Menyikapi Kreativitas dan Kenakalan




Oleh : Ach. Nurcholis Majid 

Menjadi guru seringkali dilematis. Jika seorang murid sukses dalam kehidupannya, jarang sekali guru disebut sebagai unsur penting yang membawanya pada apa yang dicapai. Tetapi jika sebaliknya, seringkali terdengar ucapan “siapa gurumu?”

Walaupun tidak menunjuk pada seorang guru, tetapi iklan BSI Nusa Mandiri menjadi contoh konkret, betapa guru merupakan sosok yang pertamakali bertanggung jawab atas kesuksesan anak didiknya.

Hal yang lebih dilematis lagi, guru diharamkan menilai apalagi memberi label “nakal” kepada anak didiknya. Padahal kenakalan bukan suatu khayalan.

Di sinilah kita perlu mengukur perbedaan antara kreativitas dan kenakalan. Sebab, jika segala tindakan yang menyimpang dari kebiasaan disebut sebagai kreativitas, akan sangat susah mengarahkan potensi yang sebenarnya berbeda.

Kreativitas Selalu Positif

Perlu menjadi catatan bagi setiap pendidik, bahwa kreativitas selamanya positif. Jika ada perilaku menyimpang dari kebiasaan tetapi tidak positif, perlu dipertimbangkan apakah dia benar-benar kreativitas yang keluar dari pengamatan ataukah kenakalan yang perlu diarahkan.

Dalam lingkungan pendidikan, terkadang anak seringkali membuat coretan pada meja sekolah. Apakah ini adalah kreativitas? Belum tentu, jika sekolah telah membuat media yang baik untuk media kreativitas sang murid, tetapi kegiatan corat-coret meja masih dilakukan, maka perlu pengamatan mendalam.

Sebab, kreativitas memang memiliki beberapa unsur yang sangat unik. Menurut Campbell, suatu tindakan dianggap kreatif jika memenuhi setidaknya dua unsur. Pertama, baru (novel). Maksud kebaruan adalah adanya inovasi, menarik, aneh dan mengejutkan. Kedua, berguna (useful) yang artinya tindakan tersebut dapat member kemudahan, memperlancar, memecahkan masalah, mengurangi hambatan dan mendatangkan hasil yang lebih baik.

Jika demikian, sangat mudah untuk menentukan mana yang kreativitas dan mana yang kenakalan. Bahwa kreativitas selalu menunjuk pada kebaruan dan manfaat, sedangkan kenakalan menunjuk pada kebaruan yang mengeliminasi nilai manfaat.

Pengetahuan ini harus menjadi pemahaman bersama. Sehingga pendidik tidak dengan mudah menyamakan tindakan kreatif dengan tindakan yang cacat secara social, yang pada puncaknya ada melakukan penyamaan pula pada penanganannya.

BACA JUGA – Mengurai Beban Belajar

Baiklah, bahwa kreativitas dan kenakalan memiliki kesamaan inovasi. Tetapi kenakalan tidak menjawab sama sekali terhadap pertanyaan untuk apa Anda hidup? Padahal hampir seluruh ajaran agama member porsi yang besar terhadap nilai manfaat ini.

Mengarahkan Kenakalan

Sebagaimana suatu penyakit, kenakalan harusnya disembuhkan dengan pemberian obat, atau dengan memperkuat sel lain yang dapat mengungguli penyakit tersebut. Sehingga tindakan yang harus diambil tidak sama dengan menghadapi kreativitas.

Ini perlu dipahami terlebih dahulu, agar penanganan yang dilakukan oleh seorang pendidik benar-benar efektif. Bukankah tidak mungkin menyamakan penanganan pada penyakit batuk dengan penyakit panu?

Kenakalan, sejatinya adalah bentuk pengungkapan diri yang salah. Karenanya, kesalahan itulah yang perlu diperbaiki dengan cara mengarahkan pada pola pengungkapan yang lebih tepat. Hanya salahnya, banyak sekali pendidik yang kemudian merasa risih dengan tindakan menyimpang ini. Sehingga jalan keluarnya adalah membuat mereka semakin terlecehkan.

Padahal tindakan itu akan semakin memperkuat eksistensi dirinya. Tidak adanya penerimaan yang baik, membuatnya semakin nyaman dengan apa yang dilakukan. Mereka semakin kecewa dengan kondisi sosial yang mengitarinya. Akibatnya, semakin besar kekecewaan itu dirasakan, semakin apatis juga peserta didik dengan kondisi sosial yang membuatnya terpinggirkan.

Perlu dipikirkan dengan baik oleh seluruh praktisi pendidikan tentang cara mengarahkan ini. Misalnya dengan memberi ruang dialog antara psikolog, ahli agama, orang tua dan elemen pendidikan lainnya untuk bersama-sama memikirkan cara terbaik untuk mengatasi kenakalan. Sehingga bukan lagi berapologi bahwa tindakan “nakal” itu adalah bagian dari kreativitas. Pernyataan seperti itu hanya akan menambah kaburnya usaha untuk mengatasi kenakalan dan meningkatkan kreativitas.

Kedepan, peserta didik akan menjadi manusia dewasa. Mereka yang terbiasa dengan kreativitas akan merespon masalah kehidupannya dengan lebih baik dan arif. Sementara yang tidak, akan merasa putus asa dan menjadi quitters, sosok pribadi yang selalu keluar dan menghindar dari masalah dan membuat masalah yang berbeda.

Ach. Nurcholis Majid  (Dosen di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 321 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.