ITS Raih Runner Up di Ajang Gemastik 2019




Surabaya – Kompetisi bergengsi Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (Gemastik) ke-12 tahun 2019 yang berlangsung di Universitas Telkom, Bandung telah melewati puncaknya, akhir pekan lalu. Kontingen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menutup malam tersebut dengan meraih predikat runner up dengan total raihan enam medali.

Terdapat 11 kategori yang dilombakan yaitu Pemrograman (Programming), Keamanan Siber (Cyber Security), Penambangan Data (Data Mining), Desain Pengalaman Pengguna (UX Design), Animasi (Animation), Kota Cerdas (Smart City), Karya Tulis Ilmiah TIK (ICT Scientific Paper), Pengembangan Perangkat Lunak (Software Development), Piranti Cerdas Sistem Benam dan IoT (Smart Device, Embedded System and IoT), Pengembangan Aplikasi Permainan (Game Development), dan Pengembangan Bisnis TIK (ICT Business Development).

Ketua Kontingen ITS pada Gemastik ke-12, Hadziq Fabroyir SKom PhD, menjelaskan bahwa kontingen ITS berhasil membawa pulang enam medali dari sembilan kategori lomba yang diikuti. Secara rinci, ada tiga medali emas, satu medali perak, dan dua medali perunggu dari total 12 tim ITS yang masuk ke babak final. “Semua tim sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan pantas untuk mendapatkan penghargaan itu,” tuturnya.

Untuk medali emas sendiri, salah satunya berhasil disumbangkan oleh Tim H3r0es dari kategori lomba Keamanan Siber. Mereka berhasil menjadi yang terbaik dalam menghadapi kasus keamanan sistem komputer dan jaringan, termasuk di dalamnya terkait keamanan data. Selain itu, medali emas juga berhasil disumbangkan oleh Tim Loud Sky dengan menjadi yang terbaik pada kategori lomba Animasi. Aspek kreativitas dan inovasi dari film animasi yang mereka buat mampu mengantarkan tim ini meraih medali emas.

Medali emas terakhir disumbangkan oleh Tim Teponli yang berlaga dalam kategori Kota Cerdas. Tim ini mampu membuat sebuah piranti cerdas dengan memanfaatkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Hal ini tentu mendukung program pemerintah Jawa Timur yang juga memiliki visi dalam mengembangkan big data. “Karya yang dihasilkan sangat mumpuni dan bisa diaplikasikan di masyarakat luas,” ujar dosen dari Departemen Teknik Informatika itu.

BACA JUGA – ITS Tantang SDM Salurkan Ide Inovatif Lewat ITSProvement

Sementara itu, medali perak berhasil disumbangkan oleh Tim BMW yang mengikuti kategori lomba Penambangan Data. Untuk medali perunggu sendiri berhasil disumbangkan oleh Tim the Hash Slinging Slacer dari kategori lomba Pengembangan Perangkat Lunak. Begitu juga dengan Tim Jastep yang juga menyumbangkan medali perunggu dalam kategori perlombaan Piranti Cerdas, Sistem Benam dan Internet of Things (IoT).

Di samping perolehan medali yang berhasil didapatkan dalam kategori lomba utama, kontingen ITS juga berhasil mendapatkan penghargaan terbaik kedua dalam kategori poster melalui Tim Loud Sky. Penghargaan lain yaitu juara harapan dari kategori lomba Pemrograman juga berhasil didapatkan oleh Tim Bukan Ramialeon.

Meskipun meraih banyak penghargaan, ITS masih belum berhasil membawa pulang piala Samakbya Padhesa Widya sebagai juara umum pada Gemastik ke-12. Poin yang didapat ITS belum bisa melampaui sang juara umum, Universitas Indonesia, dengan perolehan total tiga medali emas, tiga medali perak, dan satu medali perunggu.

Kesuksesan yang berhasil diraih oleh kontingen ITS pada tahun ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran dosen pembimbing dan juga Tim Kawal yang selalu memberi arahan dan evaluasi, sehingga memacu semua tim untuk memberikan hasil yang terbaik. Kehadiran dari alumni yang sudah turut serta pada kompetisi di tahun sebelumnya juga memberikan energi positif bagi peserta dengan ide maupun masukan yang diberikan. “Dari segi kualitas dan teknis, saya yakin bahwa karya yang dibuat oleh seluruh tim sudah matang dan unggul,” tambah Hadziq.

Untuk ke depannya, ,menurut Hadziq, persiapan dalam menghadapi kompetisi Gemastik akan dilakukan sejak jauh hari, sehingga hasil yang didapat bisa lebih maksimal. Akan ada sebuah sistem pengawalan atau mentoring langsung kepada karya-karya yang peserta buat. Peran dari alumni yang sudah mengikuti kompetisi serupa juga akan digencarkan mulai dari memikirkan ide atau konsep diawal, pembuatan program maupun medianya, hingga melakukan presentasi dan mendemonstrasikan karya yang dibuat.

Waktu persiapan yang lebih lama juga memungkinkan adanya seleksi di lingkup internal sehingga karya-karya unggul dari mahasiswa bisa tersaring. “Semoga ITS mampu mendapat hasil yang lebih maksimal lagi di tahun berikutnya dan karya-karya yang sudah dibuat bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat,” pungkas dosen yang juga memiliki keahlian dalam bidang interaksi manusia komputer dan virtual reality (VR) ini. (Red)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 502 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.