Trial and Error Learning




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Jika Pavlov melakukan uji coba pada anjing, Thorndike melakukan uji coba terhadap kucing. Apa yang dilakukan dan bagaimana hasilnya?

Itu adalah pertanyaan yang saya ajukan pada tulisan sebelumnya. Memang masih seputar stimulus, namun uji coba kali ini dilakukan pada seekor kucing. Baik Pavlov maupun Thorndike memiliki pemahaman yang sama bahwa proses belajar hewan dan manusia memiliki kesamaan. Yaitu terletak pada hubungan (koneksi atau asosiasi) antara kesan yang ditangkap oleh pancaindra (stimulus) dengan perbuatan (respon).

Eksperimen yang dilakukan Thorndike ditulis dalam bukunya Animal Intelligence an Experimental Study of Association Process in Animal. Buku ini merupakan hasil penelitian terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti : kucing, anjing dan burung. Namun pada artikel ini, saya hanya membahas satu hewan yang ia teliti, yaitu kucing.

Apa yang dilakukan Thorndike dengan kucingnya?

Ia melakukan eksperimen dengan memasukkan kucing dalam sebuah kotak (kurungan) dalam keadaan lapar, kotak tersebut didesain sedemikian rupa, sehingga ketika kucing itu menyentuh sebuah tombol, maka pintu akan dengan sendirinya terbuka.

BACA JUGA – Pavlov dan Classical Conditioning

Pada uji coba yang pertama, kucing dikondisikan dalam keadaan lapar dan diberikan sepotong makanan yang diletakkan di luar kotak. Setelah itu, suatu perubahan terjadi. Kucing tersebut tiba-tiba menunjukkan respon agresif dengan melakukan gerakan-gerakan apapun dan berusaha agar ia dapat keluar dari kotak dan bisa menyantap makanan di luar kotak. Secara tidak sengaja kemudian kucing itu menekan tombol dan pintu otomatis terbuka.

Pada uji coba kedua, Thorndike melakukan hal yang sama, yaitu kucing dimasukkan kotak dalam keadaan lapar dan di luar kotak diberikan sepotong makanan. Maka, respon yang dihasilkan adalah kucing dapat keluar dari kotak lebih cepat dari sebelumnya.

Berdasarkan uji coba itu, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar ialah hubungan antara stimulus dan respons. Karena itu, teori koneksionisme juga disebut sebagai S-R bond theory dan S-R psycology of learning atau lebih dikenal dengan istilah Trial and Error Learning.

Dalam uji coba tersebut, muncul sebuah fenomena belajar, ada dua hal pokok yang dapat kita amati : pertama : keadaan kucing yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu tidak akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan, barangkali ia akan tidur saja dalam kotak yang mengurungnya. Sehingga, kucing tidak akan belajar untuk keluar. Karena itu, dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti lapar) merupakan hal yang vital dalam belajar. Saya jadi teringat perkataan Steve Jobs “Stay Hungry and Stay Foolish”, tetaplah merasa lapar dan tetaplah  merasa bodoh, dengan adanya perasaan selalu lapar dan perasaan selalu bodoh akan membuat kita tidak berhenti untuk belajar dan terus belajar.

Kedua : bahwa waktu yang diperlukan untuk menyentuh tombol bertambah singkat, dari eksperimen pertama, kedua dan ketiga, begitu juga kesalahan-kesalahan yang dilakukan kian berkurang. Pada akhirnya, kucing sama sekali tidak berbuat kesalahan lagi. Begitu dimasukkan ke dalam kotak, kucing langsung menekan tombol dan keluar.

Fenomena belajar seperti itulah yang kemudian dikenal luas sebagai teori belajar trial and error.

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 282 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*