PERANAN MUHAMMADIYAH DALAM KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT

Oleh:

Sochibul Yanto

Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Malang

  1. Latar Belakang

Ekonomi merupakan istilah yang diambil dari kata oikos dan nomos yang berasal dari Bahasa Yunani. Kata oikos yang memiliki arti keluarga, rumah tangga sedangkan kata nomos memiliki arti peraturan, aturan, hukum. Sehingga dalam pengertian yang sederhana, ekonomi memili arti sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga. Ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang memiliki hubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, serta konsumsi barang dan jasa merupakan pengertian secara umum dari ekonomi.

Pada saat ini Indonesia memiliki kategori keadaan ekonomi yang stabil dibandingkan pada masa kolonialisme. Sejak tahun 1900 telah dicatat oleh berbagai sumber bahwa ekonomi Jawa secara umum dalam keadaan yang tidak baik[1]. Perubahan dan pembaharuan yang ada di Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi tidaklah lepas dari peran organisasi Islam yang berkembang dalam bidang keagamaan yang berkembang di kalangan masyarakat luas. Beberapa organisasi Islam yang berkembang di Indonesia yang memperhatikan permasalahan terkait tentang ekonomi Islam, keagamaan dan politik dari prasejarah hingga pembaharuan keislaman yang besar sekali dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat pribumi[2]. Organisasi Islam kemudian berkembang ke arah gerakan modernis yang digunakan sebagai kekuatan masyarakat Indonesia yang sedang bangkit dari tidur panjang selama tiga setengah abad di bawah kolonialisme, sejalan dengan logika modernisme secera akumulatif berkembang menjadi jaringan organisasi besar dengan amal usaha yang makin meningkat dalam jumlah dan ragamnya[3]. Salah satu organisasi yang berperan dalam perkembangan ekonomi di Indonesia yaitu Muhammadiyah. Organisasi Masyarakat Islam (Ormas Islam) tersebar di Indonesia yang dikenal diberbagai kalangan sebagai Muhammadiyah yang mana ribuan jaringan cabang serta ranting dimiliki oleh Muhammadiyah merupakan kekuatan utama yang memiliki potensi sukses dalam berkontribusi dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dana tau penguatan ekonomi masyarakat marjinal di Indonesia melalui pengelolaan ZIS berbasis ranting Muhammadiyah[4].

Dari latar belakang yang telah dijelaskan bahwa organisasi Islam, Muhammadiyah memiliki  peranan dalam perkembangan ekonomi di Indonesia sehingga dalam studi ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Muhammadiyah dalam kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia?

  1. Muhammadiyah Dalam Kehidupan Ekonomi Masyarakat

Dalam surah Al-Maun/107: 3 yang berbunyi:

 “wala yahuddu ‘ala tha’amil miskin…” (dan ia tidak menganjurkan memberi makan orang miskin).

dan dia tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin yang tidak mempunyai kecukupan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Bila dia enggan mendorong orang lain untuk memberi makan dan memperhatikan kesejahteraan anak yatim, bagaimana mungkin dia, dengan kekikiran dan kecintaannya pada harta, mendorong dirinya sendiri untuk berbuat demikian? Ayat tersebut memiliki arti yaitu Allah menegaskan lebih lanjut sifat pendusta itu, yaitu dia tidak mengajak orang lain untuk membantu dan memberi makan orang miskin. Bila tidak mau mengajak orang memberi makan dan membantu orang miskin berarti ia tidak melakukannya sama sekali. Berdasarkan keterangan di atas, bila seorang tidak sanggup membantu orang-orang miskin maka hendaklah ia menganjurkan orang lain agar melakukan usaha yang mulia itu.

Muhammadiyah sebenarnya tidak lepas dari persoalan ekonomi. Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang sosial-pendidikan dan praktek peribadatan saja, melainkan juga dalam bisnis dan pembiayaan[5]. KH. Ahmad Dahlan dan generasi awal Muhammadiyah melakukan pengentasan kaum mustadh’afin serta tidaklah berhenti pada aspek memberikan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan bagi mereka yang fakir dan miskin. Hal ini didukung oleh pendapat salah seorang Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang mana menyampaikan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan ekonomi harus mampu menggerakkan warga Muhammadiyah dalam mengemban amanah Allah yang menjadi tanggunggan dan kewajiban manusia dalam hidupnya di dunia ini[6].

Kegiatan ekonomi untuk memperkuat finansial bagi sebuah organisasi, seperti Muhammadiyah, pada hakikatnya merupakan bagian terpenting untuk memperlancar gerakan Muhammadiyah dalam mencapai tujuannya. Seperti dalam sebuah kutipan berikut ini yaitu “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” merupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Sebuah kesadaran yang ditekankan dalam nasehat bahwa warga Muhammadiyah harus sukses dunia, menjadi orang yang berkecukupan secara materi maka hal-hal tersebut memungkinkan dirinya bukan hanya aktif mengabdikan diri dan tenaganya bagi persyarikatan, melainkan para warga Muhammadiyah juga dapat memberikan kontribusi material atau mengorbankan harta bendanya bagi dakwah dan perjuangan Muhammadiyah. Hal tersebut memiliki pandangan yang sejalan dengan pidato KH. Ahmad Dahlan di dalam Kongres Umat Islam Pertama di Cirebon. Menurut beliau bahwa seorang pemimpin itu harus mampu memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi umatnya. Maka dari itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya dengan bermodalkan cerdas dan memiliki wawasan yang luas dalam keilmuannya, namun seorang pemimpin harus berkecukupan atau memiliki harta benda. Sehingga para pemimpin tersebut mampu memberikan penyadaran kepada umat sekaligus melakukan pemberdayaan dengan memberikan harta benda dalam rangka kecukupa hidup dan perbaikan kesejahteraan umat. Di samping itu, gerakan ekonomi persyarikatan Muhammadiyah juga akan berdampak pada pemberdayaan ekonomi warganya, dengan upaya menciptakan lapangan kerja dan mengatasi permasalahan pengangguran yang semakin besar, dan angka kemiskinan yang makin membengkak yang dapat mengancam eksistensi iman.

Muhammadiyah adalah organisasi yang tidak hanya bergerak dalam satu bidang saja, hal ini dapat terlihat dengan adanya ZIS (zakat, infaq, dan sodaqoh). Organisasi Masyarakat Islam (Ormas Islam) tersebar di Indonesia yang dikenal diberbagai kalangan sebagai Muhammadiyah yang mana ribuan jaringan cabang serta ranting dimiliki oleh Muhammadiyah merupakan kekuatan utama yang memiliki potensi sukses dalam berkontribusi dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dan atau penguatan ekonomi masyarakat marjinal di Indonesia melalui pengelolaan ZIS berbasis ranting Muhammadiyah[7]. Bidang Ekonomi yang membawahi ZIS ini sangat berguna dalam membantu kesejahteraan kehidupan anggota muhammadiyah dan umat. Dengan mengembangkan ekonomi itu, Muhammadiyah telah memiliki asset atau sumber daya yang bisa dijadikan modal dan pendanaan dalam menjalankan amal usaha yang lainnya. Untuk mencapai semua itu diperlukan usaha dan partisipasi dari warga Muhammadiyah dan bantuan dari pihak luar untuk mencapai visi dan misi dari Muhammadiyah tersebut.

Program pembinaan ekonomi umat merupakan kepedulian sejak lama, karena memang konsisten Muhammadiyah sejak dahulu wirausahawan reformis sejak lama dilakukan dengan penyusunan sebuah program yang didasarkan pada konsep misi dan misi tertentu. Pada dasarnya, Majelis Pembina Ekonomi membina ekonomi umat melalui tiga jalur, yaitu:

  1. Mengembangkan Badan Usaha Milik Muhammadiyah yang mempersentasikan kekuatan ekonomi organisasi Muhammadiyah.
  2. Mengembangkan wadah koperasi bagi anggota Muhammadiyah.
  3. Memberdayakan anggota Muhammadiyah di bidang ekonomi dengan mengembangkan usaha-usaha milik anggota Muhammadiyah.

Dengan mengembangkan ekonomi itu, Muhammadiyah telah memiliki aset atau sumber daya yang bisa dijadikan modal. Aset pertama adalah sumber daya manusia yaitu anggota Muhammadiyah sendiri, baik sebagai produsen. Kedua, kelembagaan amal usaha yang telah didirikan, yaitu berupa sekolah, universitas, lembaga latihan, poliklinik, rumah sakit dan panti asuhan yatim piatu. Ketiga, organisasi Muhammadiyah itu sendiri sejak dari pusat, wilayah daerah, cabang, dan ranting.

Gerakan ekonomi Muhammadiyah juga dapat disajikan antara lain dengan:

  1. Mendirikan koperasi di berbagai jajaran jenis koperasi sebagai sarana untuk melakukan perkuatan ekonomi ummat.
  2. Mendirikan Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) dalam berbagai bidang jasa, perdagangan, pariwisat, perkebunan, perikanan, dan lain-lain.
  3. Lembaga keuangan untuk mendukung usaha-usaha ummat yaitu Baitul Mal wa Tanwil (BMT), BPR Syariah, koperasi, dan lain-lain.
  4. Sharing dalam berbagai perusahaan yang bonafit dan kompetitif.
  5. Membangun jaringan informasi bisnis, seperti memberikan berbagai penjelasan informasi kepada warga Muhammadiyah tentang bagaimana bisnis obat, bahan tekstil, bahan kimia, rumah makan, dan lain-lain. Informasi ini juga meliputi bagaimana pandangan melakukan kegiatan produksi, pemasaran jaringannya, tata iaganya dan lain-lain.
  6. Membangun jaringan kerja sama bisnis dengan semua pengusaha dan koperasi Muhammdiyah untuk saling membantu baik dari segi informasi, kiat bisnis maupun pendanaan.

 

  1. Penutup

            Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki peranan dalam bidang ekonomi yang mana kekuatan utama adalah Muhammadiyah memiliki ribuan cabang dan ranting yang memiliki potensi sukses dalam berkontribusi dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dan atau penguatan ekonomi masyarakat marjinal di Indonesia melalui pengelolaan ZIS (zakat, infaq dan sodaqoh) berbasis ranting Muhammadiyah.

[1] Zakaria, M. M. (2011). Dinamika Sosial Ekonomi Priangan Abad ke-19. Sosiohumaniora, 13(1), 96–107.

[2] Rambe, R., Asmuni, & Yafiz, M. (2018). Gerakan Ekonomi Islam di Indonesia Pada Era Pra Kemerdekaan. EDU RILIGIA, 2(1), 10–21.

[3] Rambe, R., Asmuni, & Yafiz, M. (2018). Gerakan Ekonomi Islam di Indonesia Pada Era Pra Kemerdekaan. EDU RILIGIA, 2(1), 10–21.

[4] Ibrahim, I., & Mintasrihardi, M. (2020). Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Amal Usaha Muhammadiyah Di Sumbawa Barat. Jurnal Geografi, 12(02), 152. https://doi.org/10.24114/jg.v12i02.17734

[5] Setyawan, D. (2013). Analisis Hubungan Ijtihad dan Tajdid Pemikiran Ekonomi Terhadap (Studi kasus Pada Amal Usaha Organisasi Masyarakat Muhammadiyah). Jurnal Ekonomi Islam, 2(1), 105–134.

[6] Setyawan, D. (2013). Analisis Hubungan Ijtihad dan Tajdid Pemikiran Ekonomi Terhadap (Studi kasus Pada Amal Usaha Organisasi Masyarakat Muhammadiyah). Jurnal Ekonomi Islam, 2(1), 105–134.

[7] Ibrahim, I., & Mintasrihardi, M. (2020). Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Amal Usaha Muhammadiyah Di Sumbawa Barat. Jurnal Geografi, 12(02), 152. https://doi.org/10.24114/jg.v12i02.17734

Rumah Pendidikan
About Rumah Pendidikan 535 Articles
RAPIDO adalah Rumah Pendidikan Indonesia. Website ini adalah rumah bagi seluruh masalah pendidikan di Indonesia untuk didialogkan dan didiskusikan. Karenanya website ini bukan hanya media guru dalam mengaspirasikan permasalahannya, akan tetapi media bagi pemegang kebijakan (pemerintah) dalam mengambil setiap kebijakannya.