Merubah atau dirubah?




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Seusai mengajar mata kuliah, seperti biasa saya menyarankan kepada para mahasiswa untuk kembali membaca materi dan buku referensi yang telah ditentukan, lalu saya tutup dengan salam. Baru beberapa langkah saya keluar dari kelas terdengar seorang mahasiswi memanggil saya “Pak Arfan”.

Saya berhenti melangkah dan mencoba mencari sumber suara tadi. “Pak Arfan saya boleh bertanya?” sambil sedikit mengambil nafas.

“Oh kamu to, mau tanya apa?” sambil mengajaknya menepi.

“Begini pak, sebenarnya LGBT itu boleh gak sich?” tanya dia.

“Memangnya kenapa” saya kembali bertanya.

“Ehhmmm gimana ya pak jelasinnya”

“Kalau ada sesama cewek gitu, saling berdekatan dan sampai tinggal serumah berdua boleh gak pak?”

“Ya setiap perempuan kan biasanya memiliki teman dekat, jangankan serumah, sekamarpun kan gak masalah, emang kalau sudah sekamar mau ngapain? Kan banyak temanmu di sini yang kost sekamar berdua” saya berupaya menjawab.

“Yaah kalau gitu saja ya gak masalah pak, kalau ini sampai melakukan sesuatu” jawabnya.

“Melakukan sesuatu gimana maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Ya gitu dech pak, masak bapak gak ngerti sich” jelasnya.

“Sebentar, ini yang tanya temanmu atau kamu sendiri?” saya semakin penasaran.

“Hehe saya sendiri sich pak” sambil tersipu malu.

Saya pandangi mahasiswi itu, tidak ada yang aneh, pakaian sopan, berjilbab, aktif dalam berkuliah. Selama ini saya hanya mendengar kasus LGBT di media sosial ataupun berita-berita, kini saya berdialog langsung dengan pelaku LGBT dan itu mahasiswi saya sendiri!. Wow amazing.

“Tapi saya sudah tiga bulan ini tidak gabung lagi sama mereka”

BACA JUGA – Canangkan Program ODF, ITS Bebaskan BAB Sembarangan

“Kenapa?” tanyaku

“Ya ini kan saya masih sakit pak” sambil menunjuk kakinya yang diperban dengan gift, memang tiga bulan yang lalu dia kecelakaan dan mengakibatkan kakinya patah, aktifitasnya pun akhirnya terbatas, termasuk dengan teman-teman LGBTnya

“Apa aktifitasmu dengan mereka?”

“Futsal Pak” sambil tersenyum.

“oo cewek juga main futsal ya” pungkasku

Obrolan saya panjang lebar, terkait aktifitas dia dengan mereka, pada batas-batas apa yang mereka kerjakan. Mahasiswi saya tadi meminta saran apa yang harus diperbuat, sepertinya ia sangat tidak enak dengan teman-temannya ketika harus keluar dari komunitas futsal itu, memang aktifitas futsal tidak masalah, akan tetapi pertemanan di luar itu mengindikasikan pertemanan yang abnormal.

Pemain futsal seluruhnya adalah perempuan, tapi tidak semua berpenampilan perempuan, sebagian dari mereka yang dianggap macho berpenampilan layaknya lelaki, bahkan diawal-awal dia bergabung, dia tidak mengetahui kalau itu adalah perempuan, karena sangat mirip lelaki.

Ada kegundahan di hatinya, ketika dia akan bergabung setelah kakinya sembuh, tentu dia akan kembali melakukan itu dan mungkin akan terjerumus jauh lebih dalam. Akan tetapi jika dia tidak kembali, dia merasa tidak enak dengan teman-teman yang sudah dua tahun bersahabat dengannya.

Saya tetap memberikan saran kepadanya agar berhati-hati. Bagaimanapun, teman adalah pemberi pengaruh besar terhadap perilaku kita. Maka dalam sebuah hadits dijelaskan teman yang buruk itu seperti peniup api, memiliki dampak buruk bagi kita, setidaknya kita akan mendapati bau busuk atau gosong akibat api itu.

Dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa nanti di akhirat akan ada orang merasa menyesal kenapa tidak menjadikan si fulan (teman baik) sebagai temannya ketika di dunia “ya wailata laitani lam attakhid fulanan kholila”.

Tentu pilihannya adalah merubah mereka, atau justru kita yang akan dirubah mereka. Mempengaruhi mereka untuk menjadi baik atau malah kita yang dipengaruhi sehingga menjadi buruk. Seindah-indah intan atau berlian, jika dilempar di lumpur, maka ia akan manjadi kotor dan tampak tidak indah. Karena itu pilihannya hanya dua “merubah atau dirubah”.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 344 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.