Pavlov dan Classical Conditioning




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Masih soal teori belajar Behavioristik. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam teori behavioristik adalah Ivan Pavlov. Ia terkenal dengan teori pengkondisian klasik (classical conditioning). Teori tersebut ditemukan Pavlov secara kebetulan pada tahun 1980-an.

Pada saat itu, ia melakukan percobaan pada seekor anjing, yang kelak percobaan tersebut diterapkan pada manusia. Sebagaian besar percobaan memang dilakukan pada hewan, karena menurut Pavlov binatang dengan manusia memiliki beberapa kesamaan. Diantara kesamaan itu menurut Thorndike ada pada proses belajar.

Apa yang dilakukan Pavlov dengan anjingnya?

Ada empat tahapan dalam pengkondisian klasik (classical conditioning). Yang pertama adalah ketika seekor anjing diberi makan, maka respon yang terjadi adalah anjing mengeluarkan air liur. Tahapan Kedua anjing tadi diperdengarkan bel di depannya, maka respon yang terjadi adalah anjing hanya terdiam, tidak mengeluarkan liur.

Tahapan ketiga, anjing diberikan makan dan diperdengarkan bel secara bersamaan, maka respon yang didapat adalah anjing mengeluarkan air liur. Tahapan terakhir atau keempat, anjing hanya diperdengarkan bel di depannya, dan respon yang didapat adalah anjing mengeluarkan liurnya.

Anda bisa lihat pada gambar di bawah ini :

Gambar pertama menjelaskan tahapan Before Conditioning, Yaitu ketika anjing diberi makan, seekor anjing akan dengan sendirinya mengeluarkan air liur, walaupun tanpa ada pengkondisian sebelumnya. Gambar kedua juga masih pada tahapan Before Conditioning. Yakni ketika seekor anjing dibunyikan sebuah bel. Maka anjing tidak merespon dan tidak mengeluarkan air liur.

Gambar ketiga yaitu tahapan During Conditioning. Menggambarkan keadaan bahwa ketika anjing dibunyikan sebuah bel disertai sebuah makanan, maka anjing akan mengeluarkan liurnya. Gambar terakhir adalah tahapan After Conditioning, yaitu ketika tahapan during conditioning dilakukan berulangkali  maka ketika dibunyikan sebuah bel tanpa disertai sebuah makanan, anjing akan dengan sendirinya mengeluarkan air liur.

Jika anda melihat atraksi dalam sebuah sirkus, seekor gajah atau singa atau lumba-lumba, bisa berdiri atau berputar-putar hanya dengan ayunan tangan seorang pawang, ketahuilah bahwa itu melalui proses during conditioning yang berulang-ulang.

BACA JUGA – 5 Teori Belajar

Demikan halnya dengan manusia, manusia dapat dikondisikan sedimikan rupa. Pengulangan dan latihan pada tahapan during conditioning digunakan agar perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori belajar Pavlov adalah terbentuknya perilaku yang diinginkan sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

Secara umum, teori belajar Pavlov sangat cocok dipraktekkan pada pembelajaran yang mengandung unsur kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks dan daya tahan, seperti percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang dan olahraga. Juga dapat diterapkan untuk anak yang masih memerlukan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi, gemar meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti permen dan pujian.

Jika Pavlov melakukan uji coba pada anjing, Thorndike melakukan uji coba terhadap kucing. Apa yang dilakukan dan bagaimana hasilnya?

Bersambung…

#EducationNotes (41)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 282 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*