Pentingnya Mengetahui Regulasi Masuk PTN




SURABAYA – Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) berakhir kemarin Selasa, 6 Maret 2018. Namun, selain melalui SNMPTN, ternyata masih ada jalur masuk PTN yakni SBMPTN dan Mandiri. Juga ada jalur khusus untuk anak pondok pesantren, yakni PBSB dari Kementerian Agama. Lalu bagaimana regulasi penerimaan mahasiswa baru ini?

Dimulai dari tahapan yang paling awal yakni SNMPTN. Kebijakan SNMPTN dimulai dari seleksi per sekolah dengan ketentuan pendaftar sesuai dengan akreditasi sekolah. Dalam halaman web SNMPTN disebutkan regulasi akreditasi sekolah, apabila akreditasi A maka sekolah mampu mengirim perwakilan hingga 50% dari jumlah siswa total.

Apabila akreditasi B maka sekolah mampu mengirim perwakilan 30, untuk akreditasi C hanya berhak 10 % dan apabila belum terakreditasi maka hanya dapat mengirim 5% dari jumlah siswanya. Ini seperti yang dikatakan Siti Machmudah, anggota tim penerimaan mahasiswa baru kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dari aturan yang berlaku tersebut, selanjutnya siswa yang terpilih dari tahap awal akan memasuki tahap lanjut.

BACA JUGA – Lulus Tercepat, Mahasiswa Bidikmisi ITS Ingin Jadi Profesor

Menurut Siti Machmudah, pada tahap ini siswa akan memilih PTN dan jurusan favoritnya. Siswa dapat memilih lebih dari satu jurusan atau lebih dengan ketentuan yang ada. Siswa juga memasukkan beberapa sertifikat prestasinya. “Setelah itu data tersebut akan dikirim ke PTN masing – masing” ujar Machmudah. Di Perguruan Tinggi Negeri, data tersebut akan mengalami seleksi yang panjang. “Sebelum data dikirim menuju jurusan, akan ada seleksi di pusat PTN” tambahnya.

Di pusat perguruan tinggi, data tersebut ada seleksi tentang indeks sekolah. Machmudah mengatakan “Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya hanya menerima indeks sekolah diatas 0.7, apabila kurang maka otomatis terseleksi.

Regulasi ITS, indeks sekolah ditentukan dari 3 hal. Menurut Siti Machmudah,akreditasi menempati urutan pertama dalam menilai indeks sekolah. Setelah itu sekolah dinilai dari alumni sekolah pada PTN tersebut. “Indeks Prestasi (IP) alumni sekolah juga menjadi aspek mempengaruhi indeks sekolah” sambungnya. Yang terakhir adalah jumlah siswa yang diterima dalam PTN melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN dalam 3 tahun terakhir.

Setelah dilakukan seleksi data oleh masing masing PTN, selanjutnya data akan dikirim ke jurusan masing-masing. Pada tahap ini akan di seleksi kemampuan siswa diantaranya akademik siswa dan organisasi. Akademik siswa meliputi nilai rapor kelas 1 SMA Hingga kelas 3 SMA semester 1.

Machmudah menambahkan setiap sekolah memiliki nilai KKM dan standar kemampuan yang berbeda-beda. Ada sekolah dengan kkm tinggi ada yang rendah, ada yang mudah mendapatkan nilai dan sulit. Itu semua juga menjadi acuan indeks siswa” dan seleksi yang terakhir adalah tentang perjalanan hidup siswa terkait riwayat juara perlombaan atau organisasi.

“Ini yang akan membedakan siswa berprestasi dan tidak dalam sebuah sekolah”, ungkapnya.

Menurut Siti Machmudah, SNMPTN sendiri mempunyai jatah hanya 30% dari jumlah keseluruhan mahasiswa satu angkatan. Sedangkan untuk SBMPTN mempunyai jatah 40% dan sisanya adalah tes mandiri.

Jatah ini berbeda dengan tahun sebelumnya, menurut Siti Machmudah tahun 2016 jatah untuk SNMPTN adalah 40% ,namun karena mengikuti peraturan pemerintah tentang minimum SNMPT, akhirnya penerima jalur ini hanya 30% dari jumlah mahasiswa satu angkatan dalam satu jurusan.

Pentingnya para siswa dan guru untuk mengetahui informasi terkait SNMPTN ini, sehingga siswa dan guru mempunyai strategi agar tidak terjebak dalam menunggu berita penerimaan SNMPTN dengan belajar giat untuk SBMPTN.

SBMPTN sendiri merupakan tes yang susah di mata siswa SMA. melihat dari data yang dihimpun ITS sendiri, ITS masuk ke 4 PTN negeri terketat di Indonesia. Peminatnya sangatlah banyak apalagi jurusan teknik informatika ITS. berdasarkan data yang di himpun ITS jumlah pendaftar teknik informatika memiliki ketetatan hingga indeks 3. “Ini artinya sangat ketat”, Sambung Machmudah.

Indeks ketetatan dipengaruhi banyaknya peminat namun yang diterima sangatlah sedikit. Oleh karena itu apabila seorang siswa tidak diterima SNMPTN maka solusi yang ditawarkan agar bisa merasakan bangku perkuliahan menurut Machmudah adalah memilih jurusan dengan indeks ketetatan yang tidak terlalu tinggi. Hal ini dimaksudkan agar mereka mudah untuk masuk PTN.

Jalur yang terakhir yakni mandiri. Setiap perguruan tinggi mempunyai hak untuk membuka jalur khusus, yakni jalur mandiri. Beberapa perguruan tinggi negeri menyebutnya berbeda – beda, ada yang SIMAK UI, UTUL UGM, UM UNDIP, dan sebagainya.

“Kalau ITS namanya SMITS” lanjut Machmudah. Tujuan jalur mandiri ini adalah agar siswa yang tidak lulus kedua jalur yang sebelumnya masih memiliki harapan untuk merasakan bangku perkuliahan di perguruan tinggi negeri. Ada satu lagi jalur khusus dari Kementrian Agama (Kemenag) yakni PBSB. Jalur ini dikhususkan untuk anak pondok yang terdaftar di Kemenag. “Semoga siswa Indonesia mampu mengenyam pendidikan perguruan tinggi”, ungkapnya. (Red)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 282 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*