Milad Muhammadiyah, Pendidikan Dan Gojek





Oleh : Unjang Tajul Aripin*

Muhammadiyah adalah gerakan Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Tepat 18 November 2019, Persyarikatan Muhammadiyah akan merayakan milad ke-107 menurut perhitungan kalender Masehi. Dalam rangka memaknai milad tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan instruksi dan tuntunan penyelenggaraan milad untuk Pimpinan Muhammadiyah mulai tingkat Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah, Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah serta Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah.

Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan Islam Modernis yang terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau peloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Umur 107 bukanlah usia yang muda, tapi dalam arti sudah memasuki usia matang. Fase-fase perjuangan sudah di lewati Muhammadiyah. Mulai perjuanagn seorang Muhammad Darwis atau Kiyai Haji Ahmad Dahlan dari Kauman Kidul, Jogjakarta yang ingin membebaskan kebodohan generasi bangsa sampai Muhammadiyah tahun 1912 dilahirkan. Gagasan pendirian organisasi Muhammadiyah ini adalah hasil dari aktualisasi pikiran-pikiran pembaharuan oleh Ahmad Dahlan, dan juga dalam rangka mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikannya pada tahun 1911.

Tema yang di usung dalam peringatan Milad pada tahun ini, adalah “Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Tema ini sesuai dengan amanat UUD 1945 alinea ke-4. Muhammadiyah ingin mengingatkan kembali arti penting dari sebuah pendidikan yang berkemajuan. Berkemajuan dalam berpikir, berkemajuan dalam bertindak dan berkemajuan dalam berbagai lini kehidupan.

Kalau lah kita melihat lagi bunyi UUD 1945 alinea ke-4 : “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradad, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Bila membaca alinea ke4, kita pasti akan merasa merinding, Karena begitu luhur cita-cita dari para pendiri bangsa membuat dasar negara yang suci dan mementingkan kepetingan rakyat. saya mencoba menyoroti makna dari mencerdaskan kehidupan bangsa.

BACA JUGA – Desa Bali : Nuansa Kental Budaya Indonesia di Hainan Cina

Yang maknanya mencerdaskan kehidupan bangsa bukan bearti harus cerdas secara keseluruhan, atau bukan cerdas dalam berbagai mata pelajaran, karena sifat manusia itu berbeda-beda sesuai dengan karakter masing-masing, hal ini merupakan watak yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Selain dari watak yang di turunkan oleh orang tuanya dan lingkungan berperan membantu membentuk watak dan karakter seseorang, maka peran pendidikanlah yang memoles agar watak manusia sedikit bisa berubah.

Sebagai mana yang dikatakan Isar Dasuki Tasim, kata mencerdaskan kehidupan bangsa mempunyai makna yang mendasar. Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Cerdas bukan berarti hafal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya untuk dirinya dan lingkungan yang dia hadapi. Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa sekaligus ujian dari-Nya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya sekedar cerdas secara keilmuan dan sukses dalam kehidupan, tetapi bagaimana mereka keluar dari perasaan tertindas oleh orang lain, serta harus keluar dari zona aman. Hal ini hanya dapat diperoleh melalui pendidikan. Maka dari itu bukan isapan jempol belaka, ternyata langkah Muhammadiyah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya retorika akan tetapi sebuah tindakan nyata melalui pendidikan. Dari data yang diperoleh Republika, jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah mencapai lebih dari 10 ribu, tepatnya 10.381. Terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, pondok pesantren, dan perguruan tinggi. Itulah salah satu kontribusi Muhammadiyah dalam pendidikan, yang bisa dibilang Muhammadiyah adalah pelopor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.

Maka berbicara pendidkan, ada fakta yang menarik dari terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Yang mana motivasi Pak Jokowi memilih bos Gojek ini, dengan harapan ingin mengintegrasikan antara pendidikan dan industri sehingga membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM yang siap kerja dan siap berusaha. Presiden juga berharap, Nadiem bisa menangani sekolah, pelajar dan guru yang banyak dan beragam itu “dengan standar yang sama”, lewat kekuatan teknologi informasi. Menyambut baik penunjukan oleh Presiden, Nadiem sendiri mengatakan, “akan menerapkan sistem ala Gojek, yakni meningkatkan peran teknologi, untuk memodernisasi pendidikan”. Sampai ada meme aplikasi parodi dari netizen yang sempat viral di media sosial, ketika Nadiem Makarim jadi mendikbud. Seperti “Go Teacher” aplikasi integrasi pelayanan guru, bayar-bayar mantap pakai GoPay, “Go Blog” sebagai saran guru belajar melalui workshop dan seminar, antar jemput sekolah pakai Gojek/GoCar, pesan makanan dari luar GoFood, Bersihin sekolah pakai GoClean, dan lain sebagainya. Tapi itulah ulah netizen yang bebas berkomentar sekehandak hati , pikiran dan imjinasi mereka.

Akan tetapi di sisi lain banyak pihak yang meragukan akan kebijakan Pak Presiden, Karena ini soal pendidikan, terkait dengan revolusi mental, kewirausahaaan, budi pekerti, dan lain-lain. Dan juga bukan hanya soal bagaimana mengejar dunia digital kreatif. Termasuk Ayahanda Ketua Umum PP Muhammadiyah Haidar Nashir berkomentar, “ngurus pendidikan bukan ngurus teknologi, bukan sekadar digital,Tapi juga urusan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang itu urusannya akal budi”. Tapi apapun itu saya mengajak kepada semua pihak untuk memberi kepercayaan juga kesempatan kepada Menteri Pendidikan yang baru untuk bekerja sesuai dengan amanat dari UUD 1945 alinea ke 4 yaitu Pendidikan dalam rangka “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. (Red)


(Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 2 Sumberpucung Malang/Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 502 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.