Berkunjung Ke ITS, Menteri PUPR RI Tekankan Pentingnya UU Arsitek

SURABAYA – Undang-Undang (UU) Arsitek baru saja disahkan pada (11/7) lalu. UU yang ditunggu-tunggu oleh para arsitek di Indonesia ini sekaligus menjadi pengharapan baru akan terjaminnya profesi seorang arsitek di Indonesia. Sabtu (12/8), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono MSc PhD berkunjung ke ITS guna bertukar pikiran mengenai UU yang baru diterbitkan tersebut.

Kunjungan Menteri PUPR ini disambut langsung oleh Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc PhD dan Kepala Departemen Arsitektur ITS I Gusti Ngurah Antaryama sebagai tuan rumah.
Joni, Rektor ITS, pun mendukung penuh dengan disahkannya UU Arsitek oleh DPR RI. Menurut Joni, kendati baru saja disahkan, arsitek sudah lebih dulu mengembangkan sisi profesionalnya. Termasuk pula arsitek-arsitek lulusan Arsitektur ITS yang telah berkiprah di berbagai proyek pembangunan. “Dengan UU ini arsitek lebih dilindungi profesinya dan bisa bersaing dengan arsitek di negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joni memaparkan berbagai komitmen ITS, khususnya Arsitektur ITS, untuk meningkatkan arsitektur yang berbasis lingkungan. Misalnya Kampung Improvement Program (KIP) yang berhasil digarap oleh Arsitektur ITS bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. “Harapan saya, UU Arsitek mampu memberikan manfaat dan marwah atas arsitek-arsitek di Indonesia agar mampu berperan dan berkontribusi leih atas pembangunan negara,” ucap Joni.

Dalam seminar UU Arsitek: Menuju Arsitektur Dunia Yang Lebih Baik ini, Menteri PUPR Basuki mengatakan, Arsitek Indonesia telah memberikan sumbangsih yang besar bagi bangsa. Sebab banyak infrastruktur PUPR pun harus tersentuh oleh arsitektur. “Sehingga jembatan tidak hanya baja yang menyeberangi air tapi juga menunjukkan budaya dimana itu (jembatan, red) dibuat, ada sentuhan arsitekturnya,” ucap Basuki.

Peran besar arsitek, beber alumni SMAN 5 Surabaya ini, adalah merenovasi seluruh venue Gelora Bung Karno (GBK) dengan arsitektur. Mulai dari toilet, mushola, tribun, dan lain-lain, kita renovasi namun tetap meninggalkan heritage-nya. Oleh karenanya, arsitek itu hadir untuk menunjukkan ciri khas bangsa. “UU dan sumber daya manusia (SDM) secara bersamaan perlu dikembangkan untuk bisa bersaing di global,” imbuhnya.

Lebih lanjut Basuki menjelaskan, daya saing infrastruktur Indonesia dalam konteks global sudah berhasil naik dua peringkat di peringkat 60 dunia. Ini membuktikan Indonesia bisa progresif dalam hal pembangunan. “Daya saing yang memenangkan bukan tentang (siapa) besar atau kecil, tapi tentang (siapa) yang cepat atau lambat. Tapi kalau cepat murah tapi jelek tetap aja gak laku,” ungkap Basuki disambut tepuk tangan peserta seminar.

BACA JUGA –  ITS Pamerkan Produk Inovasi di Hakteknas 2017

Dalam rangka meningkatkan daya saing, sambung Basuki, maka infrastruktur adalah jawabannya. Untuk menciptakan arsitektur yang berkualitas, kita harus terus meningkatankan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. “Makanya orang-orang PUPR selain kuat, berani dan berjiwa seni, juga harus mempunyai daya improvisasi dan inovasi yang bagus,” tegas Basuki.

UU Arsitek merupakan memontum melahirkan arsitek-aristek handal dan berkompeten demi rancang bangun indonesia yang sesuai standar kelayakan bangunan. Lahirnya UU diharapakan dapat memberikan landasan dan kepastian hukum bagi arsitek dan pengguna jasa arsitek juga masyarakat umum. Tak lupa guna menciptakan sinergi atas pembangunan negara. “Saya berharap sinergitas antar pemangku kepentingan dan UU mampu menjawab kebutuhan masyarakat di dunia rancang bangun,” lanjutnya.

Dikatakan Basuki, arsitektur adalah karya seni, karya budaya yang harus bisa menunjukkan ciri khas suku budaya kita dari total 741 suku bangsa di Indonesia. Itu yang harus kita gali terus, makanya UU ini menjawab pemasalahan itu. Disinggung mengenai implementasi di lapangan, Basuki menginginkan agar bandara-bandara di Indonesia didesain sesuai karakternya masing-masing. “Yang tersisa kan hanya di Bukit Tinggi (Bandara Minangkabau) yang arsitekturnya menyerupai rumah gadang. Di jawa mestinya kan joglo, tapi malah jadi ruko semua,” tukasnya yang mengundang tawa kecil wartawan.

Sebagai wujud pengabdian, Arsitektur ITS pun menyumbangkan sebuah karya berjudul Insiatif ITS Untuk Papua. Gerbang intermodal budaya ini berupa bangunan dengan empat fungsi berbeda, yakni Bandara Internasional, Etalase Budaya, Museum, dan Hotel. Dipilihnya papua, karena wilayah papua memiliki banyak potensi pariwisata yang belum dikembangkan. “Untuk itulah perlu adanya inisiasi pemerintah dan warga sebagai kunci keberhasilan dari peningkatan jumlah wisatawan,” ucap Jafni Zul Fahmi, mahasiswa Arsitektur ITS sebagai salah satu inisiator projek ini. (owi)

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 534 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.