Kesadaran Kolektif (4)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Gerakan critical consciousness sudah di dengungkan sejak tahun 1970 di Amerika. Di antaranya oleh Paulo Freire dan Ivan Illich. Saking “jengah”nya dengan sistem persekolahan waktu itu, Ivan Illich sampai ingin mendekonstruksi sekolah melalui bukunya Deschooling Society. Walaupun gagasannya terkesan utopis, namun reaksi Ivan Illich terhadap sistem pendidikan di Amerika saat itu cukup keras.

Jika critical consciousness lebih menekankan pada kesadaran bahwa pendidikan sebagai sebuah komoditas, pendidikan sebagai sebuah agen, pendidikan sebagai bentuk penindasan (oppressed). Maka dalam scientific consciousness penekanannya lebih pada kesadaran bahwa ilmu itu penting, kesadaran bahwa membaca itu kebutuhan, kesadaran bahwa peradaban itu dibangun oleh ilmu.

Kembalinya anak-anak jalanan yang pernah saya jelaskan pada awal tulisan (kesadaran kolektif 1), menandakan bahwa kesadaran akan ilmu masih belum tumbuh. Bukan hanya itu, hingga kini, pengunjung perpustakaan di berbagai perguruan tinggi masih didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi atau tesis, paling banter mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas makalah. Jarang sekali ditemukan bahwa mereka ke perpustakaan karena rutinitas harian, karena hobi membaca, karena ingin meningkatkan kapasitas keilmuan, karena update informasi dan sebagainya.

Kita masih khusnudzon, walupun mereka tidak mengunjungi perpustakaan secara fisik, tapi mungkin mereka mengunjungi i-Pusnas atau berselancar di Digilib (Digital Library) perguruan tinggi. Tapi saya masih belum yakin jika mereka mengunjunginya bukan karena tugas perkuliahan.

Dalam aspek lain, persepsi bahwa peran perempuan adalah 3M (masak, macak, manak) sudah tidak relevan, karena banyak dijumpai perempuan-perempuan yang sudah magister bahkan doktor. Komposisi anggota dewan juga mensyaratkan 30% perempuan. Fenomena tersebut dapat dimaknai bahwa kesadaran wanita akan pendidikan dan perannya di ruang publik sudah mulai tumbuh.

BACA JUGA : Kesadaran Kolektif (3)

Namun, tidak dapat dipungkiri, di sebagian kecil masyarakat kita masih banyak orang tua yang mengatakan ke anak mereka : “wis ndak usah sekolah duwur-duwur, wong bapakmu iki biyen lulusan SD wae wis iso dolek duwek akeh”. (Sudah gak usah sekolah tinggi-tinggi, ayahmu ini dulu lulusan SD saja sudah bisa cari uang banyak).

Ungkapan di atas dapat dimaknai bahwa, orientasi bersekolah, orientasi berilmu sudah money oriented. Tujuan sesungguhnya dari menuntut ilmu sudah luntur, apa tujuan berilmu itu? Al-Attas mengatakan : The aim of Muslim education is the creation of the “good and righteous man” who worships Allah in the true sense of the term, builds up the structure of his earthly life according to the sharia (Islamic law) and employs it to subserve his faith. (al-Attas, 5 : 1979).

Karenanya, kesadaran kritis (critical consciousness) dan kesadaran ilmiah (scientific consciousness) perlu dibangun beriringan. Sadar akan pentingnya sekolah, sadar akan pentingnya ilmu saja tidak cukup. Kesadaran itu harus dibangung secara kritis, bahwa persekolahan kita bebas dari ketertindasan.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 318 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.