Dukung Pembelajaran Daring Melalui Kegiatan Bimbingan Belajar Intensif

Oleh: Latwarningrum Alfiani Yulita

Sampai detik ini, virus corona masih mengepung seluruh dunia. Virus yang mulanya berawal dari Wuhan, China ini penyebarannya memang sangat cepat. Sudah banyak orang yang terpapar virus ini. Dilansir dari Worldometers terdapat 51.358.917 positif, 36.147.663 sembuh, dan 1.271.386 dinyatakan meninggal hingga Selasa malam (10/11/2020). (Worldometers, 2020 Pukul 19:08 WIB).

Penyebaran virus ini juga susah dikenali, biasanya orang yang terpapar virus ini memiliki gejala seperti suhu di atas 38o C, batuk, pilek, sesak nafas, tidak bisa merasakan atau mencium bau sesuatu yang dikenali sekitar 14 hari. Karena adanya COVID-19 ini, maka pemerintah harus menerapkan kebijakan-kebijakan guna memutus angka penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Salah satunya yaitu social distancing atau menjaga jarak, selain itu pemerintah juga menerapkan Work From Home (WFH). Tidak hanya untuk sektor ekonomi saja, namun sektor pendidikan pun juga merasakan dampak dari COVID-19 ini karena Kemendikbud pun juga memutuskan untuk melaksanakan belajar dari rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). (Oktafia Ika Handarini, 2020) Tantangan adanya pembelajaran daring yaitu keahlian pihak pendidik maupun peserta didik dalam penggunaan teknologi. Terdapat beberapa ciri-ciri peserta didik dalam pembelajaran daring yaitu: 

  1. Semangat belajar. Kriteria ketuntasan pemahaman materi pembelajaran ketika daring ditentukan oleh peserta didik itu sendiri. Sehingga kemandirian dalam belajarlah yang membuat perbedaan dalam keberhasilan belajar yang berbeda-beda. 
  2. Literacy teknologi. Peserta didik harus menguasai teknologi yang akan digunakan. Alat yang biasanya digunakan saat pembelajaran daring yaitu handphone, laptop, atau komputer. Perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini mewujudkan banyak sekali aplikasi atau platform yang digunakan untuk pembelajaran. 
  3. Kemampuan berkomunikasi interpersonal. Pelajar harus mampu menguasai kemampuan berkomunikasi dan interpersonal untuk keberhasilan pembelajaran daring. 
  4. Berkolaborasi. Peserta didik harus berinterasi antar peserta didik lainnya atau pada guru pada sebuah forum yang telah disediakan, interaksi diperlukan terutama ketika peserta didik kesulitan dalam memahami materi. 
  5. Keterampilan. 

Baik sekolah negeri maupun swasta pun mau tidak mau harus melaksanakan belajar secara daring tersebut, salah satunya yaitu Desa Ngrambe, Kabupaten Ngawi yang merupakan desa di lereng gunung lawu. Kegiatan belajar mengajar di Desa Ngrambe dilakukan secara online, dimana guru memberikan materi melalui Whatsapp, Google Classroom, bahkan ada yang menggunakan zoom meeting.

Yang menjadi permasalahan dari pembelajaran secara daring yaitu bahwa ketika peserta didik kehabisan kuota, tidak memiliki gadget, terhalang sinyal, dan kebanyakan guru hanya memberikan tugas tanpa memberikan penjelasan secara rinci terkait dengan materi yang disampaikan kepada peserta didik mereka. Hal ini mengakibatkan peserta didik ketinggalan materi pelajaran, tidak mengerti dan memahami tentang materi yang guru berikan. Hal ini diakibatkan karena kurang fasilitas yang mumpuni guna menunjang kegiatan belajar mengajar.

Selain itu, kurangnya perhatian orang tua peserta didik sehingga peserta didik susah untuk belajar dan asyik bermain dengan teman sebayanya. Mengatasi masalah tersebut, penulis mengadakan bimbingan belajar (bimbel)  secara offline di rumah tinggal penulis tepatnya di Dusun Pule, RT.05/RW.02, Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Penulis di sini sebagai tentor akan membantu para peserta didik agar menguasai materi pembelajaran ataupun dalam mengerjakan tugas yang diinformasikan oleh guru dengan jumlah peserta didik yang penulis bimbing yaitu 4-5 anak. Kegiatan bimbel ini dilaksanakan setiap hari Jum’at dan Minggu pukul 10:00 WIB.  Kegiatan ini tidak hanya untuk belajar saja, namun diselingi dengan bermain agar suasana dalam belajar juga tidak membosankan. Selain itu, ini juga bisa membuat peserta didik merasa enjoy mungkin juga mereka rindu dengan sekolah, teman, maupun gurunya. Dengan adanya bimbel ini, diharapkan peserta didik dapat belajar dengan serius dan tidak menggunakan waktunya untuk bermain. 

Memang tidak jarang seseorang dapat mengalami kebosanan atau kegagalan dalam meraih apa yang ia inginkan. Namun, jangan jadikan hal tersebut untuk berputus asa. Bangkitlah untuk mengejar tujuan yang diinginkan di masa depan. Karena jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan mendapatkan apapun. 

Referensi: 

Handarini, Oktafia Ika. 2020. Pembelajaran Daring Sebagai Upaya Study From Home (SFH) Selama Pandemi COVID-19. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP) Volume 8 Nomor 3. 

https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada Selasa, 10 November 2020 Pukul 19:08 WIB.

Latwarningrum Alfiani YulitaLahir di Bogor, 30 Juli 1999 dan dibesarkan di Ngawi, Jawa Timur. Orang-orang sering memanggil Latwa atau Alfi. Anak pertama dari pasangan Suwarno dan Sri Mulatsih. Saya memulai pendidikan di TK Al-Mukminun Ngrambe (2005), SDIT Al-Mukminun (2011), dan SMPIT Al-Mukminun (2014) yang merupakan satu yayasan. Lalu saya melanjutkan ke MAN Ngrambe yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan MAN 4 Ngawi (2017). Dan sekarang, saya melanjutkan pendidikan di UIN Walisongo Semarang Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 7. Semoga Allah Swt. melancarkan segala urusan saya dan teman-teman semua. Aamiin ya mujiibassailiin. Moto hidup “Kecerdasan bukanlah penentu kesuksesan, namun kerja keraslah penentu kesuksesan yang sebenarnya”.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 533 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.