Just In Case atau Just In Time Teaching?

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Terminologi just in case dan just in time sebenarnya jauh lebih dikenal di dunia ekonomi, yaitu pada manajemen inventory barang sebagai sebuah rantai produksi.

Skema just in case dilakukan ketika sebuah perusahaan menyetok barang dengan jumlah yang banyak.

Sedangkan skema just in time dilakukan sebaliknya. Perusahaan memesan kepada supplier ketika barang dibutuhkan, sehingga tidak ada stok yang menumpuk di gudang karena inventory bergerak dinamis sesuai kebutuhan.

Bagaimana di dunia pendidikan?

Skema just in time learning ini pernah disinggung oleh David Eagleman ketika menjadi keynote speaker pada acara International Society for Technology in Education (ISTE) di Chicago, Amerika Serikat (AS).

Dalam dunia pendidikan, just in time learning atau yang dikenal dengan just in time teaching (JiTT) pertama kali dikembangkan sebagai metode kuliah di Indiana University-Purdue University Indianapolis (IUPUI) di era 1990-an.

Bagaimana cara kerjanya?

Satu hari sebelum dosen mengajar, dosen membagikan materi ataupun tugas terkait mata kuliah yang akan diajarkan besok. Jadi ada semacam class preperation.

Materi yang dibagikan bisa berupa e-book untuk dibaca, video untuk disimak, beberapa artikel jurnal untuk dibuat bagan atau tabel atau mind mapping dan seterusnya.

Tugas itu lalu dikumpulkan untuk dipelajari dosen, sehingga dosen tahu mana bagian yang sudah dipahami mahasiswa dan bagian mana yang belum dipahami mahasiswa.

Keesokan harinya, dosen akan menjelaskan materi berdasarkan bagian-bagian yang memang dibutuhkan mahasiswa saat itu (just in time), dosen tidak akan menjelaskan materi yang sudah banyak diketahui mahasiswa.

Apa fungsinya?

Agar tidak menjadi pengulangan pengetahuan dan agar mahasiswa tidak bosan. Karena mendengarkan sesuatu yang sudah diketahui, kadang membuat seseorang menjadi bosan.

Di sisi lain, akan terjadi pembelajaran yang interaktif. Ketika mahasiswa membaca e-book dan artikel jurnal yang direkomendasikan atau melihat video yang disarankan, lalu keesokan harinya dosen membahas dan mendiskusikan terkait hal tadi, tentu akan terjadi komunikasi yang interaktif dan nyambung. 

Sedangkan, pembelajaran just in case learning. Dalam metode ini, dosen menggelontorkan “stok ilmu pengetahuan” dalam jumlah yang banyak kepada murid/mahasiswa. Akan tetapi, ilmu yang disampaikan tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan murid/mahasiswa pada saat itu.

Seringkali, dalam konteks pembelajaran just in case ini, kebanyakan dosen menjelaskan dan berbicara sendiri, sedangkan sebagian mahasiswa tidur di kelas. 

Kenapa itu terjadi?

Bisa jadi mahasiswa tidak nyambung dengan yang dijelaskan dosen, karena tidak ada pemicunya (membaca materi atau video yang disarankan H-1). Atau bisa jadi penjelasan dosen sudah banyak dimengerti oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa bosan lalu ditinggal tidur.

Kenapa jus in time teaching (JiTT) jauh dapat membuat kelas lebih interaktif dan hidup dibanding just in case?

Kata kuncinya ada pada kesiapan kedua belah pihak. Baik mahasiswa maupun dosen. Selama ini yang melakukan persiapan sebelum mengajar adalah dosen, itu sudah pasti dan wajar. Kalau ada dosen yang mau mengajar kok tidak mempersiapkan diri, itu tidak wajar dan tidak serius dalam mengajar.

Tapi dosen saja tidak cukup. Mahasiswa juga harus menyiapkan diri untuk belajar. Dengan cara apa?

Membaca materi yang akan diajarkan dosen besok. Ketika dosen dan mahasiswa sama-sama mempersiapkan diri untuk mengajar dan belajar, maka kelas akan menjadi lebih hidup serta interaktif.

Dan metode ini sudah terbukti sukses di Indiana University-Purdue University Indianapolis (IIUPUI). Apa indikator kesuksesan metode ini?

Pemahaman mahasiswa tentang suatu mata kuliah bisa lebih dalam dan tingkat kehadiran mahasiswa di kelas juga naik karena kelas menjadi lebih hidup. Saat ini, metode JiTT banyak diadopsi dan dikembangkan oleh institusi pendidikan lain.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 523 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.