Hernowo dan Kekagumannya pada Pramoedya




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

“Mas Arfan, Anda harus ke sini kalau ini tak dipamerkan di Surabaya. Ada pameran khusus “ruang kerja” Pram. Sangat menginspirasi. Kata keluarganya, Pram tak pernah berhenti bekerja”

Itu adalah Itu adalah dialog terakhir saya dengan pak Hernowo Hasyim di WhastsApp Group (WAG) Sahabat Pena Kita (SPK). Beliau pengagum berat Pramoedya Ananta Toer. Pak Her juga mengatakan : “Di tengah warisan Pram, saya seperti seorang penulis yang tak punya apa-apa”

Ketika itu ada pameran tentang Pramoedya di Jakarta, beliau menjelaskan kesannya setelah mengunjungi pameran itu. Saya yang juga pengagum Pram langsung ikut berkomentar dan bertanya, apakah pameran itu akan diadakan di Surabaya? Dialogpun berjalan sangat menarik, dan seluruh dialog tersebut saya beri tanda bintang, agar mudah mencarinya. Tak disangka beberap minggu setelah kunjungannya ke pameran Pram, pak Hernowo menyusul Pram menjadi sebuah legenda. Dalam sekejap saya meraih handphone dan menjadi dialog yang sudah saya beri tanda bintang.

BACA JUGA – ITS Fasilitasi Balitbanghub Tingkatkan Penelitian Berbasis Riset

Betapa merendahnya seorang Hernowo di hadapan Pram, padahal tingkat produktivitas Pak Her sangat mengagumkan, beliau pernah menulis 24 buku hanya dalam waktu 4 tahun. Artinya dalam setahun ia mampu menulis 6 buku, berarti dalam setiap 2 bulan sekali ia mampu menerbitkan buku.

Saya mengenal pak Hernowo semenjak bergabung di Sahabat Pena Nusantara (SPN), di antara penulis-penulis senior yang ada di SPN, saya termasuk pengagum pak Hernowo, karena tulisannya selalu berisi dan disertai kutipan-kutipan tokoh yang sangat memotivasi.

Secara teoritis saya sama sekali tidak pernah belajar teori menulis, ya mengalir begitu saja, setelah saya menerbitkan 5 buku, baru saya belajar teori menulis dari pak Hernowo, melalui bukunya Flow di era Sosmed, Quantum Reading dan Quantum Writing.

Satu teori yang ditemukan oleh Hernowo dalam teori menulis, yaitu “mengikat makna”, seakan ketika mendengar istilah mengikat makna maka yang muncul nama Hernowo. Inspirasinya diambil dari sebuah pepatah “Al Ilmu Shoidun wa kitabatu Qoyduhu, Qoyyid suyudaka bihibalil watsiqoti”, sesungguhnya ilmu itu ibaratya binatang buruan, maka ikatlah binatang buruanmu dengan ikatan yang kencang.

Aplikasi teori “mengikat makna” selalu disampaikan di berbagai seminar dan tulisannya, khususnya pada web manistebu.com, karena seringkali banyak penulis pemula yang tidak dapat memahami apa yang dimaksud dengan mengikat makna.

Seperti halnya Hernowo, penulis yang kagum dengan Pram, saya sendiri sejak mahasiswa sudah mengagumi Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia merupakan karya Pram pertama kali yang saya baca, dilanjutkan dengan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Tidak berhenti disitu, saya juga mengoleksi beberapa karya Pram yang lain seperti Gadis Pantai, Menggelinding, Panggil Aku Kartini Saja dan Arok Dedes.

Ketekunan Pram lah yang menjadi reminder saya ketika sedang bermalas-malasan berkarya. Dalam keadaan serba terbatas Pram bisa menelorkan karya, sedangkan saya dalam keadaan yang serba ada sangat terbatas dalam berkarya.

Hernowo dan Pram keduanya kini menjadi legenda, jika pram konsen pada penulisan buku novel sejarah, Hernowo lebih pada menggerakkan gerakan literasi melalui teori-teori menulis yang ia ciptakan. Wal akhir, tulisan ini sebagai sebuah memoar mengenang Alm. Hernowo Hasyim. Selamat Jalan Pak Her, semoga semangatmu, teori mengikat maknamu menjadi jariyah nantinya di akhirat kelak.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 322 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.