Menulis Ala Bermain Sepakbola




Ilustrasi Foto Dari http://www.birayang.com/

Oleh : Charis Hidayat

“Sepakbola dan menulis harusnya memiliki pendukung yang sama (banyaknya)”

Sepakbola menjadi salah satu olahraga paling banyak digandrungi oleh banyak orang, sepakbola bukan saja digemari di indonesia melainkan dihampir seluruh belahan dunia semua suka padanya. sepak bola memiliki daya magis sendiri membuat semua orang mencintai melebihi segalanya. sepakbola memiliki arti filosofi sendiri bagi mereka yang benar-benar mempelajarinya.

Bayangkan saja hanya dengan satu bola bundar dimainkan serta diperebutkan oleh 2 tim berbeda yang masing-masing tim berjumlah 11 orang. menjadi menarik memang tatkala para pemain bola bermain dengan menggunakan skillnya mengolah si kulit bundar.

Kesederhanaan permainan sepakbola sungguh terlihat, olahraga tersebut tak pernah membedakan status seseorang, tua, muda, pria dan wanita semuanya menyukainya. olahraga tersebut mampu juga memecah-belah sebuah kerukunan menjadi dendam abadi. benar saja umumnya sepakbola dinaungi oleh sebuah klub, dimana setiap klub mengelolanya berbasiskan sejarah lahirnya bisa jadi dari kota dimana didirikan dan unsur sejarah lainya.

Jumlah klub sepakbola jika dihitung bisa mencapai ratusan ribu di seluruh dunia, dan di indonesia jumlahnya mungkin saja bisa sampai puluhan ribu, animo masyarakat untuk menonton klub sepakbola kesayangaanya pun sangat besar terlebih jika sedang memainkan laga kandang, panitia penyelenggara pun berusaha untuk mengambil momen tersebut untuk mengais pundi-pundi rupiah.

Fanatisme klub sepakbola yang ada di Indonesia seolah sudah mendarah daging, bahkan fanatisme itu mengalahkan kepedulian pada dirinya sendiri. hal yang berbeda memang dengan fanatisme yang ditunjukkan diluar indonesia. Suporter begitulah mereka banyak disebut, merujuk pada perannya sebagai pendukung diluar lapangan untuk sebuah klub sepakbola kebanggaanya. terlebih kebanyakan klub sepakbola di indonesia berasal dari unsur kedaerahan, yang membuat jiwa kepemilikan dan keterpanggilan menjadi harga mati untuk didukung serta dibela.

PSSI sebagai organisasi khusus yang menangani semua unsur persepakbolaan di indonesia memang memiliki beban berat, tuntutan untuk dapat memajukan persepakbolaan dalam negeri agar mampu bersaing di kancah asia menjadi harga mati. luasnya wilayah indonesia menjadi aset berharga yang dapat dikelola oleh PSSI untuk menyaring pemain-pemain sepakbola berbakat agar dapat bergabung menjadi bagian dari tim nasional indonesia. banyak orang diluar sana berkata bahwa indonesia memiliki kans besar untuk merajai persepakbolaan asia, bukan tanpa alasan mereka mengutarakan hal tersebut.

Banyak pemain-pemain indonesia yang terlahir dengan bakat alami dan memiliki skill diatas rata-rata, terlebih pemain-pemain tersebut menyebar ke seantero negeri. bisa saja tim nasional indonesia memiliki tim A, B, C dan lain-lain karena memang jumlah pemain berbakat di indonesia cukup melimpah. namun yang menjadi tuntutan banyak orang indonesia agar persepakbolaan indonesia semakin maju tampaknya hanya teriakan-teriakan semata.

Jangan lupa, bahwa pemain hebat-hebat didunia mereka bukan mengandalkan kemampuan atau skill alami yang mereka miliki, namun ada beberapa faktor lagi yang sangat mendukung yakni faktor lingkungan. lingkungan disini sangatlah banyak macamnya ( lingkungan kompetisi, lingkungan kepelatihan, lingkungan lapangan dll ), faktor lingkungan ini bagi saya menjadi kunci skill pemain sepak bola akan berkembang.

Dimana didalamnya mental teruji, gaya bermain terlatih, kekompakan tim terbangun dan visi bermain dipelajari. kecenderungann banyak pemain indonesia memang masih bersifat individual yakni mengandalkan kemampuan individu belum bermain secara tim, walau terkadang mereka juga sudah berusaha untuk bermain secara koolektif. semua ini diperlukan proses panjang dibawa polesan-polesan pelatih dan kebijakan PSSI sebagai regulator persepakbolaan di indonesia. masyarakat indonesia rindu akan permainan sepakbola yang dapat dinikmati, disetiap sentuhan bolanya pun menandakan patriotisme yang menggelora.

Olahraga sepakbola diakui memang memiliki banyak fans, berbanding terbalik dengan olahraga menulis yang mungkin saja masih sepi peminat. kenapa saya artikan olahraga menulis karena sejatinya menulis memanglah olahraga dimana semua unsur yang ada pada anggota tubuh digunakan. olahraga menulis memang tidak perlu banyak orang untuk dapat memainkanya, masing-masing orang dapat melakukan olahraga tersebut tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Media yang digunakannya pun tidak sesulit olahraga sepakbola, yang mengharuskan adanya sebuah tanah lapang dan gawang sebagai media bermainnya, olahraga menulis bisa dilakukan dibanyak media tak sesusah olahraga sepakbola. namun nyatanya olahraga menulis tetap saja kurang menarik dipandangan semua orang. padahal jika mereka menyadari, bahwa kemampuan alami  dalam menulis yang dimiliki setiap orang indonesia banyak tersebar diseantero nusantara cukup melimpah. Harusnya ini menjadi aset berharga, menjadi nilai tambah tersendiri, untuk mampu membuat sebuah tim hebat dalam olahraga menulis yang akan mampu mengalahkan tim-tim hebat lainya diluar sana. semoga saja, Maka ayo menulislah walau hanya satu kata,

 

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.