Teaching is Touching




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Ada banyak pelajaran dan ungkapan menarik yang saya dapat dari pelatihan LVEP, di antaranya adalah Teaching is Touching. Teaching tidak hanya sekedar mengajar. Tidak hanya sekedar mendidik. Tapi lebih dari itu, Teaching is Touching.

Jika dalam kajian Pendidikan Islam dikenal istilah Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib. Maka dapat kita maknai Ta’lim adalah mengajar, Tarbiyah adalah mendidik, dan Ta’dib adalah menyentuh.

Ada sebuah hadith yang mengatakan Khaatibunnaasa ‘ala qadri ‘uqulihim, serulah manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka. Penyesuaian ini tentu dalam rangka agar dapat menyentuh, bagaimana mungkin dapat menyentuh sedang faham dan mengerti apa yang dibicarakan saja tidak.

Saya masih mengalami diajar oleh dosen-dosen zaman old. Memang ada sebagian dari mereka betul-betul dapat menyentuh, tapi tidak sedikit dari mereka yang hanya membacakan (mendektekan) catatannya kepada mahasiswa. Saya melihat apa yang dibaca adalah catatan beliau semasa kuliah dahulu. Karena sangat lamanya, kertasnya terlihat lapuk dan menguning.

Demikian juga dengan para ustad yang berceramah, anda mungkin pernah mendengarkan apa yang disampaikan sangat menyentuh hati, betul-betul mendalam, hingga waktu berjalan 1 jam pun serasa baru satu menit. Tapi ada juga ustadz yang berceramah, walaupun baru 10 menit, terasa 1 jam, ingin segera selesai dan ke luar dari ruangan. Tentu ia tidak bicara dari hati, sehingga tidak dapat menyentuh audience.

Guru tidak hanya mengajar sebagai penggugur kewajiban, bukan juga mengajar agar sekedar tercapainya tujuan dalam rumusan-rumusan yang tertulis rapi dalam kurikulum, lebih dari itu, guru harus menjadi seorang pendidik yang inspiratif.

Dalam bahasa Rhenald Kasali, pendidikan di Indonesia membutuhkan lebih banyak guru inspiratif, bukan guru kurikulum. Hanya saja, guru dengan tipe inspiratif ini jumlahnya tidak lebih dari 5%. Di antara ciri guru inspiratif adalah guru yang mendidik (caregiving) dan menyentuh (touching), bukan mengajar (teaching), guru yang melakukan proses pembelajaran sebagai sebuah panggilan, bukan karena tuntutan formalitas-administratif, apalagi terpaksa menjadi guru karena tidak diterima di dunia kerja yang lebih menjanjikan.

Guru inspiratif lebih fokus pada memberi (giving), melayani (serving), dan peduli (caring). Sementara itu guru kurikulum lebih sibuk dengan urusan administratif, fokus pada mendapatkan (how to get), digerakkan lebih banyak pada tuntutan di luar dirinya seperti karena sertifikat, karena jadwal, karena tata tertib dan karena peraturan.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 350 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.