MMT ITS dan RMIT Australia Sukses Gelar Seminar Teknik Mengajar Pendidikan Bisnis Eksekutif




SURABAYA – Program studi Magister Manajemen Teknologi (MMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sukses menyelenggarakan kegiatan seminar bertajuk mengajar program pendidikan eksekutif di sekolah bisnis. Bertempat di lantai dua Hotel Swiss Bellin Manyar Surabaya, seminar ini mengajak para dosen MMT ITS untuk berdiskusi serta memperkenalkan bermacam macam tipe pengajaran yang telah dilakukan RMIT University pada program studi manajemen, Selasa (12/3).

Acara ini dihadiri langsung oleh kepala Departemen MMT ITS Prof Ir I Nyoman Pujawan M Eng PhD , Dekan Prof Ir Udi Subakti Ciptomulyo, serta segenap dosen MMT ITS. Adalah Prof Caroline Chan, seorang profesor sistem informasi RMIT University Australia, dan Prof Booi Kam, direktur program logistik dan supply chain management RMIT University Australia, didapuk menjadi pembicara utama dalam pagelaran seminar ini.

Prof Udi Subakti mengatakan, pentingnya tenaga pendidik memiliki pengalaman dan kualitas mengajar yang cukup baik untuk menghasilkan siswa dengan skill tinggi. Apalagi mengajar di bidang manajemen, perlu memiliki pemahaman yang cukup bagus dan jam terbang tinggi dalam menyelesaikan permasalahan (study case) yang ada. “Permasalahan yang terjadi dalam sebuah industri bervariasi, oleh sebab itu setiap permasalahan memiliki solusi yang berbeda beda, ” kata Profesor ITS ini.

BACA JUGA – Hadirkan Profesor asal Amerika, STITNU Al-Hikmah Mojokerto Sukses Gelar Seminar Internasional

Kemudian Profesor Booi Kam menjelaskan bahwa dalam dunia pembelajaran dikenal dengan istilah semakin banyak guru menjelaskan, semakin banyak murid belajar dari guru tersebut. Istilah ini sangat populer, namun dalam penerapannya, semakin banyak guru menjelaskan belum tentu semakin banyak murid belajar. Hal itu pun berlaku sebaliknya. “Karena tidak setiap murid memiliki pemahaman yang sama,” jelas professor Australia ini.

Booi menyebutkan bahwa ilmu yang dipelajari di dunia ini terbagi menjadi dua jenis. Pengetahuan konseptual dan pengetahuan faktual. Untuk pengetahuan konseptual, Booi mencontohkan dengan garis yang konstan naik dalam diagram cartesius. Sumbu Y diibaratkan dengan kemampuan guru mengajar dan sumbu x adalah pelajaran yang didapatkan murid. “Dalam mengajar pengetahuan konseptual, semakin banyak guru menerangkan, dapat menambah wawasan murid,” kata

Booi mengatakan, pengetahuan konseptual dapat dikenal dengan istilah hard science. Sifat dari pengetahuan konseptual ini yakni sudah paten. Kebanyakan telah ditemukan pada zaman dahulu dengan rumus yang tepat. Selain itu orang yang mempelajari ini dapat dikatakan passive learning. “Pengetahuan faktual dapat dipelajari dengan seksama mengacu penelitian penelitian yang sudah ada atau dapat dibilang berupa konsep,” ungkapnya.
Sedangkan pengetahuan faktual menurut Booi adalah pengetahuan yang selalu berkembang dengan cepat. Booi pun mencontohkan dengan garis yang perlahan naik dalam diagram cartesius. Untuk mencapai sebuah titik pembelajaran yang sangat dipahami seorang murid, dibutuhkan effort lebih oleh sang guru dalam mengajar. “Dalam mengajar pengetahuan faktual, perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat. Oleh sebab itu harus mengacu dengan kejadian saat ini,” jelasnya

Booi melanjutkan pengetahuan faktual dapat dikenal dengan istilah soft science. Sifatnya yakni tidak pasti, berubah – ubah, membutuhkan kreativitas yang tinggi dalam menyelesaikan permasalahannya. Selain itu orang yang mempelajari ini dapat dikatakan passive learning. “Pengetahuan faktual selalu berubah – ubah. Tantangan dosen dan mahasiswa untuk memecahkan permasalahan/ study case terkini,” sambungnya

Pengetahuan faktual ini yang nantinya akan dipelajari oleh mahasiswa manajemen. Contoh konkritnya yakni dalam menyelesaikan study case permasalahan yang selalu berubah – ubah. Harapannya mahasiswa mampu menyelesaikan berbagai permasalahan manajemen baik di industri besar maupun kecil. “Oleh sebab itu pentingnya latihan study case bagi mahasiswa MMT,” ujarnya

Untuk proses mengajar di RMIT, Caroline Chan menjelaskan, model pembelajaran Universitas ini dengan sequence (urutan). Setiap mahasiswa hanya mengambil satu pelajaran setiap enam minggu, tidak bisa lebih. Setalah minggu keenam, mahasiswa dapat mengambil mata pelajaran lainnya. Dalam satu tahun, satu mahasiswa maksimal mengambil enam mata pelajaran dengan total 36 minggu. “Cara ini efektif dalam memfokuskan pemikiran mahasiswa dalam satu periode pembelajaran,” jelas wanita ini.

Charoline Chan mengatakan tipe pembelajaran yang baik tidak selalu monoton. Terkadang dosen harus mampu mengajak mahasiswa untuk melihat industri. Pun harus mampu mengajak mahasiswanya agar lebih berfikir terbuka mengenai pengembangan manajemen kedepannya. “Selain itu dosen harus mampu membawa permasalahan industri kedalam kelas,” jelasnya

Disamping itu, Prof. Nyoman Pujawan mengatakan, dengan adanya acara seminar ini, diharapkan para dosen MMT ITS mampu belajar teknik pengajaran dengan baik. Nyoman juga berharap kedepannya MMT ITS mampu mengimplementasikan salah satu teknik pengajaran yang dibawa oleh professor dari RMIT University ini. “Kami ingin meningkatkan pola pembelajaran terlebih dengan model online dan study case bank untuk membantu mahasiswa belajar,” pungkasnya. (red)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 466 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.