ITS Perkuat Kerjasama Internasional dengan PTN di Thailand




SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mendapat kunjungan dua perwakilan dari universitas di Thailand untuk menindaklanjuti kerjasama yang sudah terjalin dalam bidang internasionalisasi, Senin (28/8). Kerjasama ini sesuai dengan visi ITS sebagai perguruan tinggi dengan reputasi internasional dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Kedua perwakilan tersebut berasal dari Nakhom Pathom Rajhabat University dan Sakon Nakhon Rajabat University. Kerjasama ini sudah ditandai dengan penandatanganan MoU awal tahun 2017 lalu, setelah sebelumnya juga telah dilakukan penjajakan cukup lama. Kerjasama yang dilakukan dengan ITS ialah untuk menjembatani para mahasiswa ITS yang ingin melakukan study-exchange ke universitas mitra tersebut.

Study-exchange yang dimaksud berupa pengalaman untuk bekerja dan belajar di laboratorium universitas tersebut. Di samping mendapatkan pengalaman merasakan laboratorium di luar negeri, para mahasiswa ini juga dituntut untuk membuat suatu penelitian terkait dengan aktivitas laboratorium yang tengah dijalaninya.

Pada saat ini sudah terhubung lebih dari tujuh negara yang turut bekerja sama dalam program ini, “Di antaranya Inggris, Amerika Serikat, Vietnam, Myanmar dan yang lainnya, “ ungkap Tosawat Seetawan, delegasi dari Sakon Nakhon Rajabat University saat ditemui di Rektorat ITS.

Saat ini, sudah ada satu mahasiswa ITS yang turut berpartisipasi dalam program ini. Yakni Nur Laili Hami, mahasiswi program Magister di Departemen Fisika ITS. Beliau melakukan program studi ekskursi ke Sakon Nakhon Rajabat University.

Menurut kedua perwakilan Thailand ini, mahasiswa dari ITS tersebut merupakan seseorang yang ulet, gigih dan bersemangat dalam mengejar akademik. “Itu salah satu alasan, mengapa saya ingin lebih banyak mahasiswa Indonesia turut berpartisipasi dalam program ini,“ ungkap Jakrapang Kaeakhao, delegasi dari Nakhom Pathom Rajhabat University.

BACA JUGA – Sapuangin Speed 5, mobil balap buatan ITS siap lomba di Jepang

Pasalnya, lanjut Jakrapang, banyak hal yang menghantui para mahasiswa ketika ingin melakukan studi ekskursi, seperti terkendala dengan biaya, susahnya prosedural ataupun masalah ketidaksetujuan dengan orang tua terhadap program yang terkait. Namun sudah saatnya, para mahasiswa mengambil suatu langkah pasti untuk membuat suatu perubahan.

“Untuk prosedural aplikasi lab internship di sini (ITS, red) sebenarnya tergolong cukup mudah,“ ujar Jakrapang. Dalam hal ini, menurut Jakrapang, mahasiswa yang berkenan untuk berpartisipasi dalam program ini cukup memberitahu pada institusi yang mengedarkan (ITS International Office, red). “Setelah disetujui anda akan diberi letter of acceptance dari pihak universitas yang terkait,” imbuhnya.

Selain lab internship, kedua universitas Thailand tersebut juga menawarkan program untuk studi lanjutan seperti program beasiswa S2 dan S3 di Thailand. “Namun kami tidak memberi suatu kontrak pada para aplikan, cukup belajar saja,” tegasnya. Hal ini, menurutnya, dikarenakan beberapa mahasiswa Indonesia kerap kali mengurungkan niatnya untuk menempuh studi lanjutan karena ada suatu pengharusan dari universitas mitra untuk melakukan pengabdian.

Untuk waktu aplikasi program yang ditawarkan ini, mahasiswa dapat memilih kapan saja. “Program ini tidak terpaku pada waktu, yang penting menghubungi instansi yang mempublikasikan dan universitas mitra yang terkait,“ pungkas Tosawat menimpali. (HUMAS ITS)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 345 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.