Pendidikan dan Ketertiban Sosial (1)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Tindakan anarkis siswa lulusan SMA saat ini semakin merisaukan dan membuat para pendidik mengelus dada. Mulai dari corat-coret pada baju seragam, pawai arakan sepeda dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, seks bebas hingga narkoba.

Dalam perspektif teori struktural fungsional, tujuan pendidikan adalah “menciptakan tertib sosial”. Jika perilaku siswa masih belum mencerminkan perilaku tertib sosial. Maka sesungguhnya pendidikan kita masih belum sesuai dengan hakekat tujuannya.

Ada satu cerita imajinatif, bahwa ada sepuluh orang yang sedang menyeberang jalan di jalanan Singapura. Mereka bersepuluh menyeberang tidak pada jembatan penyeberangan dan tidak menyeberang pada zebra cross. Akan tetapi mereka menyeberang dengan asal saja. Aktivitas mereka terekam oleh cctv dan petugas terkait langsung meringkus mereka. Setelah dilakukan interogasi yang cukup panjang dan ditanya asal-usul mereka, rupanya sembilan dari sepuluh orang tadi adalah orang Indonesia. Walaupun itu hanya imajinatif, namun fakta akan hal tersebut sering dijumpai pada masyarakat kita.

Moralitas publik masyarakat kita sangatlah rendah. Pantas jika Cak Nur (Alm) sempat bernada marah dengan mengatakan “jangan dikira Tuhan tidak marah ketika kita melanggar rambu-rambu lalu lintas”. Absennya moralitas dalam public action masyarakat kita menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Bagaimana membentuk perilaku yang mencerminkan etika publik yang baik, itu yang harus difikirkan.

Sekolah belum cukup mampu membentuk karakter peserta didik. Karena interaksi sekolah dengan peserta didik terbatas. Sepulang dari sekolah, anak tidak langsung bertemu dengan kedua orang tuanya, karena keduanya belum pulang dari kantor. Kesempatan ini dimanfaatkan siswa untuk bermain di luar sekolah, tidak dalam jangkuan kontrol sekolah dan orang tua. Jeda waktu antara keluarnya anak dari sekolah, dan bertemunya anak dengan kedua orang tuanya, inilah yang kemudian disiasati oleh Kemendikbud dengan program penguatan karakter sekolah.

Seberapa besar peran sekolah membentuk tindakan (karakter) peserta didik? Tindakan siswa di masyarakat lebih besar dipengaruhi oleh tindakan yang dibentuk oleh sekolah atau orang tua atau teman (lingkungan)?

Untuk menjawab itu, saya berangkat dari teori yang digagas oleh Talcott Parsons. Parsons adalah salah satu tokoh fungsional yang cukup concern dalam menganalisis tindakan sosial “social action”. Dalam membahas tindakan, Parsons menjelaskan dalam beberapa karyanya yang cukup popular yaitu “The Structure of Social Action (1938)”, “Toward a General Theory of Action (1951)”. “Working Papers in the Theory of Action (1953)” dan “Social System (1951)”.

Parsons dikenal sebagai penggagas struktural fungsional yang fokus pada masalah-masalah sistem tindakan dan sistem sosial. Karenanya ia selalu mewujudkan komitmen untuk membangun keseimbangan, tertib dan keteraturan sosial.

Bagaimana konsep Parsons tentang Tindakan? Motif apa yang melatarbelakangi dilakukannya sebuah tindakan?

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.