Hijrah bukan Sebuah Kekalahan




Oleh : M. Arfan Mu’ammar

Apakah setiap yang menang pasti berhasil? apakah yang kalah pasti gagal? Pernyataan seperti itu perlu diuji.

Kita semua mungkin mengenal sejarah para nabi, tapi apakah ending cerita mereka selalu menggembirakan? 

Kalau dalam cerita superhero Marvel maupun DC, superhero selalu menang di akhir cerita, kecuali film Batman Vs Superman, dalam film itu Superman mati. Tapi pada film Justice League Superman hidup lagi. 

Ya. Pemeran utama selalu menang. Dan kemenangan adalah keberhasilan. Jika demikian, apakah kekalahan adalah sebuah kegagalan?

Kebenaran tak selamanya berupa kemenangan, sebagaimana kekalahan tak otomatis mengonfirmasi sebuah kejahatan. Jangankan politik yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam, bahkan sejarah para Nabi pun banyak yang berujung pada kekalahan.

Nabi Yahya dipenggal kepalanya. Nabi Zakaria digergaji tubuhnya saat bersembunyi di dalam pohon. Nabi Isa dikhianati muridnya sendiri. Apakah ketiga Nabi tersebut lantas kita anggap kalah dan bersalah, sedang lawan-lawan mereka yang menang kita anggap berada dalam kebenaran?

Sejarah Nabi Muhammad dan keluarganya malah begitu pilu untuk dituturkan. Sejarah mencatat kekejaman dan kekejian yang dilakukan Abu Sufyan terhadp Nabi Muhammad dan para sahabat beliau. Abu Sufyan bin Harb adalah salah satu pemuka suku Quraisy yang pada awalnya sangat menentang Islam.

Kekejaman Abu Sufyan dan teman-temannya membuat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Kejadian itu tepat setelah bai’at Aqobah kedua. Orang-orang Anshor berba’it akan membela Nabi Muhammad sebagaimana mereka membela anak istri dan keluarga sendiri, mereka selalu menunggu kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah. Sedangkan orang-orang Muhajirin di Mekkah, harap-harap cemas kapan mereka diizinkan oleh Nabi untuk pergi ke Madinah, karena intimidasi dan kekejaman Abu Sufyan dan teman-temannya semakin menjadi-jadi.

Selain dua hal tersebut, pembesar-pembesar Quraisy dan mayoritas penduduk Makkah menolak dakwah nabi. Ketiga hal itulah yang mendorong gerakan hijrah ke Madinah, yaitu 1). Adanya golongan yang menjamin dakwah nabi di Madinah, 2). Kekejaman yang semakin menjadi dan 3). mayoritas penduduk Makkah tidak menerima dakwah nabi, termasuk pembesar Quraisy.

Lantas jika kemudian Nabi Hijrah, lalu nabi dianggap kalah? faktanya 8 tahun kemudian nabi kembali dan menaklukkan kota Makkah (fathu Makkah), penduduk Makkah pun berduyun-duyun masuk Islam (Yadkhuluuna fi dinillahi afwaja). 

Mundur bukan berarti kabur. Lari bisa jadi menyusun strategi. Yang menang jangan jumawa. Yang kalah jangan berkecil dada. Tuhan tak selalu bekerja sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi Tuhan selalu tau apa yang kita inginkan.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 340 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.