ITS  Menjadi Rujukan Pengajaran dan Pengembangan BIPA




Surabaya – Sebagai salah satu institusi Perguruan Tinggi di Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya telah menunjukkan jati dirinya dalam mencapai World Class University (WCU). Salah satu bukti pencapaian ITS-WCU adalah semakin banyaknya mahasiswa asing dari tahun ke tahun yang menuntut ilmu di ITS untuk studi lanjut atau untuk kepentingan yang lain.  Dengan datangnya mahasiswa asing ke ITS untuk belajar, otomatis berbagai hal dan bantuan perlu dipersiapkan agar keberlangsungan kehidupan mahasiswa asing (internasional student) di ITS berjalan dengan lancer. Persiapan dan  pelayanan akademis yang sangat nyata adalah membantu mahasiswa asing dalam kemampuannya berbahasa Indonesia.

UPT Bahasa dan Budaya memiliki tanggung jawab dalam pengajaran dan pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di ITS. Ratna Rintaningrum, Ph.D, Ka UPT Bahasa dan Budaya ITS mengungkapkan hal itu. Ratna menjelaskan bahwa berbagai hal telah dilakukan untuk mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran BIPA. Pengembangan yang nyata adalah perpaduan antara pembelajaran formal classroom instruction dan non-formal classroom instruction, dengan tanpa mengurangi esensi pembelajaran kemahiran berbahasa. Yang jelas kita mamadukan pembelajaran kemahiran berbahasa dan wawasan keIndonesiaan, yaitu budaya Indonesia. Kegiatan-kegiatan BIPA di unit tersebut telah banyak dipublikasikan oleh berbagai media elektronik dan nonelektronik.

Kemampuan UPT Bahasa dan Budaya membuat perpaduan berbagai metode pengajaran, membuat UB (Universitas Brawijaya), Malang, mengundang Ratna Rintaningrum sebagai salah satu keynote speaker dalam acara Hibah Visiting Professor Program 3 in 1, dan membawa tema Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia  Bagi Penutur Asing Berbasis Kearifan Lokal.  Ratna menambahkan bahwa ia sangat bersyukur karena ITS tidak memiliki Departemen Bahasa, tetapi ‘hanya’ memiliki UPT Bahasa, tetapi mendapat pengakuan dari universitas yang memiliki Departemen Bahasa untuk pengembangan sebuah ilmu. Apalagi programnya sangat bergengsi yaitu Visiting Professor. Saat itu Ratna disandingkan dengan Professor Zuber dari Islamic International Malaysia University. Bagi Ratna dimanapun bekerja, prinsipnya kerja tuntas dan totalitas, walaupun Ratna mengakui banyak tantangan, rintangan, dan hambatan, tetapi semua yang terjadi disikapi secara positif.

BACA JUGA – Mahasiswa ITS Raih Best Delegate pada ESOGÜ MUN 2018

Ada empat (4) topic yang harus diselesaikan Ratna dalam kegiatan tersebut (1) Kurikulum  Pengajaran BIPA di Indonesia; (2) Metode Pengajaran BIPA; (3) Strategi Mengembangkan Kerjasama BIPA Antar institusi di Dalam dan Luar Negeri; dan (4) Metode Pengajaran BIPA Berbasis Kearifan Lokal. Topik yang ditawarkan panitia sangat bagus, dan Alhamdulillah bisa diselesaikan dengan baik. Hal ini terbukti dari para audience yang puas dengan materi yang disampaikan, dan sangat antusias untuk bertanya ini itu seputar pengajaran dan pengembangan BIPA ke depan. Acara dihadiri Professor dan Praktisi, Dosen dan Mahasiswa makanya dinamakan 3 in 1. Ratna sendiri didapuk sebagai praktisi, pengelola, dan sekaligus pengajar BIPA. Topiknya memang penuh tantangan, tetapi mampu diselesaikan dengan baik, dengan berbekal ilmu yang pernah dipelajari selama studi di Australia. Itu bagian dari disertasi saya, imbuh Ratna. Selain itu Ratna menambahkan bahwa ketika masih studi lanjut di Australia, dia pernah beberapa kali dimintai bantuan mengajar di School of Asian Studies, Flinders University, South Australia di mana ada mata kuliah Bahasa Indonesia. Ratna juga pernah menemani mahasiswa local Australia dan mahasiswa asing dari negara lain dalam kegiatan outdoor learning pembelajaran Bahasa Indonesia. Di Flinders University kita memiliki Pendopo yang kita gunakan sebagai media pembelajaran outdoor learning. Ratna juga pernah dihadirkan di Colonel Light Garden Primary School beberapa kali untuk mengenalkan Bahasa Indonesia dan Budaya Indonesia.

Ratna berharap untuk ke depan kegiatan tersebut di atas bisa ditindaklanjuti dengan berbagai kerjasama yang lain yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu Ratna berharap lebih banyak lagi universitas-universitas dalam dan luar negeri yang bekerjasama dengan ITS. Untuk itu Ratna berharap bantuan dan dukungan dari institusinya sendiri yaitu ITS, terutama dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusia dan peningkatan fasilitas, sarana, dan prasarana. (Red)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 375 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.