Catur Pusat Pendidikan

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Di dunia pendidikan dikenal istilah Tri Pusat Pendidikan. Nomenklatur Tri Pusat Pendidikan dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara. Tri pusat pendidikan menjadi salah satu ajaran Taman Siswa yang menjelaskan bahwa proses pendidikan berlangsung di tiga lingkungan yaitu: Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Artinya, anak didik dibentuk, dididik atau memperoleh pendidikan dari tiga pusat pendidikan itu.

Namun, ada satu lagi pusat pendidikan yang tidak banyak disadari oleh kebanyakan dari kita. Yang setiap hari mendidik kita semua, bahkan 24 jam mendidik manusia. Siapakah itu?  Yaitu Allah SWT.

Kenapa? Karena yang mendidik kita bukan hanya orang tua dalam keluarga, guru dalam sekolah dan  Masyarakat dalam lingkungan. Tetapi tuhan juga turut serta mendidik semua hambanya.

Semua perintah yang diberikan Allah SWT kepada hambanya, adalah dalam rangka mendidik manusia. Contoh paling sederhananya adalah zakat dan sedekah. Zakat dan sedekah mendidik manusia untuk bersikap peduli dengan sesama, mendidik manusia agar peka terhadap sahabat-sahabatnya yang kekurangan. 

Bahkan, perintah dan ujian yang diberikan kepada manusia, adalah dalam rangka untuk mendidik kita. Termasuk pandemi  yang sedang kita alami saat ini, juga dalam rangka untuk mendidik manusia. Namun, pendidikan apa yang ada di setiap perintah dan musibah yang ada ini? Hanya orang-orang yang berpikirlah yang mampu menggalinya.

Karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda: addabani rabbi ahsana ta’dibi (Allah mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan). Dengan berbagai macam nikmat dan ujian yang diterima oleh Rasulullah, baik sebelum bi’tsah maupun setelah bi’tsah adalah dalam rangka mendidik Rasulullah dan ummatnya.

Di era positivistik saat ini, menganggap Tuhan sebagai salah satu pusat pendidikan agaknya kurang relevan. Karena, bagi kaum postivistik, manusia masih menjadi tolak ukur kebenaran, atau yang disebut sebagai anthroposentris, pusat kebenaran atau ukuran benar dan buruknya sesuatu, bergantung bagaimana manusia menilainya. 

Akan tetapi anthroposentris juga menyisakan banyak masalah, ketika baik dan buruk dikembalikan kepada manusia, maka pada dasarnya kebenaran itu sendiri adalah relatif, jadi sejatinya tidak ada kebenaran yang mutlak benar. 

Terlepas dari itu semua, keberadaan agama di era positivistik saat ini sangat dibutuhkan. Karena itu, Tuhan menjadi salah satu edukator dalam kehidupan manusia.

Tuhan tidak buru-buru memberikan sesuatu yang kita minta, kenapa? Karena tuhan ingin mendidik kita, bahwa sesuatu bisa diraih dengan kerja keras.

Tuhan juga tidak begitu saja memberikan kesuksesan dan  keberlimpahan harta kepada setiap manusia, kenapa? Karena tuhan ingin mengajarkan bahwa, kesuksesan dan kekayaan itu butuh proses, butuh strategi dan butuh perjuangan yang berdarah-darah.

Model pendidikan yang dilakukan oleh Tuhan kepada manusia, sebenarnya bisa kita adopsi. Misalkan, ketika Anda memiliki perusahaan. Anda tidak perlu buru-buru memberikan semua fasilitas kepada anak Anda yang bekerja di perusahaan keluarga. Juga Anda tidak perlu tergesa-gesa memberikan posisi yang strategis kepada anak Anda, menjadi direktur atau general manajer misalkan. 

Bisa saja sih itu Anda lakukan, dan sangat mudah. Tapi itu tidak perlu dilakukan secara terburu-buru. Biarkan anak Anda memulai dari bawah, dari posisi yang paling bawah sesuai dengan kemampuanya. Jadi staff biasa seperti yang lain.

Dengan strategi seperti itu, maka anak Anda akan belajar, belajar bekerja, beradaptasi, membangun karir dari bawah. Biarkan dia berkompetisi dengan karyawan yang lain. Dengan cara seperti itu, secara tidak langsung, Anda sudah mendidik anak dengan baik.

Saya jadi teringat kisah Azrul Ananda. Ketika dia masuk Jawa Pos, Azrul tidak langsung ditempatkan oleh abahnya di posisi direktur. Tapi ditaruh pada posisi karyawan beserta dengan karyawan biasa yang lain. Padahal ketika itu, dia baru menyelesaikan studi S2nya di Amerika. Azrul bisa menduduki posisi direktur, setelah 9 tahun berkarir di Jawa Pos. Dahlan Iskan bisa saja menaruh Azrul pada posisi direktur ketika itu, tapi itu tidak dilakukan, karena itu tidak mendidik.

Begitu juga dengan Tuhan, sangat mudah bagi Allah membuat kita sukses, kaya, terkenal. Sangat mudah. Cukup kun fayakun. Akan segera terjadi. Tapi itu tidak dilakukan tuhan. Kenapa? Karena tuhan ingin mendidik manusia.

Oleh sebab itu, manusia tidak hanya dididik oleh guru di sekolah, orang tua di rumah dan lingkungan di masyarakat. Tetapi manusia juga dididik oleh tuhan yang maha esa, yaitu Allah SWT.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 527 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.