum lebih jauh memaparkan bentuk-bentuk habitus tersebut, ada baiknya jika dikaji lebih dalam makna habitus dalam perspektif Bourdieu.

Sejatinya, habitus bukanlah konsep yang diciptakan Bourdieu. Bourdieu hanya memperluas kembali konsep habitus yang telah dikemukakan oleh Marcel Mauss. Walaupun konsep ini sebenarnya juga telah muncul dalam karya Aristoteles, Norbert Elias, Max Weber, Durkheim, Hegel dan Edmund Husserl dengan istilah yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama.

Pada awalnya, habitus diistilahkan dengan lexis, kemudian diterjemahkan oleh Thomas Aquinas ke dalam bahasa Latin dengan istilah habitus. Habitus dapat dirumuskan sebagai sebuah sistem disposisi-disposisi (skema-skema persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama). Habitus juga merupakan gaya hidup (lifesyle), nilai-nilai (values), watak (dispositions) dan harapan (expectation) kelompok sosial tertentu.

Habitus kelompok tertentu yang dipaksakan untuk dilakukan oleh kelompok lain itulah yang disebut kekerasan simbolik (symbolic violence). “Pemaksaan” ini baik dalam bentuk terstruktur, masif dan sistematis ataupun tidak.

Habitus kelas dominan yang kini sudah mewabah di TK maupun SD adalah habitus “Perayaan Ulang Tahun”. Perayaan ulang tahun yang dahulu ketika saya masih kecil tidak mengenalnya. Kini perayaan ulang tahun menjadi semakin mewah dan meriah.

Beberapa tahun yang lalu perayaan ulang tahun sebatas dirayakan di rumah dengan mengundang teman-teman sekolah. Namun, semakin tahun perayaan semakin bergengsi, tidak mau di rumah, tapi di KFC atau MC Donald. Bahkan sebulan yang lalu, anak saya mendapat undangan perayaan ulang tahun temannya di Swimming Pool. Selain tiup lilin dan snack yang dibagikan, semua anak gratis berenang.

Tentu akan ada rasa iri terhadap teman-temannya yang merayakan ulang tahun, seraya berkata : “yah, aku pengen seperti temenku Lia, meniup lilin dan dapat hadiah banyak”. Jika anak tersebut menggerutu pada seorang ayah yang secara financial berlebih, tentu it’s no problem (walaupun dalam aspek agama perlu kembali didiskusikan). Tapi jika anak tersebut mengadu pada seorang ayah yang kebetulan secara financial pas-pasan. Tentu akan menjadi problem.

Ya, itulah contoh habitus kelas dominan yang sudah mewabah di lingkungan kelas terdominasi. Sehingga kelas terdominasi berusaha keras, dengan sekuat tenaga agar bisa mengikuti habitus tersebut. Ada perasaan gengsi dengan teman-temannya jika ia tidak bisa mengikutinya. Ironisnya, untuk dapat mengikuti habitus-habitus itu, para orang tua rela merogoh koceknya lebih dalam, bahkan sangat dalam. Mereka rela menggadaikan barang berharganya atau gali lobang tutup lobang.

Pada sesi kali ini sepertinya saya terpaksa harus mengulang pertanyaan di awal, yang juga merupakan pertanyaan Senin lalu yaitu : Habitus-habitus seperti apa yang ditampilkan oleh kelas dominan (kelas atas) maupun kelas terdominasi (kelas bawah) di BSE?.

Untuk kali ini saya janji, akan memberikan jawabannya Senin depan. Suweer. Hehe.

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 318 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.