Menulis Kreatif, Melejitkan Potensi




Oleh: Charis Hidayat

“Creative writing is having the power to create an imaginative original literary production or composition” (Adele Ramet, 2007)

Dalam bukunya Creative Writing karya Adele Ramet, Dijelaskan bahwa menulis kreatif memiliki 2 kata kunci, yakni the power (kekuatan) dan create an imaginative original literary (memproduksi karya literasi asli yang imajinatif). Proses menulis kreatif tidak semudah definisi yang diutarakan, tuntutan bahwa kreatif selalu memiliki prinsip out of the box, memang tak sepenuhnya salah. Bahwa menulis kreatif perlu menggunakan imajinasi, iya. Tapi perlu digarisbawahi bahwa menulis kreatif juga harus berdasarkan orisinalitasnya. Sebab dari keaslian tulisannya itulah, kelak dengan sendirinya semua karya tulisnya akan memiliki kekuatan. Maka jangan bayangkan bahwa, menulis kreatif selalu erat kaitanya dengan animasi, ataupun bahasa-bahasa sastra yang sulit dipahami.

Setidaknya ada beberapa tahapan, bagi sebagian orang agar dapat menjalani proses menulis kreatif :

1. Tentukan Waktu Menulis
Biasanya, seseorang akan dapat mengalokasikan beberapa menit dalam aktivitas harianya, untuk menulis. Pilihlah waktu menulis yang tepat sesuai keinginan. Jangan pernah berpikir bahwa diri ini tidak cukup baik menulis. Ketahuilah, bahwa semua penulis ternama mengawalinya dari hal kecil. Mulailah bangun percaya diri, sebab itulah pondasi bebaskan diri menulis setiap hari.

2. Temukan Ide
Teruslah menulis, apapun itu kondisinya perbanyaklah menulis. “Write about what you know, if you don’t know, find out” begitulah pesan yang ingin disampaikan oleh martina cole kepada mereka yang ingin menulis. Sesungguhnya ide itu ada disekeliling, namun terkadang mereka sengaja menutup mata. Apapun yang terlihat, terasakan dan terdengar oleh indera, itu merupakan ide sebenarnya, yang semestinya dapat diolah menjadi tulisan berharga. Janganlah persempit pikiran bahwa mencari ide itu sulit, Yakinlah bahwa ide itu ada dimana mana, sepanjang diri ini mau menulisnya.

3. Latih menulis Oral dan Visual
Kemampuan mendengar dan melihat seseorang erat kaitanya juga dengan kemampuan menulis. Menulis oral lebih menekankan pada aspek pendengaran, sedangkan menulis visual lebih pada aspek penglihatan dan perasaan. Menulis oral terkadang lebih sulit diterapkan ketimbang menulis visual, sebab daya serap pendengaran memiliki rentang waktu memori lebih kecil dari penglihatan. Coba saja buktikan, saat seseorang melihat terjadi kecelakaan melalui media apapun, memori rekaman hingga akan dituliskan, akan mampu diterjemahkan detail kejadianya. Latihlah setiap hari, jika mendengar segala hal lanjutlah untuk menulis. Begitupun jika melihat dan merasakan sesuatu maka tulislah.

4. Baca, Baca dan Baca
Apapun genre menulisnya, kebutuhan akan membaca diperlukan. Termasuk didalamnya membaca selera pembaca, karena keberadaan pembaca akan membawa seorang penulis mengenali karakter setiap karya yang dihasilkanya.
Sekalipun penulis ternama, membaca sudah menjadi keharusan. Jangan berhenti menulis, setelah menulis coba baca, baca dan baca tulisan tersebut berulang-ulang. Jangan pernah berpikir bahwa, tulisan ini sudah sempurna, tak perlu lagi membaca, apalagi tidak mengkoreksi diri. Kesalahan fatal para penulis adalah melupakan tugasnya untuk menulis dan membaca.

Usah berpikir bahwa menulis kreatif itu sulit, buang jauh-jauh stigma menulis itu tidak penting. Jadikanlah menulis itu sebagai candu, mulai sekarang marilah menulis kreatif, karena ini semua, bukan tentang bagaimana menghasilkan karya asli. Namun lebih dari itu, segores kata yang terangkai akan membawa penulisnya, menuju puncak, dimana saat kata beradu menjadi warisan abadi sepanjang masa. Lejitkan diri menggali potensi dengan menulis kreatif, menulis sekarang atau tidak sama sekali.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 358 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.