Kurikulum Haruskah Terus Berubah? (2)

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Ungkapan ini cukup menjadi dasar bahwa kurikulum harus mengikuti perubahan zaman, para orang tua kita tidak bisa mengadopsi mentah-mentah cara mendidik orang tua mereka dahulu kepada mereka, lantas diterapkan kepada anak-anaknya.

Tahukah Anda ranah pembelajaran yang digagas oleh Benjamin S Bloom dkk, yang dikenal dengan cognitive domain, affective domain dan psychomotor domain?

Anda yang akrab dengan dunia pendidikan pasti tahu. Kapan ide itu digagas? yaitu pada tahun 1956, sekitar 64 tahun yang lalu. Pertanyaannya adalah: masihkah gagasan itu relevan di zaman sekarang? bukankah karakteristik anak didik yang lahir tahun 1956 sangat berbeda dengan anak didik yang lahir tahun 2020?

Kalau merujuk pada teori generasi yang digagas oleh William Strauss dan Neil Howe, setiap generasi memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Setidaknya ada lima pembagian generasi yang dipetakan oleh Strauss.

Yang pertama adalah Generasi Baby Boomer (Kelahiran 1946-1964).

Mereka ini lahir setelah Perang Dunia II. Mereka merupakan generasi yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Walaupun demikian, generasi ini susah menerima kritik.

Yang kedua Generasi X (kelahiran 1965-1980), Generasi ini adalah anak dari Generasi Baby Boomer. Karakternya hampir mirip dengan generasi sebelumnya, mereka sangat displin dan suka bekerja keras. Tapi terkadang generasi ini agak susah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Ketiga Generasi Y (kelahiran 1981-1994), Generasi ini adalah generasi awal bertemunya dengan teknologi seperti handphone, komputer, dan internet. Mereka adalah generasi yang paling merasakan perubahan telepon gengam dari awal diperkenalkan ke publik hingga yang paling terbaru. Mereka terkenal dengan sifatnya yang memiliki keinginan tahu yang besar dan memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Namun mereka biasanya juga sangat ambisius dan memiliki ego yang tinggi pula.

Keempat adalah Generasi Z (kelahiran 1995-2010), Mereka adalah generasi net atau generasi internet. Saat ini, mereka sedang dalam pencarian jati diri. Selain itu, generasi ini adalah generasi yang sangat pandai dalam bermulti-tasking. Namun di sisi lain, mereka adalah generasi yang mudah putus asa.

Kelima dan yang terakhir adalah generasi Alpha (kelahiran 2011-2025). Ini merupakan generasi gadget. Artinya kehidupan mereka akan selalu dekat dengan dunia gadget. Sehingga dikhawatirkan anak-anak generasi ini tumbuh menjadi generasi yang manja dan kurang bertanggung jawab. Di sisi lain, generasi ini adalah generasi yang akan membawa perubahan besar bagi Indonesia.

Kelima generasi di atas memiliki karakteristik yang sangat berbeda, dengan karakteristik yang berbeda itu apakah mereka bisa kita didik dengan pendekatan yang sama?

Jawabannya tentu “Tidak Bisa”.

Teori Taksonomi Bloom saja yang digagas tahun 1956, ternyata tiga puluh empat tahun kemudian mendapatkan revisi oleh Lorin Anderson pada tahun 1991 lalu dipublikasikan pada tahun 2001. Bagaimana di tahun 2020 apakah masih relevan?

Dalam kurikulum 2013, hirarki taksonomi yang diawali dengan kognitif, afektif dan psikomotorik, diimprovisasi dengan memposisikan afektif di atas lalu dibagi menjadi dua: sikap spiritual dan sikap sosial, di bawah afektif pengetahuan, lalu keterampilan. Penjabaran itu dideskripsikan dalam kompetensi inti menjadi: (KI-1) Kompetensi Inti Sikap Spiritual, (KI-2) Kompetensi Inti Sikap Sosial, (KI-3) Kompetensi Inti Pengetahuan, (KI-4) Kompetensi Inti Keterampilan.

Memposisikan sikap pada urutan pertama menunjukkan bahwa afektif menjadi hal yang sangat penting di era saat ini, bukan hanya diposisikan di atas, tetapi diperjelas dengan merinci sikap menjadi dua hal: spiritual dan sosial. Artinya saleh spiritual saja tidak cukup, tetapi juga harus saleh secara sosial.

Sampai di sini Anda masih yakin bahwa kurikulum tidak perlu berubah? Lantas bagaimana dengan sekolah yang kurikulumnya tidak pernah berubah? Toh mereka bisa menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas.

Bersambung…

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 527 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.