Membangun Kesadaran Nilai Melalui Living Values Education (2)




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Ada dua pengertian dalam memaknai Living Values Education Programme (LVEP). Pertama adalah Living Values diartikan sebagai sebuah “nilai-nilai kehidupan”, kata Living diartikan “kehidupan”. Kedua Living Values diartikan sebagai sebuah usaha “menghidupkan nilai-nilai”, kata Living diartikan “menghidupkan”. “kehidupan” dengan “menghidupkan” adalah yang berbeda. Namun, Dr. Budhy Munawar Rahman officer program The Asia Foundation (TAF) lebih cenderung pada pengertian yang kedua, yaitu “menghidupkan nilai-nilai”.

Nilai-nilai apa yang perlu dihidupkan?

Setidaknya ada 12 nilai dalam Living Values Education, yaitu : kedamaian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, kerendahan hati, kejujuran, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan.

Ke 12 nilai tersebut adalah nilai-nilai yang harus ada dalam Living Values Education Programme, walaupun tidak menutup kemungkinan ada nilai-nilai lain dari ke 12 nilai di atas. Yang menarik bagi saya adalah pengambilan nilai-nilai itu oleh UNESCO. Bagaimana UNESCO dapat menentukan bahwa ke 12 nilai tersebut sangat urgent untuk dihidupkan?

Beberapa utusan negara diundang untuk membicarakan Living Values Education, ada banyak utusan negara yang hadir. Dalam forum itu, UNESCO meminta agar setiap peserta menuliskan nilai-nilai apa yang perlu dihidupkan di negara masing-masing. Setelah masing-masing utusan menuliskan nilai-nilai tersebut, UNESCO merekap 12 nilai yang paling sering disebut oleh setiap utusan. Dari situ lalu diformulasikan menjadi 12 nilai Living Values Education.

Bercermin dari metode yang dilakukan UNESCO dalam menentukan nilai-nilai LVEP, maka hari kedua dalam pelatihan LVEP, pelatih meminta peserta menyebutkan 6 nilai-nilai yang menurut masing-masing peserta sangat urgent untuk dihidupkan. Setelah dituliskan, panitia merekap dan melist 6 nilai yang paling banyak disebutkan, yaitu : kejujuran, kasih sayang, menghargai, tanggung jawab, persatuan, cinta, ikhlas, sabar, bahagia dan toleran. Tertulis sepuluh nilai, karena ada 4 nilai yang memiliki perolehan suara sama yaitu 8 suara.

Tidak sama dengan pelatihan-pelatihan lain yang penuh dengan teori. Pelatihan LVEP ini lebih banyak pada kegiatan dan kreativitas yang melibatkan peserta, bisa dibilang 85% pembelajaran dalam LVEP adalah pelibatan peserta didik.

BACA JUGA – Membangun Kesadaran Nilai Melalui Living Values Education (1)

Selain menuliskan nilai-nilai yang perlu dihidupkan, ada dua kegiatan lain yang cukup menarik adalah membuat peta konsep nilai-nilai turunan dari pancasila. Dibuatlah lima kelompok dan masing-masing membuat peta konsep, dari kelima sila dalam pancasila, kira-kira ada beberapa nilai yang bisa diturunkan. Jika Yudhi Latief dalam bukunya “Mata Air Keteladanan” dapat membreakdown kelima pancasila tersebut menjadi 20 nilai, maka dalam pelatihan ini setiap kelompok membreakdown sebanyak mungkin nilai dari setiap sila dalam pancasila dan dituangkan di sebuah peta konsep.

Kegiatan terkahir yang tidak kalah seru adalah setiap kelompok diminta untuk membuat “kampus pancasila” dalam bentuk 3 dimensi. Ya 3 dimensi, bukan sekedar gambar di atas kertas, tapi ia berwujud miniatur-miniatur kecil dari kertas origami. Saya sendiri bingung, tidak bisa membayangkan, bagaimana membuat miniatur kampus 3 dimensi, lha wong membuat origami paling mentok bisanya membuat pesawat, hehe

“Wis pokoke sakdadi dadine”. Ujarku pada kelompok saya sambil melipat-lipat kertas untuk membangun miniatur sebuah masjid dan auditorium. Anda penasaran dengan hasilnya?

Dengan jerih payah dan kerjasama, akhirnya miniatur kampus pancasila itupun jadi, sayapun tertawa sendiri melihat hasilnya. Namun “proses” pembuatan jauh lebih penting dari hasil, karena dari proses kita dapat menangkap nilai-nilai kerjasama, kesabaran, ketelatenan, kedisiplinan dan keberanian.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 321 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.