Kekerasan Simbolik di Sekolah (4)




source : pewepaeyazid.blogspot.co.id

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Bahasa merupakan salah satu alat yang digunakan kelas dominan dalam menjalankan mekanisme kekerasan simbolik. Bahasa merupakan produk budaya, yang tentu saja tidak dapat dipisahkan dari konteks sosialnya.

Kelas dominan, melalui bahasa, seakan-akan ingin memberitahukan kepada kelas terdominasi inilah seleraku, inilah habitusku, inilah budayaku. Sementara, kelas terdominasi tidak memiliki akses yang cukup untuk menyuarakan atau menyosialisasikan habitusnya.

Ada sekitar 9 habitus kelas dominan dalam bentuk kalimat yang ditampilkan di BSE. Yaitu : 1). Simbol istilah sapaan anggota keluarga 2). Bertamasya 3). Benda-benda yang dimiliki 4). Aktivitas sehari-hari kelas atas 5). Profil pekerjaan ayah 6). Perayaan ulang tahun 7). Kondisi Rumah 8). Menabung di Bank 9). Ini Profilku.

Sedangkan habitus kelas bawah yang ditampilkan dalam bentuk kalimat ada 3 habitus. Yaitu : 1). Inilah profesiku, aku tinggal di Desa 2). Aku harus bekerja membantu orang tua setiap hari 3). Permainanku sangat sederhana.

Salah satu habitus kelas bawah yang ditampilkan di BSE adalah kutipan kalimat dalam puisi di buku pelajaran Bahasa Indonesia 1b halaman 137.

Pak Tani…
Sungguh besar jasamu
Kau tak mengenal lelah
Bekerja mengolah sawah

Pak Tani…
Berkat kerja kerasmu
Tanamanmu tumbuh subur
Panenmu melimpah ruah

Contoh yang lain yaitu pada buku pelajaran IPA 2c halaman 25.

Pak Tani sedang menggarap sawah.
Pak Tani menggunakan sapi dalam bekerja
Tenaga sapi digunakan untuk membajak sawah
Pekerjaan Pak Tani menjadi lebih mudah

Sosok pak tani dalam kalimat contoh di atas secara eksplisit diposisikan sebagai “orang yang diceritakan”, bukan sebagai subjek. Tidak menggunakan kata “ayahku” atau “aku adalah seorang petani”. Sebagian besar materi dalam BSE, deskripsi yang menggambarkan kehidupan kelas bawah selalu menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Demikian juga pada gambar-gambar mengenai kelas bawah, hampir tidak dijumpai gambar ilustrasi yang menceritakan kehidupan “orang pertama”. Gambar “tukang becak” misalnya, tidak pernah digunakan untuk menceritakan profil keluarga. Kalimat “ayahku adalah seorang tukang becak” atau “ayahku bekerja sebagai pemulung” tidak pernah muncul dalam BSE.

“Pekerjaan ayah” selalu disimbolkan dengan pekerjaan kantoran, disertai gambar seorang ayah yang mengenakan dasi, bersepatu, dan membawa koper. Lalu, di mana anak petani, anak tukang becak dan anak pemulung berada? mungkin jawabannya adalah mereka berada di luar sana, jauh dari sekolah kita berada, sehingga “tidak perlu diceritakan”.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 321 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.