Teori Belajar Behavioristik




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Pada tulisan sebelumnya, telah saya jelaskan bahwa, tokoh-tokoh dalam teori belajar adalah mayoritas dari para psikolog. Kenapa?

Karena seorang pendidik, secara emosional harus dapat mengenali peserta didiknya. Maka jangan heran, jika kita menelaah literatur psikologi, akan banyak ditemukan teori-teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Kajian-kajian psikologis inilah yang kemudian melahirkan banyak teori belajar. Diantaranya adalah teori belajar behavioristik.

Fokus kajian teori behavioristik adalah pemahaman pada perubahan perilaku yang diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Salah satu tokoh yang turut mempopulerkan dan menjadi penggerak utama dari teori ini adalah John Broadus Watson (1878-1958). Pada tahun 1930, teori behavioristik menjadi sistem yang dominan dalam ilmu psikologi di Amerika.

Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa, psikologi mengkaji sesuatu yang abstrak dan tidak tampak, yaitu “jiwa”. Anggapan ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, karena justru behaviorisme menolak keras unsur-unsur kesadaran yang dianggap tidak nyata sebagai objek studi kajiannya. Yang menjadi objek kajiannya justru adalah sesuatu yang tampak, bisa diukur dan diramalkan. Apakah itu?

Tidak lain adalah “perilaku”

Perilaku merupakan hasil refleksi dari apa yang dipikirkan oleh manusia. Dengan kata lain, isi pikiran bergantung pada refleksi seseorang terhadap lingkungannya, atau dikenal dengan istilah refleksiologi, sehingga kita dapat membaca pikiran seseorang melalui refleks gerak tubuh manusia. Kita dapat menyimpulkan seseorang itu sedang marah, sedih ataupun gembira, dari refleks raut muka. Karena refleks gerak tubuh merupakan gambaran dari isi pikiran hati manusia.

Poin penting dari teori ini adalah seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan perilaku. Karena itu, perilaku merupakan indikator utama untuk melihat hasil belajar anak didik.

BACA JUGA – Kesadaran Kolektif (3)

Seorang anak belum dapat dikatakan lulus berhitung perkalian apabila ia belum dapat mempraktikkan perhitungan perkalian dalam dunia nyata. Adanya perubahan perilaku di dunia nyata, menurut teori behavioristik, menjadi ukuran seseorang berhasil dalam belajar.

Setiap awal perkuliahan, saya selalu menyodorkan kepada mahasiswa dua gambar untuk dipilih. Pertama : sebuah air yang dituangkan di sebuah cangkir. Kedua :  sebuah air yang dituangkan di sebuah bibit tanaman.

Lalu pertanyaan saya ajukan ke mereka. Kalian pilih mana, sebagai cangkir atau sebagai bibit tanaman?

Sebagian besar menjawab sebagai bibit tanaman. Lalu saya katakan kepada mereka : “Jika kalian memilih bibit tanaman, maka air (ilmu) yang kalian dapat di kelas, harus dapat merubah diri kalian menjadi pribadi yang lebih baik. Air (ilmu) yang kalian dapat di kelas harus dapat merubah perilaku anda menjadi perilaku yang lebih baik dari sebelumnya”.

“Jika air (ilmu) yang kalian dapat di kelas tidak merubah sedikitpun perilaku kalian, maka sebaiknya kalian menjadi gelas. Yang hanya akan dituangkan kembali ketika ditanyakan (yaitu saat UTS-UAS), tapi air (ilmu) itu tidak merubah apapun dari diri kalian”

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 450 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.