Kesadaran Kolektif (1)




(Sumber Gambar : WordPress.com)

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Sekitar tahun 2010, ketika saya masih menempuh studi S2. Seorang teman menuturkan pengalamannya, ketika ia diminta dinas pendidikan setempat untuk mencari anak-anak putus sekolah yang mencari uang receh di traffic light dan jalanan metropolitan.

Selaku kepala sekolah, ia memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan anak-anak putus sekolah dan turut mencerdaskan anak bangsa. Pada akhirnya ia mendapat 30 anak putus sekolah dengan berbagai macam profesi. Ketika mereka ditanya kenapa tidak sekolah?. Jawaban klasik, soal keterbatasan uang.

Ketigapuluh anak putus sekolah tadi kemudian disekolahkan gratis, mendapat tas sekolah, seragam, buku tulis, buku pelajaran dan uang saku. Intinya, mereka tidak perlu susah-susah lagi mencari uang di jalanan.

Setelah berjalan 6 bulan, rupanya mereka sedikit demi sedikit “mrotoli”. Berguguran, dari 30 menjadi 25, turun lagi menjadi 20, dan pada akhirnya yang sampai lulus sekolah hanya 10 siswa.

Ke mana 20 siswa yang lain?. Setelah ditelusuri, ternyata mereka kembali ke jalan. Kembali mencari “uang receh” di traffic light. Ketika mereka ditanya, mengapa kembali ke jalanan, bukankah dahulu kalian tidak sekolah karena soal biaya, sedang kami sudah tanggung semua?

Jawab mereka singkat, “lebih banyak dapat uang di jalan pak, dari pada saya harus sekolah”.

Kesimpulan sederhana yang dapat diambil adalah bahwa, anak-anak putus sekolah bukan hanya karena faktor ekonomi, tapi ada hal yang lebih mendasar yaitu faktor kesadaran (consciousness). Bukan hanya individual consciousness (kesadaran individu), akan tetapi collective consciousness (kesadaran kolektif).

Dalam jangka pendek, mencari uang di jalanan lebih menguntungkan, dalam sebuah pemberitaan di sebuah koran nasional, bahwa penghasilan pengemis jalanan bisa mencapai jutaan perbulan. Dengan perhitungan, bahwa lampu merah menyala sekitar 1.5 menit. Dalam waktu 1.5 menit seorang pengemis setidaknya mendapatkan uang Rp. 2.000. karena perempatan, maka untuk menunggu lampu merah menyala kembali ia menunggu sekitar 5 menit. Artinya dalam satu jam pengemis mendapatkan 9 kali lampu merah. Artinya ia mendapatkan 9 x Rp. 2.000 = Rp. 18.000,-.

Dalam sehari ia bekerja selama kurang lebih 10 jam. Maka Rp. 18.000,- x 10 = 180.000,- dalam sehari. Rp. 180.000,- x 30 hari = Rp. 5.400.000,- (lima juta empat ratus ribu rupiah) dalam satu bulan. Sebuah penghasilan yang tidak sedikit.

Dalam kalkulasi jangka pendek, menjadi anak-anak jalanan jauh lebih menguntungkan secara financial dibanding dengan 10 anak yang tetap meneruskan sekolah. Namun, kesepuluh anak tadi akan meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, S1, S2 bahkan S3. Mereka lulus menjadi tenaga professional yang dibayar dengan harga yang tidak murah. Sedang teman-teman mereka tetap saja mencari uang di jalanan, tetap seperti itu, tidak ada kemajuan, masih berpakaian lusuh, terkadang lari ke sana-sini karena menghindar dari kejaran satpol PP.

Kesadaran untuk itu sangat minim, kesadaran terhadap pentingnya ilmu pengetahuan, kesadaran terhadap pendidikan, kesadaran membaca, kesadaran menulis. Bangsa ini masih tidur, kalaupun sudah bangun, ia masih setengah sadar. Maka harus dibangunkan dan disadarkan. Bagaimana caranya?

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.