Kebenaran Menulis




Oleh : Charis Hidayat
“Writing is not a function of intelligence or application, It is a function of gift-that which is given and not acquired. All any teacher can do is work with what is given” (Wallace Stagner)

Siapa bilang mahir menulis itu karena faktor kecerdasan. Sebagai seorang penulis dan jurnalis Arthur Koestler mengatakan bahwa menulis itu a type of learning process (bagian dari proses belajar ). Karena merupakan bagian dari proses belajar, Maka menulis merupakan keharusan bagi semua orang. Tidak ada cerita bahwa seseorang tiba-tiba saja menjadi jago menulis, semuanya tentu membutuhkan proses panjang.

Bahkan seorang Lillian Helman, screenwriter dari amerika, berujar “If I had to give young writers advice, I’d say don’t listen to writers talking about writing” (Jika saya harus memberi saran untuk penulis pemula, saya akan mengatakan jangan mendengarkan penulis berbicara tentang menulis).

Sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Arthur Koestler, bahwa Lillian Helman ingin menekankan pada aspek proses pencarian keinginan belajar menulis. Jika seseorang hanya mendengarkan penulis berbicara tentang menulis, dirinya akan semakin tidak menulis. Karena yang terjadi hanyalah semangat menggebu, tanpa dibarengi dengan kegiatan menulis.

Apakah menulis itu mudah dilakukan ??

Sesungguhnya menulis itu mudah. Cukup goreskan pena, atau ayunkan jemari untuk mengetik beberapa kata. Terus saja buat rangkaian kata menjadi kalimat, deretan huruf-huruf itu dengan sendirinya akan menjadi tulisan sederhana. Freewriting atau Fastwriting dapat dijadikan jurus bagi seorang penulis, siapkan stopwatch (alat pengingat waktu) dan beri batasan waktu untuk menulis, mengalir saja tanpa harus berpikir akan menulis apa. Dengan begitu, kemampuan menulis sedikit demi sedikit akan terasah, sehingga seseorang akan dapat mengukur kemampuan menulisnya, dan dapat memperbaiki kelemahannya. Menulis akan menjadi sulit, saat pikiran mendapat beban berat. Karena menulis butuh kebebasan, maka bebaskan diri dari semua beban.

Membaca menjadi hal utama bagi seorang penulis, kegiatan tersebut akan mempengaruhi banyak hal saat proses belajar menulis. Seseorang saat membaca, secara tidak langsung juga mempelajari gaya serta ciri khas bahasa seorang penulis. Hal inilah yang sedikit banyak mempengaruhi karakter seseorang, saat proses belajar menulis. Bacaan yang dicerna pun tidak perlu dibatasi, bebaskan saja dari semua genre. Sebab proses belajar menulis, akan dengan sendiri menemukan formulanya.

Menulis merupakan praktek sehari-hari, Oleh karena itu Write before you think ( Tulislah sebelum kamu berpikir ). Jadi menulis saja, berpikir kemudian. Berpikir dahulu, lalu menulis, tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Sebab menulis menjadi latihan harian, tulislah apapun, sampai menemukan apa yang harus dipikirkan untuk dituliskan. Tak salah jika seorang penulis bernama M.Khoiri mengatakan bahwa “Diantara kita masih menjadi penulis pemulung”, hanya bisa merangkai kata-kata milik orang, tanpa pernah mau untuk latihan. Inilah yang sudah membudaya, dengan bangga mereka mengakui tulisan orang menjadi miliknya. Menunjukkan bahwa prinsip one day, one post (satu hari satu tulisan) bagi setiap orang menjadi sangat mungkin untuk dilakukan, toh hanya satu tulisan.

Paling mungkin dilakukan adalah menulis kisah atau cerita harian, Setiap hari tentunya banyak menemukan hal-hal menarik untuk diungkapkan dalam bentuk tulisan. Jadi, apalagi yang sulit dilakukan, jika mulai saat ini mulai menulis setiap hari. To Write is to tell the truth (menulis adalah mengungkap kebenaran) begitu yang disampaikan Ursulla Leguin seorang penulis novel kenamaan dari california. Kebenaran ini sudah terungkap, bahwa tidak lagi ada kata sulit untuk menulis, karena sesungguhnya menulis itu mudah dilakukan. Maka menulis sekarang atau tidak sama sekali.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.