Membangun Kesadaran Nilai Melalui Living Values Education (1)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Sudah lama sebenarnya saya mengetahui Living Values Education (LVE), karena memang ia merupakan salah satu program dari UNESCO 21 tahun yang lalu. Akan tetapi kesempatan untuk dapat mengikuti pelatihan LVE baru hari ini terwujud, yaitu mulai tanggal 22-24 Januari 2018.

Pelatihan LVE kali ini diadakan oleh Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM-UMM) bekerjasama dengan The Asia Foundation (TAF). Walau LVE adalah program UNESCO 21 tahun yang lalu, bukan berarti LVE merupakan program yang tidak relevan untuk saat ini. Justru LVE sangat relevan pada kondisi saat ini, di saat nilai-nilai kebaikan di masyarakat semakin terkikis dan tergerus.

Ketika Prof. Syamsul Arifin ketua PUSAM mengabarkan bahwa beliau melakukan kunjungan ke Jogja pada tanggal 13-14 Desember 2017 dan bertemu dengan program officer The Asia Foundation. Dari pertemuan itu diperoleh kesepakatan terkait agenda LVE dan Kolokium kepancasilaan, seketika itu juga saya membooking seat untuk mengikuti agenda tersebut.

Dalam waktu tiga hari 22-24 Januari 2018, pelatihan LVE diadakan di Shari’ah Radho Hotel Malang. Di hari pertama, pelatihan diisi oleh dua pemateri yaitu, Dr. Rani A. Dewi dari Yayasan Indonesia Bahagia dan Dr. Muqowim dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

BACA JUGA – Jangan Silau dengan Prestasi Sekolah! (1)

Di hari pertama, pemateri menyampaikan sejarah LVE serta 80 negara yang sudah menerapkan LVE. Untuk bisa menjadi pelatih atau trainer di LVE, peserta harus pernah mengikuti pelatihan LVE minimal 6 kali, setelah itu mengikuti TOT (Training of Trainer).

Jika 3 tahun yang lalu sangat sulit mengadakan TOT, karena belum banyak peserta yang mengikuti pelatihan, sehingga para calon trainer harus ke luar negeri untuk mengikuti TOT. Akan tetapi saat ini di Indonesia hampir setiap tahun sudah diadakan TOT.

Selain penjelasan panjang lebar tentang LVE, pelatih membuat kontrak pembelajaran dengan peserta, poin-poin apa saja yang disepakati dalam pembalajaran selama tiga hari. Yang menarik di akhir pelatihan hari pertama adalah pelatih meminta kepada seluruh peserta yang berjumlah 28 peserta untuk menuliskan namanya masing-masing pada kertas kosong, kemudian kertas itu di masukkan di amplop dan diserahkan ke panitia.

Setelah panitia menerima amplop dari peserta yang berisi nama masing-masing, lalu panitia membagikan secara acak amplop itu ke peserta pelatihan. Setiap peserta diminta untuk melihat nama yang tertera di dalam amplop secara sembunyi-sembunyi, jangan sampai teman duduk di samping mengetahuinya.

Nama yang tertera di amplop itu harus diingat dan dihafalkan. Selama 3 hari pelatihan, peserta diharuskan untuk melakukan kebaikan-kebaikan terhadap nama di amplop yang telah diterima, sebisa mungkin tanpa diketahui olehnya.

Di akhir pelatihan, peserta diminta membacakan list dan daftar kebaikan-kebaikan apa saja yang sudah kita lakukan kepadanya. Anggap saja kita sebagai malaikat tak bersayap baginya, dan teman kita yang lain (namanya tidak kita ketahui) menjadi malaikat tak bersayap bagi kita.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 282 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*