Sekolah & Relasi Komunikasi




Oleh : Charis Hidayat

Sekolah, bagi sebagian masyarakat keberadaanya memang masih sangat dibutuhkan hingga sekarang. Tempat dimana setiap orang menimba ilmu, dan juga tempat bagi mereka intens belajar berinteraksi. Didalamnya tercipta sebuah lingkungan belajar yang diciptakan sedemikian rupa. Walau banyak juga masyarakat yang belum dapat menikmati lika-liku kehidupan di sekolah, tetap saja wujudnya menjadi magnet tersendiri. Selalu saja ada polemik dibalik sekolah, mulai dari biaya mahal, bangunan sekolah tak layak pakai, hingga guru memukul siswa atau sebaliknya. Fenomena itu benar terjadi, namun lagi-lagi belum ada tindakan kongkrit meminimalisir situasi tersebut terulang lagi.

Sebagian orang tua mempercayakan pendidikan untuk putra-putrinya ke sekolah, pemilihan sekolah yang berkualitas pun menjadi prioritas utamanya. Hal ini wajar dilakukan, karena orang tua benar-benar menaruh harapan besar terhadap sekolah.  Harapan agar anaknya kelak menjadi pintar, cerdas, berprestasi dan lainya. Maka tak heran, para orang tua pun rela mengeluarkan biaya besar untuk kepentingan putra-putrinya. Orang tua tetap akan mempercayakan pendidikan terhadap sekolah, terlebih saat ini ada tren di masyarakat perkotaan bahwa orang tua lebih peduli dengan pekerjaan harian, daripada mengontrol perkembangan anaknya disekolah.

Family time (waktu untuk keluarga) khususnya untuk anak, menjadi berkurang. Bahkan tak jarang perjumpaan anak dengan ayah atau ibunya hanya terjadi di waktu malam, ataupun pagi saja. Jika dapat berjumpa itupun hanya di sisa-sisa tenaga, sehingga berujung tidak maksimal pada proses komunikasi. Biasaya pada masyarakat perkotaan mengantarkan anak ke sekolah, dan atau menjemput anaknya dari sekolah sudah menjadi rutinitas harian. Perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor, baik dari sisi agama dan keilmuan umum tetap di pasrahkan sepenuhnya terhadap sekolah ataupun TPQ. Hal inilah kemudian berdampak pada pola asuh, serta cara pandang setiap orang tua terhadap putra-putrinya.

Dikarenakan tuntutan zaman, sekolah-sekolah di perkotaan dan sebagian di daerah pedesaan saat ini sudah mulai melirik perkembangan teknologi. Zaman dimana semua elemen sudah tidak lagi ada sekat ruang ataupun waktu, apalagi didukung dengan piranti-piranti cerdas yang dapat dimanfaatkan oleh setiap orang. Jika dahulu orang tua rela menunggui anaknya sekolah hingga berjam-jam lamanya, khawatir akan kondisi anaknya, siapa saja yang bergaul dengan anaknya, mengharuskan hadir ditengah-tengah mereka. Kini, banyak sekolah-sekolah menghimpun kontak telfon para orang tua murid pada satu aplikasi perangkat lunak, yang kemudian dikonversikan pada program bernama Whatssapp. Ini bertujuan untuk lebih mendekatkan peran orang tua murid, tanggung jawab sekolah, serta peran aktif bersama saat mengontrol dan mengamati perkembangan masing-masing anaknya di sekolah.

BACA JUGA – Kesadaran Kolektif (3)

Cukup lewat media ponsel pintar yang didalamnya tersemat aplikasi whatssapp, para orang tua sudah dapat dimanjakan, dan tidak lagi khawatir akan tumbuh kembang sang anak di sekolah selama 24 jam. Uniknya, grup whatssapp yang sekarang marak digunakan oleh banyak sekolah, sudah berubah menjadi media komunikasi yang menguntungkan oleh kedua belah pihak, diuntungkan karena dengan begitu sekolah bisa lebih dekat dengan keberadaan orang tua, dan dari sisi orang tua dimudahkan untuk selalu peduli pada peran sentralnya sebagai orang tua. Proses pembelajaran dikelas, nilai setiap mata pelajaran, hingga posisi tempat duduk sang anak dikelas pun benar-benar diketahui oleh orang tua. Bahkan jika suatu waktu orang tua kangen dengan anaknya, dirinya bisa meminta kepada petugas admin grup whatssapp untuk memberikan gambar atau video tentang keadaanya waktu itu juga secara real time.

Upaya-upaya peningkatan peran sekolah untuk dapat menghadirkan kenyamanan terhadap para orang tua, sepertinya mulai muncul kembali. Adanya perkembangan teknologi yang cukup pesat membuat tren-tren baru didunia pembelajaran. Rapat-rapat wali murid yang dahulu sering diadakan sekolah, saat ini sudah mulai jarang diadakan. Karena sekolah selalu memberikan progres report harian nya setiap hari secara real time kepada para wali murid.

Kabar baik ini juga menjadi sorotan, apabila di daerah perkotaan bisa jadi ini akan dapat dengan mudah diimplementasikan, lain halnya di daerah pedesaan. Dimana infrastruktur jaringan internet masih minim, daya beli masyarakat terhadap pengadaan ponsel pintar juga masih kurang, kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi juga kurang. Ini pula akhirnya berdampak pada kesenjangan di banyak aspek, bagi orang tua yang berpenghasilan lebih dari cukup, mereka dengan mudah menikmati semua akses tersebut. Namun, bagi orang tua berpenghasilan pas-pas an, mungkin akan berpikir panjang. Jangankan untuk membeli serta mendapatkan jangkauan semua akses itu, bisa mensekolahkan anaknya saja itu sudah sebuah prestasi membanggakan.

Ini pula yang harus dipikirkan bersama, bahwa pemerataan akses dan infrastruktur selalu akan berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Saat kondisi sosial ekonomi masyarakat semakin tinggi, maka akan berdampak pula pada tingkat kepercayaan terhadap sekolah, pemerintah dan instansi lainya.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 318 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.