Pendidikan Ramah Anak dengan Mirroring

Oleh: M Arfan Mu’ammar

Ada fenomena menarik, sepertinya aneh, terkesan tidak masuk akal, atau bisa jadi kebetulan, tapi rupanya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Seorang pasangan suami-istri, seringkali memiliki kemiripan wajah. Bahkan semakin lama hidup bersama, akan terlihat semakin mirip.

Orang tua kita dahulu selalu mengatakan itu karena memang jodoh kita. Tuhan menciptakan manusia berpasangan, karena berpasangan, maka ada kemiripan, di antaranya adalah wajah.

Kalau seorang anak mirip dengan orang tuanya, itu adalah hal yang wajar. Sebab secara genetika, anak mewarisi gen dari orang tuanya. Tetapi jika ada pasangan yang mirip? Bagaimana bisa?

Secara ilmiah, wajah kita mampu membaca ekspresi wajah orang lain secara otomatis. Para neuroscientist telah melakukan riset di laboratorium neuroscience Stanford University terkait hal itu.

Para peneliti memasang dua elektroda (electromyogram) di wajah orang-orang (relawan) untuk mendeteksi pergerakan ekspresi wajah meski hanya berupa gerakan halus.

Saat melihat wajah tersenyum atau cemberut, elektroda yang dipasang di wajah memberikan sinyal adanya gerakan-gerakan halus dari wajah mereka.

Hal itulah yang disebut sebagai “mirroring” atau bercermin. Itu merupakan gerakan otomatis di otot wajah seseorang untuk meniru atau mengopi ekspresi wajah orang yang dilihatnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari alat electromyogram, sinyal-sinyal ekspresi wajah seseorang itu ditangkap dengan sangat cepat dan diolah oleh otak dengan kecepatan 33 milisecond atau 0,0033 detik.

Setiap hari, pasangan suami istri saling bercermin satu dengan lainnya. Ketika istri marah, gerakan otomatis di otot wajah suami akan meniru atau mengopi ekspresi wajah istrinya. Begitu juga ketika istri bahagia, ekspresi wajah suami akan mengopi ekspresi kebahagiaan istri.

Aktivitas mengopi ekspresi atau mirroring tersebut, dilakukan selama bertahun-tahun oleh pasangan suami-istri. Dampaknya, pola kerutan di wajah antara suami istri akan cenderung memiliki kesamaan. Dan semakin lama pernikahan, wajah suami-istri akan semakin mengalami kemiripan.

Mirroring untuk Mendidik Anak

Terapi mirroring ini dapat kita gunakan untuk membangun karakter anak didik. Karenanya, dalam mendidik anak, khususnya dalam sistem BCCT (Beyond Centers and Circle Time), guru dilarang melakukan 3 M (Marah, Menyuruh dan Melarang).

Kenapa demikian?

Karena ketika guru marah, akan terjadi aktivitas mirroring oleh guru kepada anak didik. Ada sebuah riset yang dilakukan oleh Lise Eliot dalam bukunya “What’s Going on in There?”, Lise menjelaskan eksprimennya dengan anaknya yang masih bayi.

Saat itu, anaknya yang masih bayi menendang-nendang hingga kabel-kabel yang diletakkan di kepala bayinya (untuk meneliti perkembangan otak anaknya) terlepas.

Lise Eliot secara spontan bersuara keras seperti orang marah, sehingga bayinya kaget dan ketakutan. Ketika bayinya merasa ketakutan itu, Lise Eliot menangkap bahwa ternyata ketika bayi itu melihat ekspresi kemarahan dengan suara keras, lapisan myelin yang ada di dalam otaknya menggelembung seperti balon, kemudian pecah.

Padahal, keberadaan lapisan myelin dalam otak sangatlah penting. Myelin adalah sejenis senyawa yang menyelubungi akson dan berfungsi mempercepat jalannya impuls, sehingga komunikasi antarsel otak berjalan lebih cepat.

Selain itu, myelin juga berperan dalam pembangunan serabut otak. Setiap satu lapisan myelin terbangun, muncul satu kemampuan pada anak. Jadi, kalau sejak kecil, anak sudah terbiasa dan sering dimarahi, bisa dibayangkan kerusakan yang terjadi pada myelin di otaknya.

Riset Mirroring

Untuk membuktikan lebih jauh, apakah wajah mampu merespon apa yang ia lihat, khususnya terkait ekspresi orang. Laboratorium neuroscience Stanford University melakukan percobaan terhadap sekelompok orang yang menggunakan botulinum toxin atau botox. botulinum toxin atau botox merupakan sebuah zat yang disuntikkan ke dalam wajah agar otot wajah lumpuh, sehingga dapat mengurangi kerutan.

Nah, ketika mirroring ini dilakukan kepada seseorang yang melakukan suntik botox ke wajahnya, efek mirroring menjadi turun. Karena, otot-otot wajah yang seharusnya bergerak sebagai bentuk respons atas ekspresi yang dilihatnya, menjadi melemah karena pengaruh botox.

Riset yang dilakukan pada kelompok pengguna botox, ditemukan sebuah fakta bahwa ketika mereka diminta untuk mendeskripsikan emosi dari wajah-wajah di foto yang ditunjukkan, mereka tampak kesulitan dibanding dengan orang-orang yang tidak menggunakan suntik botox.

Riset tersebut menyimpulkan bahwa ada penurunan kemampuan otot wajah orang-orang yang menggunakan suntik botox, karena sinyal-sinyal yang dikirim ke otak juga melemah. Dampaknya, otak tidak dapat mengolah sinyal tersebut untuk mendeskripsikan wajah orang yang dilihatnya.

Hal ini menjadi pelajaran yang penting bagi orang tua atau guru, bahwa otak akan mengolah data berdasarkan sinyal-sinyal yang diterima. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua dan guru untuk menggunakan ekspresi wajah sebagai bagian dari komunikasi, agar sinyal-sinyal tersebut dapat diterima dengan baik oleh anak. 

Jika dalam berkomunikasi, seorang guru atau orang tua seringkali marah, cemberut, dan emosi. Maka ekspresi wajah guru dan orang tua akan ditangkap dan diolah oleh otak anak, yang akan berdampak pada perkembangan lapisan myelin anak menjadi sebuah kemampuan baru.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: seberapa intens anak-anak melakukan mirroring dengan orang tuanya? Jangan-jangan anak-anak Anda lebih sering melakukan mirroring dengan pembantu atau babysitter Anda? Lantas apakah pembantu atau babysitter Anda di rumah memahami tentang terapi mirroring ini? 

Maka, tidak heran, jika ada seorang anak dari orang tua yang kaya dan terpelajar, tetapi pendidikan dan aktivitas mirroringnya lebih banyak dilakukan oleh seorang pembantu atau babysitter yang hanya lulusan SMA atau jangan-jangan SMA saja tidak lulus, ups.

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 523 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.