Membentuk Karakter Komunikatif dengan Seni Komunikasi

Oleh : Hanif Lutfi Fauzi

Percayakah anda, orang yang berkarakter komunikatif mampu mengubah pikiran atau bahkan memanipulasi   pemikiran lawan tanpa harus melakukan apa-apa selain berbicara?. Pernakah anda mendengar ada peperangan yang dimenangkan oleh orang yang komunikatif?Tahukah anda bahwa hider mampu mengumpulkan massa sebanyak itu, mengubah paradigma berpikir mereka , dan kemudian membuat mereka mendukung aksi gilanya hanya bermodalkan kata-kata?

Mahatma Gandhi, misalnya. Apakah dia seorang kasatria yang memenangkan perang dengan senjata? Saya rasa tidak demikian! Ia orang yang memiliki karakter komunikatif, menggunakan kata-kata, pendekatan, dan karisma yang tepat dalam memenangkan peperangannya.

Atau,  bagaimana  bila  saya  katakana  jika  anda  mempunyai  karakter  komunikatif, mampu menggunakan kata-kata yang tepat, anda dapat melakukan hal-hal yang selama ini tidak pernah anda bayangkan sebelumnya. Hal yang paling sederhana saja. Misalnya, mempengaruhi orang   lain untuk melakukan sesuatu yang anda minta. Atau, menyelesaikan masalah anda yang sebelumnya sulit anda pecahkan sendiri. Atau mungkin, mendapatkan posisi yang lebih tinggi lagi di dalam  pekerjaan, atau  bahkan  membaca pikiran  lawan  bicara sembari  anda berdialog dengannya?

Percaya  atau  tidak  semua  itu  bisa  anda  lakukan  jika  anda  memiliki  karakter komunikatif, mampu menggunakan kata-kata yang tepat ketika berdialog dengan lawan bicara anda.

Mungkin saat ini, saat anda duduk dan mata anda membaca deretan huruf   yang berbaris rapi, dalam pikiran anda mulai memunculkan sebuah pertanyaan. Bagaimana cara memiliki karakter komunikatif? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya katakan pada anda, mulailah belajar memilih kata yang tepat pada waktu yang tepat, mulailah belajar Eye Accessing CuesuI  agar  anda  mampu  mengetahui  lawan  bicara  anda  jujur  atau  sedang  berbohong. Mulailah belajar Building Rapport sehingga anda mampu membuat lawan bicara anda merasa nyaman. Dan sayangnya, semua teknik tersebut ada dalam seni komunikasi   yang akan kita bahas sekarang.

Karakter Komunikatif

Sebelum lebih jauh lagi kita membahas tentang teknik-teknik dalam seni komunikasi, kita bahas sejenak apa yang dimaksud karakter komunikatif. Mungkin anda pernah kenal seseorang seperti jaka yang Nampak selalu sukses dikantor? Secara konstan kariernya terus melaju, sekalipun tak pernah jelas kualitas yang dimilikinya. Jika diamati, bahkan tak ada tanda-tanda memiliki kecerdasan yang luar biasa, atau gelar akademik dari luar negri. Kedengarannya, apapun yang dilakukannya cenderung mendapat anggukan dari atasan saat meeting, pendapatnya kerap mendapat support dari rekan kerjanya. Jaka tidak memanfaatkan senioritas, tidak pula bermain intrik atau menggunakan keterdekatanya dengan pimpinan. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Jika diamati lebih dekat, kita akan menemukan suatu kekuatan yang ia miliki, yang diperoleh secara alami, yaitu karakter komunikatif, kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain. Atau dalam istilah Neuro linguistic Programming (NLP) disebut sebagai the skill of

rapport building. Kekuatan semacam ini yang seolah-olah membuatnya selalu dapat tune in dalam “panjang gelombang’ yang sama dengan setiap orang. Ia menyadari bahwa dalam setiap situasi perlu minciptakan persahabatan agar dimasa depan dapat melakukan hubungan dalam bentuk win-win. Bukankah seringkali kita mendengar orang menyesal semacam ini “ah, seandainya saya kenal si A dengan baik, tentu saja saya akan bisa minta tolong dengan lebih nyaman sekarang”.

Kabar baiknya sekalipun kita tak punya kemampuan seperti jaka, yang bawaan lahir, ternyata kita bisa mempelajarinya dengan cukup mudah.

Rapport building

Anda pernah berkenalan dengan kawan baru, jika tertarik dengannya, maka pembicaraan secara otomatis akan mencari kesamaan diantara anda berdua. Misal menanyakan asal usul daerah, asal sekolah, atau hal yang lainnya. Jika ternyata kita memiliki kesamaan, rasanya tiba tiba dekat dengan kawan baru itu. Kesamaan membuat orang saling menyukai, jika sudah suka akan mempercepat munculnya proses percaya (trust).

Kepercayaan kepada kita akan membuat mereka merasa Anda berada di pihaknya. Orang  membeli  kepercayaan  terlebih  dahulu,  baru  membeli  ide  kita.  Dalam  berbagai percobaan sosial, para peneliti telah melaporkan bahwa kepercayaan itu amat penting bagi sukses komunikasi. Kalau sudah ada kepercayaan, orang akan lebih mudah menerima saran saran, memberikan lebih banyak waktu dan secara terbuka berbicara dengan kita, bahkan pada hal-hal yang terkadang sensitif.

Secara umum NLP menganjurkan 2 cara membangun pondasi kesamaan agar kita disukai orang lain dalam berkomunikasi, yaitu :

  1. Bangun pondasi kesamaan fisiologis / postur tubuh
  2. Bangun pondasi kesamaan dalam berkata kata.

Dua hal ini yang akan memunculkan suatu kepercayaan jika dibangun dengan sungguh sungguh, yang kemudian akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang mulus dan harmonis.

Sebagai ilustrasi pondasi yang pertama, Lady Diana terkenal pandai melakukan rapport building  dengan semua orang, bahkan pada anak yang masih kecil. Namun sedikit yang tahu bahwa itu bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Lady Diana belajar memodel dunia anak anak dari guru NLP, Anthony Robbins. Saat mendekati anak, Lady Diana akan berjongkok dan memasang muka seperti anak-anak. Berjongkok berarti menyamakan fisiologis / postur dalam hal ketinggian tubuh, agar dapat masuk ke model dunia (model of the world) anak anak. Ia juga memasang mimik muka anak-anak, supaya tidak terlihat wajah analitis yang hanya dimiliki orang dewasa. (Rezky Daniel, 2014:17)Bisa dicatat disini, menyamakan postur fisiologi orang lain adalah cara tercepat untuk membentuk hubungan, cara ini biasa disebut mirrorring (bercermin).

Pengalaman mencermin tanpa sadar ini mungkin pernah terjadi pada Anda. Pada saat berbicara dengan kawan akrab dan terjadi kecocokan, makin lama posisi tubuh keduanya semakin mirip satu sama lain seperti layaknya orang bercermin. Bahkan jika anda perhatikan lebih jauh, sepertinya saling menirukan tanpa disadari. Proses pencerminan ini terjadi dalam level alam bawah sadar.

Dari kedua contoh di atas, maka dengan sengaja kita dapat melakukan pencerminan untuk melakukan rapport building pada orang lain secara mendalam dan cepat. Menariknya, yang  dapat  kita  cermin  bukan  hanya  postur  tubuh  (gesture),  namun  kita  juga  bisa mencermin pola nafas (kecepatan, posisi tekanan), gerak mata, rona wajah, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara, dll. Kurangi atau tambah kecepatan bicara Anda sesuai dengan kecepatan lawan bicara And. Demikian juga dengan tinggi rendah nada suara. Mereka akan merasa sangat nyaman, karena merasa sama dengan kita.

Pondasi kesamaan yang kedua adalah menyamakan kata kata (verbal mirrorring). Menyamakan kata-kata dalam NLP tidaklah sekedar menyamakan kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Yang disamakan adalah sesuatu yang disebut predikat, yang menunjukkan preferensi pikiran lawan bicara dalam mengolah informasi.

(Ronny F.ronodirjo, 2015:22)Pada dasarnya, ketika seseorang merekam pengalamannya  umumnya mereka menggunakan seluruh indrawi yang mereka miliki, tetapi ketika mereka me-presentasikan ulang, mereka hanya menggunakan beberapa dari sistem indrawi yang ada, hal ini terjadi karena ketika seseorang menceritakan suatu pengalamannya, yang mereka ceritakan adalah sesuatu yang menjadi perhatian mereka dan kemudian sisanya diabaikan atau terjadi delesi secara otomatis.

Sebagai contoh , mungkin  kita sering menemukan hal-hal berikut ini, ketika seseorang menceritakan pengalamannya:

“Tempat itu bagus sekali, tempatnya begitu  cerah ” (Visual)

“Tempat itu berisik sekali” (Auditory)

“Pembawaan orang tersebut  kasar sekali” (Kinesthetic)

“Ada pengalaman  pahit yang tidak saya mau ingat lagi” (Gustatory)

Perhatikan setiap kalimat di atas, menggunakan sistem representasi yang berbeda-beda, hal tersebut menjelaskan bagaimana kencedrungan manusia  me-model pengalamannya dengan menggunakan sistem indrawi mereka.Sistem representasi inilah yang digunakan untuk membangun Rapport dengan menyamakan predikat sesuai dengan sistem representasi yang orang lain gunakan

Contohnya      :      “Saya      tidak      suka      dengan      tempat      yang      berisik” Mencocokan dapat kita lakukan dengan “Saya juga tidak suka dengan suara-suara yang kencang”

Eye Accessing CuesuI

Eye Accessing CuesuI dalah sebuah teknik yang dapat anda gunakan untuk mengetahui lawan bicara anda sedang berkata jujur atau berbohong. System representasi yang telah anda pelajari diatas merupakn pondasi dasar untuk mempelajari teknik ini.

  1. Visual (Penglihatan)

Ini merupakan wilayah di mana Anda dapat membayangkan sesuatu yang berhubungan dengan penglihatan. Silahkan meminta teman anda untuk membayangkan warna kotak pensilnya saat masih SD dan amati pergerakan bola matanya.

  1. Audiotori (Pendengaran)

Ini merupakan wilayah yang berkaitan dengan media pendengaran (dengan korteks pengelihatan kanan tengah). Silahkan meminta teman anda untuk membayangkan alunan lagu favoritnya, dan amati pergerakan matanya.

  1. Kinestetik (perasaan)

Ini adalah wilayah yang berkaitan dengan indra peraba/ perasa (dengan korteks kiri bawah). Silahkan meminta teman anda untuk bayangkan saat anda menikmati asamnya lemon, dan amati pergerakan matanya.

Dengan kata lain, apabila manusia sedang memikirkan sesuatu dan ia harus bcrimajinasi  maka  matanya  akan mengarah  ke  korteks  yang  berkaitan  dengan  jenis memori tersebut! Dengan demikian, kita dapat mengetahui kapan seseorang sedang berusaha mengingat-ingat atau kapan ia sedang berimajinasi! Dan, kita dapat membedakannya lewat arah pandangan mereka. (Rezky Daniel, 2014:19)

Dengan melihat pandangan mereka kita dapat mengetahui kapan seseorang berkata jujur dan kapan seseorang berkata bohong karena pada saat berkata jujur ia akan menggunakan korteks ingatannya, bukan korteks imajinasi! Katakanlah, Anda  bertanya pada   seseorang tentang apa yang tadi ia kerjakan? Seharusnya ia berkata sambil mengarahkan  m a t a n y a     sedikit     ke     kiri     atas     at a u     ke     k a n a n     b a w a h (penglihatan/peraba); bukan ke arah yang lain. Akan tetapi, katakanlah ia mengarahkan mata ke kanan atas, itu berarti ia sedang berusaha berimajinasi atau mengarang cerita. Orang itu sedang berbohong kepada Anda!

Saya pikir hal-hal yang penting untuk Anda ketahui sudah saya ungkapkan di atas. Cobalah Anda pelajari dan praktikkan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa segala sesuatu yang Anda pelajari di sini bukanlah ilmu pasti di mana 2  +  2 harus  sama dengan 4. Maksudnya, Anda hanya dapat mencapai   tingkat   keakuratan   yang   tinggi   apabila Anda mengandalkan  kepekaan  dalam   segala  hal.   Kepekaan  ini mencakup perasaan, keyakinan,  dan  pengetahuan  yang Anda  miliki    dalam  melihat  sebuah  keadaan  atau suasana; tidak secara sembarang, namun dengan penuh pertimbangan.

Referensi

  1. Ronny F. Ronodirjo. 2015. Fun’da Mental NLP. Jakarta: Sinergi Lintas Batas
  2. Rezky Daniel. 2013. 5 menit paham NLP. Jakarta: PT Sobat Inspirasi Indonesia
  3. Wiwoho. 2011. REFRAMING: Kunci Hidup Bahagia 24 Jam Sehari. Bandung: Indo NLP
Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 534 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.