Demitologisasi Profesi Guru (2)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Those who can not think and do, Teach!. Seseorang yang tidak bisa berpikir dan berbuat, mengajarlah!

Ungkapan tersebut dapat dimaknai bahwa guru adalah profesi terakhir, ketika seseorang tidak dapat lagi mendapatkan pekerjaan, ditolak sana-sini, daripada menganggur, mengajar saja. Sungguh suatu hal yang ironis, seakan-akan profesi guru merupakan profesi dari manusia-manusia robot yang tidak dapat berpikir dan tidak dapat berbuat.

Mitos ini menjadi sebuah bahan refleksi bagi para guru untuk jauh lebih kreatif. Karena guru adalah profesi yang menuntut kreatifitas yang tinggi, jika guru tidak kreatif, maka pembelajaran akan berjalan monoton dan membosankan, yang berakibat malasnya siswa dalam belajar dan tentunya tidak dapat memahami pelajaran dengan baik.

Profesi guru adalah profesi terbuka, artinya siapa saja dapat dan boleh menjadi guru. Dalam artian bahwa siapa saja yang dapat berdiri di depan kelas tanpa mempunyai pengetahuan dan keterampilan profesional boleh menjadi guru. Jelas mitos tersebut bertentangan dengan tuntutan profesionalisme dalam abad ke-21. Jika guru adalah sebuah profesi, maka menjadi guru mensyaratkan kemampuan tertentu dengan aturan dan persyaratan yang ketat, seperti halnya profesi lain. Karenanya guru bukanlah profesi terbuka dan tidak semua orang dapat dengan mudah menjadi guru.

Guru By Nature adalah profesi perempuan dan perempuan puas dengan imbalan gaji kecil. Dalam dekade terkahir abad ke-20 terdapat suatu kecenderungan semakin banyak perempuan memasuki profesi guru. Memang profesi guru dikaitkan secara primordial dengan tugas ibu terhadap anaknya. Namun, seperti diketahui, di dalam masyarakat modern yang telah berdeferensiasi, suatu pekerjaan tidak dapat dikaitkan dengan gender.

Baik pria maupun perempuan memiliki kemampuan dan hak yang sama dalam setiap jenis pekerjaan. Perbedaannya hanya terletak pada fisik perempuan yang tidak dapat melakukan aktifitas fisik tertentu. Pekerjaan yang meminta kekuatan fisik tentunya tidak cocok dengan kemampuan fisik perempuan. Sebaliknya, pekerjaan yang menuntut ketelitian dan kesabaran lebih cocok untuk dilaksanakan oleh tangan-tangan halus perempuan.

Dalam beberapa penelitian yang diadakan di Amerika Serikat, masuknya banyak perempuan ke dalam bidang pendidikan ternyata tidak disertai dengan peningkatan penghargaan terhadap perempuan dalam jabatan yang sama. Dosen perempuan mendapatkan gaji yang kurang dibandingkan dengan dosen pria dalam jabatan yang sama. Keadaan ini disebabkan oleh suatu anggapan bahwa prestasi kerja perempuan lebih rendah dibandingkan dengan prestasi kerja pria. Hal ini merupakan suatu mitos.

Bahwa peran perempuan di ruang publik kini jauh sangat terbuka, bukan hanya sebagai guru bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi kepala sekolah. Bukan hanya sebagai rakyat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mampu menjadi perwakilan rakyat di anggota dewan. Keterlibatan perempuan di ranah publik sudah tentu melunturkan mitos-mitos tentang perempuan di atas.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 351 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.