Sekolah Kawasan dan Pemerataan Pendidikan (3)




(Sumber Gambar : edtechtime.com)

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Sekolah kawasan adalah sekolah rujukan yang menjadi percontohan. Karena ia merupakan sekolah percontohan dan rujukan, maka mayoritas sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah kota adalah sekolah eks RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf International) dan sekolah lain yang mutunya sama.

Untuk dapat masuk di sekolah kawasan, siswa minimal memiliki nilai UN rata-rata 8,5. Namun karena tahun ini (2017) nilai UN SMP rata-rata menurun, maka passing grade diturunkan menjadi 7,5, bagi yang ingin masuk sekolah kawasan tingkat SMA.

Selain nilai UN. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah kawasan juga ditambah dengan nilai TPA (Tes Potensi Akademik). Dengan TPA, potensi siswa dapat dipetakan. Siswa dapat diketahui arah kecenderungan potensinya ke mana. Kalau tingkat SMP bisa diketahui apakah nanti condong ke SMA atau SMK. Sedang kalau SMA bisa dilihat nanti cocoknya kuliah ke universitas atau jurusan apa.

Sekolah kawasan dibagi berdasarkan Sub Rayon masing-masing. Karena Surabaya dibagi menjadi lima kawasan, maka disetiap kawasan ditunjuk sekolah percontohan dan rujukan. Pembagian Sub Rayon sekolah kawasan tingkat SMP di Kota Surabaya adalah : Surabaya Pusat : SMPN 1, SMAN 3 dan SMAN 6. Surabaya Utara : SMPN 2 dan SMPN 15. Surabaya Selatan : SMPN 12 dan SMPN 22. Surabaya Timur : SMPN 19 dan SMPN 35. Surabaya Barat : SMPN 25 dan SMPN 26. Total sekolah kawasan tingkat SMP adalah 11 sekolah yang menyebar secara merata di lima wilayah di kota Surabaya.

PPDB sekolah kawasan tidak hanya didasarkan pada nilai UN dan TPA, tetapi juga didasarkan pada Sub Rayon. Jika siswa memiliki nilai tinggi di UN dan nilai tinggi di TPA, akan tetapi sekolah tersebut tidak masuk Sub Rayon tempat siswa tinggal, bisa jadi sekolah akan mendahulukan siswa lain yang dalam satu Sub Rayon, walaupun nilai siswa itu di bawah siswa luar Sub Rayon.

Persoalan yang sering terjadi pada PPDB sekolah kawasan adalah soal pagu sekolah. Ada beberapa sekolah kawasan yang sudah tiga tahun berturut-turut tidak dapat memenuhi pagu sekolah. Padahal sekolah kawasan merupakan sekolah percontohan yang secara kualitas tentunya di atas rata-rata sekolah reguler.

Ketidakterpenuhan pagu sekolah oleh sekolah kawasan perlu dilakukan evaluasi. Setiap sekolah memiliki Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Untuk sekolah kawasan ada delapan komponen. Salah satu komponennya adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan. Setiap komponen harus dievaluasi. Kenapa sekolah kawasan tersebut sepi peminat atau tidak diminati. Jika setelah tiga tahun tidak memenuhi pagu dan belum dapat berubah. Maka sekolah kawasan tersebut dapat diturunkan menjadi sekolah reguler.  Karena, yang namanya sekolah kawasan, pada tiga tahun pertama harus punya “pengimbasan”. Maknanya, sekolah kawasan harus mampu mempengaruhi kualitas sekolah sekitar, baik pada sekolah satu wilayah maupun sekolah di luar wilayahnya. Namanya saja sekolah percontohan atau rujukan. Jika tidak dapat dicontoh dan dijadikan rujukan, maka statusnya perlu diturunkan.

Walaupun demikian, terlepas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan Dispendik Pemkot Surabaya dalam menjalakan sekolah kawasan. Surabaya tetap perlu diapresiasi, karena usahanya dalam memeratakan pendidikan dan mengurai kemacetan dengan sistem sekolah kawasan.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 351 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.