Sekolah Kawasan dan Pemerataan Pendidikan (1)




(Sumber Gambar : www.smakstlouis1sby.sch.id)

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Diantara banyak persoalan pendidikan di Indonesia adalah soal pemerataan. Sekolah favorit hanya mengumpul di kota-kota besar. Di desa-desa terpencil hanya terdapat sekolah yang keberadaannya la yahya wala yamuut. Hidup tak mampu, matipun enggan.

Persoalan ini hampir mirip dengan yang dialami oleh dunia kedokteran. Dokter hanya mengumpul di kota-kota besar. Jarang sekali dokter mau terjun ke desa-desa terpencil, ada beberapa, itupun sedang tugas belajar, artinya untuk menaiki jenjang berikutnya yang lebih tinggi, dokter diharuskan mengabdi selama beberapa bulan di desa terpencil. Setelah tugas selesai dan setelah sekolah spesialis selesai, para dokter lebih memilih kota-kota besar sebagai tempat mereka mencari penghasailan. Disamping lebih menjanjikan dari segi financial, di kota besar akses segala sesuatu lebih mudah.

Demikian juga dengan sekolah. Anak-anak desa yang “mampu” akan berbondong-bondong mencari sekolah-sekolah favorit di kota. Walaupun jarak rumah dan sekolah tidak dekat, tetapi mereka rela untuk meluangkan waktu mereka demi sekolah di kota dan tentunya demi gengsi.

Akibatnya, sekolah-sekolah di desa akan tetap seperti itu. Diisi oleh siswa-siswa dengan kualitas yang pas-pasan. Baik secara kognitif maupun secara financial. Sedangkan sekolah di kota akan dibanjiri oleh anak-anak dengan kualitas mumpuni. Baik secara kognitif maupun secara financial.

Sehingga terjadilah kesenjangan pendidikan. Sekolah favorit akan semakin favorit, akan semakin melejit, semakin maju, semakin mapan dan tentunya semakin mahal. Sedangkan sekolah di desa akan semakin tertinggal, semakin terbelakang, semakin tidak mapan secara sarana prasana, karena sarana prasarana lambat laun akan rusak, tetapi sekolah tidak mampu membeli yang baru. Akibatnya, lama kelamaan sekolah akan ditinggalkan oleh siswanya. Alias tutup dan bangkrut.

Kesenjangan seperti ini pernah dikritik oleh Karl Marx ketika terjadi revolusi industri. Para pemiliki modal yang memiliki modal besar, hanya dengan ongkang-ongkang kaki mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar, sepuluh kali lipat dibanding dengan buruh yang bekerja sehari semalam suntuk, bekerja sangat keras, akan tetapi penghasilannya sangat sedikit, jika dibanding dengan pemilik modal. Maka yang terjadi adalah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Persoalan kesenjangan pendidikan antara sekolah di desa maupun sekolah di kota dapat diatasi dengan “sekolah kawasan” menggunakan “sistem zonasi”. Saya tidak tau apakah di daerah lain sudah menerapkan sekolah kawasan ini, yang jelas saya sangat senang, karena Surabaya sudah menerapkan sistem ini.

Sistem ini sudah banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Australia, karena selain memeratakan kualitas pendidikan dan memeratakan jumlah sekolah-sekolah yang berkualitas di daerah-daerah terpencil, sekolah kawasan dengan sistem zonasi juga mampu mengurangi kemacetan jalanan di kota-kota besar di negara maju.

Bagaimana konsepnya? Serta bagaimana Surabaya melakukannya?

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.