Pendidikan dan Ketertiban Sosial (3)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Asumsi kita bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula moralitas yang dimiliki. Hampir sama dengan semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan.

Statemen di atas bisa jadi benar. Namun belum sepenuhnya dapat dibenarkan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iqni Malfaid, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2013, tentang fanatisme supporter berpendidikan tinggi dengan fanatisme supporter sepakbola berpendidikan rendah. Penelitian dilakukan pada supporter Pasoepati Kartasura Solo, dengan 117 responden, analisis data menggunakan t-test. Diperoleh koefisien komparasi yang ditunjukkan oleh r sebesar -0,535 p = 0,300 dengan (p>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan tingkat fanatisme supporter yang berpendidikan tinggi dengan supporter yang berpendidikan rendah.

Walaupun penelitian sederhana, setidaknya dapat mematahkan pendapat pada umumnya. Bahwa pendidikan tinggi sejajar dengan moralitas yang tinggi pula. Itu idealnya. Tapi realitasnya, belum tentu seseorang dengan pendidikan tinggi tidak akan melakukan anarkisme dan perilaku tidak tertib sosial. Jika memang setiap orang yang memiliki pendidikan tinggi selalu tertib sosial, maka kita tidak akan menemukan ribut-ribut di DPR, saling caci dan saling dorong. Maka tidak heran jika Gusdur pernah menyebut anggota DPR dengan taman kanak-kanak.

Karenanya dalam pembahasan sebelumnya saya menyebutkan bahwa struktur tindakan masyarakat terdiri dari organisme perilaku (Behavioral Organism), sistem kepribadian (Personality System), sistem sosial (Social System) dan sistem budaya (Cultural System).

Ketika organisme perilaku dan sistem kepribadian dibangun dan dibentuk oleh sekolah dan orang tua selama bertahun-tahun. Namun ketika individu tersebut berbaur dengan masyarakat yang sudah memiliki sistem sosial yang mapan, memiliki sistem budaya yang established, maka organisme perilaku dan sistem kepribadian hilang dalam sekejap.

Kedua kubu ini saling mempengaruhi individu. Nilai yang melekat dan tertanam serta terkondisikan bertahun-tahun oleh sekolah dan orangtua tiba-tiba kalah dan luntur dengan sistem sosial dan sistem budaya yang established.

Saya yang biasanya ketika di Indonesia kalau berjalan sangat santai, ketika berkunjung ke Singapore, speed jalan saya menjadi cukup cepat. Bukan karena dikejar waktu, tapi karena sistem sosial dan sistem budaya di Singapore yang established segalanya serba cepat.

Seseorang yang biasanya ketika di Indonesia suka membuang sampah sembarangan, ketika berkunjung ke Singapore dia berfikir seribu kali untuk membuang sampah sembarangan. Bukan karena denda, tapi karena sistem sosial dan sistem budaya di Singapore yang established menjaga kebersihan.

Saya yang ketika S1 sangat idealis, mengkritik lembaga yang hanya menjadikan pendidikan sebagai sebuah komoditas. Tapi setelah lulus S1, pendidikan sebagai sebuah komoditi yang saya kritik dulu, benar-benar dijalankan di depan mata saya. Menerima dan tidak melawan, walaupun kadang hati kecil ini berontak.

Merubah tindakan masyarakat artinya merubah sistem sosial dan sistem budaya yang established di masyarakat. Pekerjaan yang tidak mudah dan tidak singkat.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 282 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*