Bagaimana mengatasi Fobia dan Candu?




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Beralih dari eksperimen yang dilakukan pada hewan, kali ini akan saya sampaikan sebuah eksperimen yang dilakukan terhadap manusia, yaitu pada anak balita.

Pada suatu eksperimen yang cukup kontroversial pada tahun 1921, Watson dan asisten risetnya, Rosalie Rayner melakukan eksperimen terhadap anak balita bernama Albert. Pada awal eksperimen, balita tersebut tidak takut terhadap tikus.

Sang balita merasa nyaman saja ketika ada tikus di depannya bahkan seringkali menjadi teman bermainnya, mungkin ini tikus seperti hamster yang lucu dan imut. Namun ketika dalam waktu yang lain, ketika balita tadi memegang tikus, Watson mengeluarkan suara dengan tiba-tiba dan keras, Albert menjadi takut dengan suara tiba-tiba dan keras tadi, sekaligus takut terhadap tikus. Akhirnya tanpa ada suara keras sekalipun, Albert menjadi takut terhadap tikus.

Hampir sama dengan kasus anak kedua saya, waktu usia 1-2 tahun sama sekali tidak takut dengan kecoa, bahkan ketika ada kecoa yang datang, maka ia dengan sigap mengambil sandal atau apa saja guna memukul kecoa itu, bahkan kadang diinjak sampai penyet. Hehe

Namun, ketika kakaknya yang berusia 6 tahun selalu saja menakut-nakuti adiknya dengan kecoa, bahwa kecoa itu menggigit, kecoa itu jorok dan sebagainya. Maka sekarang anak kedua saya ketika melihat kecoa ia langsung lari dan nangis, padahal dulunya sangat berani dengan kecoa.

Meskipun eksperimen yang dilakukan Watson secara etika dipertanyakan, namun hasilnya menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa manusia dapat “belajar” takut terhadap rangsangan yang sesungguhnya tidak menakutkan. Akan tetapi, ketika rangsangan tersebut berasosiasi dengan pengalaman yang tidak menyenangkan, ternyata menjadi hal yang menakutkan.

BACA JUGA – Kesadaran Kolektif (3)

Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa classical conditioning (teorinya Pavlov) dapat mengakibatkan beberapa kasus Fobia (rasa takut), yaitu ketakutan yang tidak rasional dan berlebihan terhadap objek-objek tertentu atau situas-situasi tertentu.

Bagaimana mengatasinya?

Percobaan Watson kemudian mengilhami para pakar psikologi dalam menggunakan prosedur classical conditioning untuk merawat fobia (rasa takut) dan perilaku yang tidak diinginkan lainnya, seperti kecanduan alkohol dan psikotropika.

Untuk merawat fobia terhadap objek-objek tertentu, pakar psikologi melakukan terapi dengan menghadirkan objek yang ditakuti oleh penderita secara berkala ketika penderita dalam suasana santai. Melalui fase eliminasi (eliminasi stimulus kondisi), penderita akan kehilangan rasa takutnya.

Ketika banyak masyarakat barat merasa fobia terhadap Islam, pasca tragedi WTC, maka stigma Islam selalu identik dengan terorisme. Walaupun belum dapat lepas sepenuhnya dari stigma itu, namun sebagian besar masyarakat barat sudah tidak lagi fobia dengan Islam. Karena apa yang mereka persepsikan tentang Islam sangat bertolak berlakang dengan Islam yang ia lihat selama ini. Stigma negatif yang seringkali ia dapatkan melalui media sosial, sama sekali tidak ditemukan di sebagian masyarakat Islam. Akibatnya, rasa fobia akan dengan sendirinya tereleminasi oleh pengalaman yang ia dapat di lapangan.

Selain menghilangkan rasa fobia, teknik itu dapat digunakan untuk mengurangi rasa candu terhadap sesuatu, candu terhadap alkohol misalnya. Penderita diminta meminum alkohol tertentu yang membuatnya merasa sakit pada bagian lambung. Lama kelamaan, seseorang akan merespons sakit lambung hanya ketika mencium bau alkohol, sehingga ia tidak jadi meminum alkohol. Namun, tidak semua model penerapan seperti itu akan berjalan efektif, hasilnya akan sangat bervariasi, bergantung dari individu dan problematika yang dihadapinya.

Begitu juga dengan anak-anak yang sudah kecanduan gadget, (tentunya anda harus tau terlebih dahulu batasan anak disebut candu itu bagaimana), orang tua dapat menghadirkan pengalaman yang tidak menyenangkan ketika anak-anak bermain gadget, pengalaman itu selalu dihadirkan ketika anak bermain gadget. Sehingga anak akan menyimpulkan bahwa bermain gadget kini tidak senikmat dahulu, tidak sesenang dahulu. Karenanya rasa candu itu akan sedikit demi sedikit tereliminasi.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.