Adanya Bias Gender, ITS Pacu Wanita STEM Unjuk Gigi




Surabaya – Secara global, hanya tiga dari sepuluh peneliti yang bekerja di industri Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) yang merupakan perempuan. Meskipun di tingkat sarjana persentase wanita di STEM adalah 50 persen, namun angka tersebut berangsur-angsur menurun menjadi 30 persen pada jenjang master dan 18 persen di jenjang doktor. Fenomena rendahnya minat wanita di lingkup bidang STEM ini ditanggapi secara sigap oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui rangkaian acara Women in STEM (WISE), Rabu (6/2).

Pada sub-acara berupa panel diskusi yang dibuka terbatas untuk 200 orang itu, ITS mendatangkan tiga wanita hebat yang memiliki kontribusi besar di bidangnya. Dengan mengangkat tema The Rise of Women is The Rise of Nation, WISE bertujuan untuk membuka wawasan wanita, khususnya mahasiswi, tentang isu kesenjangan gender. Di mana isu nilah yang sering dan masih menjadi perdebatan khususnya di bidang STEM.

ITS melalui seminar ini bertugas membekali mahasiswa dengan skill untuk menghadapi berbagai tantangan. Selain itu juga guna memberdayakan mereka sebagai agent of change. “Ini untuk menegaskan bahwa perempuan mempunyai kesempatan yang sama besar dengan laki-laki dalam membangun karir di bidang manapun tanpa harus menghadapi diskriminasi gender,” ucap Direktur Hubungan Internasional, Dr Maria Anityasari ST ME.

BACA JUGA – UPT Bahasa dan Budaya ITS Milik Semua Kalangan

Seminar ini sendiri diawali dengan paparan data dan fakta mengenai evolusi peluang dan tantangan perempuan dalam STEM oleh Dekan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian (FTSLK), Dr IDAA Warmadewanthi ST. Ia menjelaskan bahwa rendahnya tingkat partisipasi pekerja perempuan di bidang teknik terutama disebabkan oleh adanya bias gender dalam lingkup STEM. “Karena masih ada yang berpendapat bahwa bidang tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan tidak memiliki kapabilitas yang sama untuk mengejarnya,” tuturnya.

Hal ini diperparah dengan masih kurangnya representasi wanita di bidang STEM untuk dijadikan role model. Sistem pendidikan, lanjutnya, juga menambah persoalan bias STEM ini. Misalnya saja di SMA kita hanya diajarkan penemu yang notabene laki-laki seperti, Einstein, Newton, Edison, dan lain-lain. “Namun sangat minim dipelajarinya penemu wanita seperti Marie Curie, Dorothy Hodgkin, Elizabeth Blackburn, dan lainnya yang tak kalah penting bagi dunia sains,” terang dosen Teknik Lingkungan ini.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan perbandingan gender, tingkat partisipasi pekerja perempuan yang tersedia di pasar tenaga kerja dalam negeri sekitar 55 persen yaitu lebih rendah dari laki-laki (83,19 persen). Terkhusus untuk pekerjaan di industri STEM, tercatat hanya sekitar 30 persen pekerja perempuan.

Namun, walaupun jumlah persentase pekerja perempuan di industri STEM ini tergolong kecil, menurut UNESCO, angka tersebut masih lebih tinggi dari rata-rata negara-negara di Asia Tenggara yakni sebesar 23 persen. Peringkat ini menempatkan lndonesia berada di garda terdepan dalam rasio perempuan terhadap pekerja laki-laki di industri STEM. “Ini merupakan berita positif karena berarti peluang meningkatkan pekerja perempuan di STEM masih terbuka lebar,” tutupnya. (red)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 466 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.