Five Days School; Perlukah (2)




Sumber Gambar : http://www.sunrisesd.ca

Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Saya sangat kecewa, ketika mendengar bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Bondowoso “menunda pemberlakuan” 5 hari sekolah. Informasi ini saya dapat dari seorang Dosen di STIT Al-Islah Bondowoso (Febry Suprapto, M.Pd.I) beberapa hari yang lalu, ia menulis di Facebook begini :

“Putri kedua saya bersekolah di SD Islam Integral (SDII) Lukmanul Hakim Bondowoso. Sekolah tersebut bernaung di Yayasan al-Fajri Bondowoso. Yayasan ini di bawah kordinasi Ormas Islam Hidayatullah. Kurang lebih sebulan yang lalu, SD Islam ini menerapkan program 5 hari sekolah. Sebelum diterapkan, para wali murid diundang untuk sosialisasi dan urun rembug. Alhamdulillah seluruh wali murid setuju. Program pun berjalan dengan baik. Beberapa hari lalu, wali murid kembali diundang pertemuan. Kembali membahas tentang program 5 hari sekolah. Yang membuat saya kaget adalah, sekolah membatalkan program itu dan kembali menerapkan 6 hari sekolah. Alasannya satu : Dilarang oleh “pemegang kebijakan”. Selaku wali murid, saya kecewa dengan pelarangan ini. Mengingat presiden sendiri memberi opsi bagi setiap sekolah, boleh melaksanakan dan boleh tidak. Pertanyaan saya kepada para sahabat: apakah memang pihak pemegang kebijakan daerah berwenang melarang sekolah swasta di wilayahnya untuk menerapkan program 5 hari sekolah? Apakah di Kabupaten lain terjadi kasus yang sama?”

Penundaan pemberlakuan 5 hari sekolah itu tidak benar, karena selama Presiden belum mencabut Permendikbud dan selama belum ada Perpres yang mengaturnya, maka Permendikbud tentang aturan 5 hari sekolah masih berlaku. Dan itu sifatnya opsional, tidak ada paksaan. Jika ada sekolah yang dahulunya 6 hari, kemudian berubah menjadi 5 hari, maka dinas terkait tidak boleh melarangnya. Itu adalah kewenangan satuan pendidikan masing-masing. Apalagi jika ada sekolah-sekolah yang dahulunya sudah menerapkan 5 hari sekolah selama bertahun-tahun, malah diminta menjadi 6 hari, tentunya itu sangat tidak benar.

Lima hari sekolah, sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden, sama sekali tidak ada paksaan, yang mau 5 hari silahkan, yang mau 6 hari silahkan. Jika memang itu dikehendaki oleh masyarakat silahkan. Kebijakan ini sedang di godok oleh mendikbud untuk dinaikkan menjadi peraturan presiden (perpres).

Tapi, jika yang terjadi adalah pemaksaan untuk mengikuti 6 hari sekolah, itu justru tidak benar, 5 hari atau 6 hari itu bergantung pada kebijakan satuan pendidikan masing-masing. Pemerintah setempat sama sekali tidak berhak memaksakan.

Apa sih yang sebenarnya mereka (penolak FDS) inginkan?

Saya mencoba me-list beberapa alasan mereka (penolak FDS) agar program ini tidak perlu diterapkan. Pertama : mereka menolak FDS dengan alasan, FDS akan menggerus keberadaan Madrasah Diniyah dan TPQ. Karena siswa pulang dari sekolah sore, maka mereka ketika belajar di TPQ sudah capek dan ngantuk. Atau sebagaian orang tua merasa anaknya tidak usah ngaji lagi di TPQ karena di sekolah sudah diajari ngaji. Kedua : siswa tidak akan kuat menerima pelajaran hingga 8 jam sehari, kalaupun mampu, tentu di jam-jam terakhir siswa tidak akan menerima pelajaran dengan baik, karena sudah capek. Ketiga : pembentukan karakter tidak harus dengan lima hari sekolah, masih banyak cara yang dapat dilakukan dengan lima hari sekolah. Keempat : jika FDS diterapkan, sama saja mengabaikan fungsi pesantren yang selama ini telah membentuk karakter siswa, artinya diterapkannya FDS sama saja dengan menganggap bahwa pesantren telah gagal membentuk karakter, sehingga perlu dilakukan FDS. Kelima : dilaksanakannya FDS sama saja dengan merenggut waktu bermain anak, anak dipaksa untuk belajar seharian, sampai rumah jam 17.00 atau bahkan magrib (bagi yang rumahnya jauh), setelah itu mereka les privat sampai jam 21.00. Ini pendidikan yang memberatkan dan membuat anak bisa stress.

Dan masih banyak lagi alasan kenapa FDS tidak harus diterapkan, mungkin anda bisa menambahkan sendiri. Lantas bagaimana dengan mereka yang mendukung FDS? Apa alasan mereka? Tapi sebelum itu saya akan menjawab lima alasan di atas Senin depan.

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.